28 November 2009

[Buku Saya Diresensi] Bodyguard Bawel

RESENSI: Bodyguard Bawel
Oleh : Resti Nurfaidah, S.s. | 25-Aug-2009, 16:19:15 WIB

Judul: Bodyguard Bawel
Penulis : Triani Retno A.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 184 halaman
Cetakan: April 2009 

KabarIndonesia - Bodyguard Bawel (BB) dapat dikatakan novel konyol yang isinya sebagian konyol dan sebagian nonkonyol. Mengapa demikian? Novel ini dikatakan konyol terutama pada karakter-karakter yang ditampilkan di dalamnya. Novel ini menampilkan gaya hidup remaja yang bebas, ceria, penuh ekspresi, dan memorable.            
    


Novel ini menyampaikan persahabatan dan pertemanan yang indah, sekaligus permusuhan dan percintaan yang tidak indah. 


Persahabatan di antara tokoh utama, Lea, Yola, dan Yugi sangat indah. Perbedaan karakter ketiganya justru menjadi bumbu yang mempererat persahabatan.

Lea dan Yogi yang bawel serta Yola yang lebih pendiam tidak menghalangi perjalanan pertemanan mereka. Lea merupakan gadis yang setiap saat bersedia menjadi pahlawan demi kelancaran urusan teman-temannya, termasuk saat Yola membutuhkan kehadiran Adit menjelang acara lomba lukis anak di sekolah, atau ketika ibunya Gilang mengalami pencopetan di sebuah mal. Yogi merupakan tipe best boyfriend yang selalu siap menampung curhat teman-temannya sekaligus bertindak sebagai konsultan curhat yang handal.

Ia mampu memberikan nasihat solusi yang dapat menentramkan hati temannya. Yola merupakan tipe gadis yang memerlukan bantuan sahabatnya. Ia selalu mengandalkan saran dan bantuan dari temannya. Kerja sama ketiga sahabat karib  itu membuahkan hasil. Adit, ketua panitia lomba lukis anak akhirnya bisa kembali ke sekolah, lomba tersebut berjalan dengan sukses, dan Lea kembali menemukan jati dirinya.            
    
Namun, kesuksesan tidak selamanya memayungi kehidupan mereka. Lea dan Yugi sebenarnya telah lama menemukan persamaan di antara mereka. Namun, entah apa yang selalu menghalangi langkah mereka hingga persamaan itu hanya menjadi tangga pertemanan mereka saja. Anehnya, hal itu tidak pernah menghalangi kebersamaan keduanya, meskipun Yogi telah memiliki seorang teman dekat bernama Kenny. Kehadiran Kenny tidak pernah menjadi ganjalan di hati Lea dan Yogi. Kenny sendiri telah mendeteksi bahwa sebenarnya Lea dan Yogi telah lama saling mencintai, tetapi pilihan terakhir Yogi adalah dirinya. Ia menyadari bahwa kedekatan Lea dan Yogi terutama karena mereka bersekolah di tempat yang sama. Dengan keyakinan itu, Kenny tidak pernah menaruh rasa cemburu kepada Yogi dan Lea.

“Mungkin … Lea pernah diam-diam suka sama Ugi. Atau mungkin Ugi yang pernah diam-diam suka sama Lea.” Lea dan Yugi berpandangan. Sejenak Lea merasa bersalah.“Tapi aku percaya itu nggak berlanjut. Buktinya  …,” Kenny diam sejenak. “Buktinya Ugi milih aku.” (BB, 2009:147)
           
Kisah cinta tidak selamanya berakhir indah. Harapan setinggi langit tidak selalu sesuai dengan fakta. Begitulah yang dialami oleh Lea. Yogi berharap agar Lea mau menjadi kekasih Adit. Yogi telah dapat mendeteksi perubahan dalam diri Adit setelah bertemu dengan Lea.

Namun, Lea kurang menaruh perhatian pada cowok yang dilanda kurang kasih sayang orang tua dan frustasi itu. Perhatian Lea lebih tercurah kepada Gilang, teman satu sekolahnya yang ibunya pernah dibantunya ketika mengalami pencopetan di sebuah mal. Rupanya perhatian Lea pada Gilang tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, Gilang bukan tipe seorang pahlawan yang akan teguh memperjuangkan cita-citanya. Kepribadian Gilang mudah rapuh. Hal itu terbukti saat ia kehilangan kekagumannya kepada Lea saat membantu ibunya di mal.

Ia memandang Lea sebagai gadis yang sangat mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan seorang laki-laki. Gilang tidak bisa menerima hal itu dari Lea. Ketika Lea berusaha untuk menikmati musik klasik kesayangan Gilang, Gilang adalah pianis handal yang sudah dihujani beberapa prestasi, pemuda itu justru kehilangan jatidiri Lea yang sebenarnya sempat ia sukai. Sayangnya, Gilang tidak pernah dikaruniai keberanian untuk menyampaikan hal itu kepada Lea. Ketika Gilang menyampaikan tepat pada akhir kebersamaan mereka, Lea merasakan kata-kata pemuda impiannya itu bagaikan sebuah samurai menusuk ulu hatinya. Lea merasakan dunia impiannya runtuh seketika. Lea yang biasanya selalu menyenangkan dan menenangkan gundah orang lain kini tidak mampu mengobati lukanya sendiri. Bantuan dari Yogi itulah yang akhirnya mampu menenangkan hati Lea.

“Dia terlalu sibuk. Dia terlalu … hm … dia wonder woman…. Dia … ah … kayaknya dia udah nggak butuh bantuan orang lain. Justru orang lain yang selalu butuh bantuan dia.” (BB, 2009:168)

Novel ini selain menunjukkan kekonyolan karakternya, juga menunjukkan hal yang nonkonyol.  Banyak makna kehidupan yang dapat kita petik dalam novel ini, di antaranya arti tentang sebuah perbedaan, mimpi tidak selamanya indah, anjuran untuk tetap tegar seperti batu karang menghadang gerusan ombak di lautan. Makna tentang sebuah perbedaan Lea dapatkan dari calon pamannya, Om Dodit. Dari lelaki yang penuh pengertian itu, Lea mendapatkan bahwa rasa hormat yang tinggi dapat menjembatani perbedaan dua karakter. Pengandaian yang disampaikan Om Dodit mampu membuka hati Lea terhadap makna toleransi dan kesabaran.

“Bagi Om dan Witri, matematika seperti itu nggak ada. Matematika seperti itu nggak rasional. Yang ada adalah setengah ditambah setengah sama dengan satu. Setengah diri kita melakukan penyesuaian dengan pasangan kita. Tapi, yang setengah lagi tetap menjadi diri kita sendiri. Kalau Witri juga nggak masalah kalau Om tetap suka otomotif. Om juga nggak akan memaksa Witri untuk suka otomotif,” jelas Om Dodit. (BB, 2009:142)

Sementara itu, hakikat mimpi tidak selamanya indah Lea dapatkan dari Yogi ketika ia dihadang rasa sedih dan kecewa yang sangat dalam setelah menyadari bahwa pangeran impiannya tidak mampu memenuhi mimpinya itu. Gilang mengundurkan diri sebelum berusaha mendekati dirinya dan hanya menganggapnya sebagai teman yang baik. Yogi menyampaikan bahwa pertemanan yang dipilih Gilang mungkin akan memberikan nuansa yang lebih indah kepada Lea, seperti yang dialami oleh Yogi sendiri. Lea diingatkan oleh Yogi bahwa masa depan Lea tidak berakhir hanya pada Gilang semata. Namun, masih ada pangeran lain yang menanti Lea pada masa mendatang.

“Maksudku gini lho Le … tanpa Gilang hidup masih terus dan masih harus berjalan. Langit juga masih biru. Air juga masih mencari tempat yang lebih rendah. Gravitasi bumi masih berlaku. Bunga-bunga juga masih mekar tanpa harus menunggu senyum Gilang yang kamu bilang senyum  paling manis di dunia. Nggak ada yang berubah kan, Le? Semua masih berjalan seperti biasa.” (BB, 2009:176)

Terakhir, hakikat untuk setegar batu karang didapatkan Lea dari Tante Witri, adik ibunya, yang selalu menjadi keranjang curhat yang nyaman buat dirinya. Makna tegar Lea dapatkan ketika ia sedang dihadang gosip tak sedap yang mencemarkan dirinya di lingkungan sekolah. Beruntung teman-teman dekatnya termasuk, Kenny—kekasih Yogi, tidak tergiur gosip tak sedap itu. Tanpa sengaja Kenny dan Yogi berhasil memecahkan penyebar gosip itu. Rupanya malaikat penyebar gosip itu adalah teman satu sekolah Lea dan Yogi yang tidak suka terhadap kesuksesan Lea dalam pergaulan di lingkungan sekolah elit itu terutama dengan cowok-cowok papan atas di tempat itu.

“Ya hebat dong. Cuma orang hebat yang digosipin. Cuma orang yang punya kelebihan yang disirikin orang lain. Kalo orang yang nggak punya kelebihan apa-apa, nggak punya keistimewaan … ngapain juga digosipin? Nggak sensasional. Misalnya nih. Kasus kawin-cerainya selebriti heboh dibicarain. Malah waktu sidang perceraiannya Ariel Peterpan, banyak anak-anak dan ibu-ibu yang demo, minta supaya Ariel nggak jadi cerai. Padahal cerai atau tidaknya si Ariel itu kan nggak bakal berpengaruh pada kehidupan anak-anak dan ibu-ibu yang demo itu. Ariel cerai atau nggak, harga BBM dan sembako tetap naik.” (BB, 2009:158)
    
Sosok Lea merupakan sosok manusia pada umumnya yang tidak dapat terhindar dari flluktuasi garis kehidupan. Ada kalanya ia berada di puncak ketstabilan emosi, tetapi di sisi lain ia akan meluncur tajam ke kedalaman samudera ketidakstabilan emosi yang tidak terduga. Manusia memang tidak pernah sempurna. Ia rentan terhadap segala kelemahan  dan kesalahan. Sebagai remaja yang cenderung rentan dan tipis pengalaman, Lea sempat terhanyut impian pada Gilang, tetapi ia tidak melihat sosok lain yang lebih membutuhkan perhatiannya, Adit.

Itulah remaja masa kini yang tengah digonjang-ganjing identitas. Ia ingin menjadi diri sendiri, tetapi ia tidak dapat melakukannya sendiri. Bantuan dari orang-orang terdekat sangat penting, terutama dari kalangan keluarga. Kestabilan emosi seorang remaja sebenarnya dapat dipupuk sejak dini, terutama dari keteladanan orang-orang terdekat dalam lingkungan yang terdekat pula. Siiip, Mbak Triani, novelnya pantas jadi santapan wajib kaum remaja yang cenderung terkena dampak global dan kehilangan identitas diri.   (*)



Link Asal
Novel saya ini diresensi oleh Resti Nurfaidah di www.kabarindonesia.com. Saya kopas di sini sekadar untuk dokumentasi bagi saya. Terima kasih sudah meresensi novel saya ini, yaaa :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...