03 August 2012

Jadi Penulis Jangan Malas!





Apa hubungan antara penulis dan membaca? Ternyata macam-macam. Ada yang tadinya rajin baca tapi jadi malas baca setelah jadi penulis. Ada yang tadinya malas baca malah jadi makin malas baca setelah jadi penulis. Ada yang tadinya rajin baca justru makin rajin baca setelah jadi penulis. Ada yang merasa cukup hanya dengan membaca situasi, tanda-tanda alam, dan yang sejenis itu.
                                             
Prihatin, jadinya. Penulis seharusnya rajin membaca teks tertulis. Bagi saya, ada beberapa alasan untuk ini.
1. Kalau baca aja malas, gimana mau nulis?

2. Membaca membuka wawasan dan pengalaman. Usia kita terlalu singkat untuk bisa mengalami sendiri segala hal. Sudah ada orang yang berbaik hati berbagi pengalamannya melalui buku, mengapa tidak dibaca?



3. Kalau dia sendiri nggak suka membaca teks tertulis, kenapa dia berharap orang lain akan membaca tulisannya?

 

Harus Niat Menulis, Bukan Cuma Ingin

Bagaimana dengan calon penulis seperti ini: Ingin sekali cerpen-cerpennya dimuat di majalah. Ingin sekali novelnya diterbitkan oleh penerbit besar. TAPI....
  • Tidak pernah membaca majalah apa pun walau hanya satu kali. Tidak pernah tahu tentang majalah-majalah yang beredar di pasaran, padahal kios majalah kan ada di mana-mana. 
  • Tidak pernah ke toko buku, tidak pernah mencari tahu secara online (padahal Om Google udah baik banget), tidak pernah ingin tahu tentang apa saja penerbit yang eksis.
Baca Juga: 15 Ide Promosi Buku

Kok saya jadi agak ragu dengan kesungguhannya dalam menulis, ya? Jangan-jangan cuma "ingin" di mulut, tidak sampai ke niat yang sungguh-sungguh.

Pernah ada yang bertanya, "Mbak bagusnya kirim cerpen ke majalah mana, ya?"


Sebelum menjawab, saya tanya dulu, "Cerpennya seperti apa?" 

"Cerpen remaja, Mbak."

"Hm... coba kirim ke Kawanku. Ini segmennya remaja belasan tahun."

"Majalah Kawanku, Mbak? Memangnya ada rubrik cerpen, ya?"

Gubrak!

"Majalah apa lagi, Mbak?"
"Coba majalah Gadis."
"Majalah Gadis tuh apaan, Mbak?"

Gubrak lagi!

"Apa lagi, Mbak?"
"Majalah Aneka."
"Oh... ada ya majalah Aneka? Itu bukannya majalah masakan, Mbak?"

Hwaduuuh...!

Ini orang sebenernya niat nggak, sih, mau ngirim cerpennya? Kalau tinggalnya di pedalaman antah berantah dan sama sekali nggak ada toko buku atau akses internet, mungkin wajar kalau tidak mengenal majalah-majalah tersebut. Tapi kalau tinggal di tengah kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya?


Kalau mau jadi penulis, JANGAN MALAS MEMBACA dan MENCARI INFO. Nggak perlu nyewa detektif untuk nyari informasi, kok. Cukup baca buku 25 Curhat Calon Penulis. Hehehe...

Semangat, ah!

 ***

Catatan
Pindahan dari www.terasretno.multiply.com. Kuposting di sana Desember 2009.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...