24 May 2009

Bedah Buku di Untirta # 3 : Menuju Cilegon

Bedah Buku di Untirta --Sesuai rencana, selesai acara di kampus Untirta Serang, bedah buku dilanjutkan ke kampus Cilegon.

Tapi sebelumnya, "Makan dulu ya, Bu. Makanan khas Serang," kata Agung.

"Nasi Sumsum!" sambarku cepat. Hwahaha......

Sayangnya nasi sumsum baru ada malam hari. Padahal aku udah lama penasaran dengan makanan yang satu ini. tapi yawdah, nggak apa-apa. apa aja oke lah. Asalkan nggak pedas (perut nggak kuat), nggak pake udang (ntar alergi bisa kumat, karena lagi dalam perjalanan dan rentan capek yang bikin kondisi nggak fit....).


Begitu mau berangkat... breees...! Hujan turun dengan sangat-sangat deras. Untungnya panitia dipinjemin mobil sama Purek III (Waduuuh... terima kasih sekali, Pak.).


Masuk Cilegon... ups! Kering kerontang. Panas. Nggak ada tanda-tanda abis hujan.

Makan siang di... apa ya namanya. Ada Ibu Dede-nya gitu, deh. Nggak jauhlah dari kampus Untirta Cilegon. Makanan di sini serba bertulang lunak. Hm... bagus untuk asupan kalsium, nih.

Aku pesan ayam kalasan tulang lunak. Anggi dan Maya pesan ayam bakar tulang lunak. Nggak tau kalo Agung, soalnya dia berada di meja yang berbeda. Yang pasti nggak cuma pesan tulangnya.

Hm... enak nih. Kombinasi yang tepat antara ayam tulang lunak yang emang lunak, perut yang lapar karena belum sempat sarapan dari Bandung dini hari tadi, dan gratisan. Hwehehe....

Eh, ternyata Maya suka makanan yang rada gosong. Kenapa jadi mengingatkanku pada seseorang ya? Hm... Reza di novelku Men Not Allowed.

Jam 13.20 Agung mulai ribut. "Ayo, kita ke FT. Udah ditungguin. Acaranya mulai jam satu."

Satu tepat atau satu lewat 59 menit? :D



Baca Juga

Bedah Buku di Untirta 1: Perjalanan
Bedah Buku di Untirta 2: Tajir Selagi Muda
Bedah Buku di Untirta 4: Menjemput Risalah-Mu

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...