29 March 2014

Ngintip Isi novel LIMIT



Gramedia Sun Plaza Medan.
Foto: Eka Natassa S

PROLOG


Keala berjalan di sebuah lorong gelap, dengan sedikit cahaya dan kabut di sekelilingnya suara-suara bersahutan memanggilnya. 
Dari kejauhan Keala melihat seseorang di ujung lorong, sesosok laki-laki yang sedang  berdiri tegak. Keala tidak bisa melihat jelas siapa sosok itu, kabut tebal menutupi pandangannya.  Perlahan-lahan langkah Keala hampir mendekati sosok itu. Namun, kabut semakin tebal menutupi pandangannya, gelap total. Di sekelilingnya suara-suara itu tidak berhenti memanggil Keala.  Semakin lama semakin keras, bersahutan.

“Keala….”
“Keala….”
Keala membuka mata, terbangun dengan keringat membasahi badannya. Kepalanya bagaikan ditusuk ribuan jarum.



Welcome to SMA 79

Wajah Keala pucat pasi ketika menerima kertas ulangan Akuntansi-nya pekan lalu. Angka 30 tertera sangat jelas di sana. Berwarna merah dan dilingkari.
“Ya Tuhaaan …. Tiga puluuuh?” desis Keala. Tubuh Keala mendadak terasa dingin, seolah tak ada lagi darah yang mengalir di tubuhnya. Angka 30 yang tertera di kertas itu terlihat seperti hantu baginya. Sangat mengerikan.
Ia berjalan lunglai ke bangkunya di bagian tengah kelas.
“Dapat berapa?” tanya Ninna.




Keala tak menjawab pertanyaan teman sebangkunya. Ia melipat kertas ulangannya itu lalu memasukkannya ke saku rok. Meski begitu, wajah pucat dan murung Keala cukup untuk memberi gambaran pada Ninna.



Ninna tersenyum riang. “Kalau dapat di bawah lima puluh, kalem aja, Kea. Kalo dapat di bawah nol, baru boleh stres.”

“Memangnya di sekolah kita ini ada guru yang ngasih nilai di bawah nol, Nin?” tanya Keala pelan. Ngeri sekali membayangkan kemungkinan itu benar-benar ada. Nilai minus dua puluh, misalnya. Ya ampun! Demi apa pun, itu benar-benar menyeramkan.

Ya nggak ada lah, Kea…,” sahut Ninna tergelak melihat ekspresi ngeri di wajah Keala.

Keala menatap sebal pada teman sebangkunya itu. Ia tak mengerti kenapa bisa-bisanya Ninna menganggap nilai ulangan Akuntansi di bawah lima puluh itu biasa-biasa aja dan harus disikapi dengan kalem. Apa karena Ninna mendapat nilai bagus? Delapan puluh? Sembilan puluh? Atau malah seratus seperti Kevin? Tadi Keala sempat melihat angka seratus itu tertera gagah di kertas jawaban Kevin.

Keala ingin menanyakan sesuatu. Namun, ia urung bertanya karena Pak Edwin telah memulai pelajaran Akuntansi, membahas soal ulangan kemarin.
Kelas hening. Hanya suara Pak Edwin yang terdengar.

Keala berusaha memusatkan konsentrasinya. Akan tetapi, penjelasan Pak Edwin hanya sebagian saja menyangkut di otaknya. Berkelebat masuk, lalu keluar dan menghilang begitu saja.

Diam-diam Keala memperhatikan sekelilingnya. Semua terlihat sangat serius. Ia kembali memperhatikan Pak Edwin. Angka-angka rupiah yang ditulis di papan tulis mendadak ber-Harlem Shake dalam pandangannya. Joget-joget nggak jelas juntrungannya. Kepala Keala sakit, sekilas teringat lagi lorong gelap yang ia lalui dalam mimpinya semalam dan sepintas terdengar suara-suara lirih memanggilnya, “Keala….”

LIMIT di rak Best Novel Gramedia MM Bekasi, Maret 2014 (foto: Nando)



Baca Juga


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...