30 March 2014

Peduli Lingkungan Dimulai dari Diri Sendiri


Peduli Lingkungan Dimulai dari Diri Sendiri -- Masih ingat dengan peristiwa longsornya TPA Leuwigajah di Bandung pada bulan Februari 2005?

Sudah sembilan tahun peristiwa yang merenggut ratusan jiwa manusia tersebut berlalu. Namun, persoalan sampah tak serta-merta berlalu dari keseharian kita. Sampah masih menjadi masih lingkungan. Kita seperti terkena amnesia. kita lupa bagaimana tumpukan sampah itu menelan jiwa manusia. Lebih parah lagi, kita seperti tak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. 


Sampah menumpuk di tempat-tempat penampungan sampah sementara, di permukiman warga, di pasar-pasar tradisional, dan di pinggir-pinggir jalan raya. Kualitas lingkungan pun menurun. Udara berbau busuk menguar, air tanah tercemar, lalat beterbangan ke mana-mana, belatung bermunculan, ancaman penyakit pun  mengintai.

Di blognya, Inna Savova, seorang blogger asal Bulgaria yang kini menetap di Bandung bahkan menyebut Kota Kembang ini sebagai The City of Pigs. 

Sebagai warga Bandung, komentar itu cukup membuat wajah saya merah. Bukan karena marah, melainkan malu. Tulisannya di blog itu memang pedas, tetapi benar. Lihatlah foto ini.


Tempat sampah yang menyampah di Jl. Surapati, Bandung
(Foto: dokumentasi pribadi)
Tempat-tempat sampah telah disediakan di berbagai penjuru kota. Namun, tanpa kesadaran dari masing-masing individu, sampah tetap akan menjadi masalah lingkungan. Bukan hanya sampahnya yang berserakan ke mana-mana, besi tempat sampahnya pun sering hilang diambil si tangan jahil. 
Sekarang Bandung memang dipimpin oleh wali kota yang peduli pada masalah lingkungan hidup. Namun, kepedulian beliau tersebut perlu didukung oleh semua warga. Berikut beberapa aksi pro-lingkungan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil:
  • Makanan dan minuman untuk konsumsi rapat tidak lagi disajikan dalam dus dan botol minuman, tetapi dihidangkan di piring dan gelas. (Mengurangi sampah plastik dan kertas.)
  • Bus gratis untuk pelajar yang berseragam pada hari Senin dan Kamis, serta Program Jumat Bersepeda. (Mengurangi kemacetan lalu lintas, polusi, dan penggunaan bahan bakar minyak.)
  • Pembuatan lubang-lubang biopori. (Menjaga ketersediaan air bersih, mengurangi risiko banjir, mengubah sampah organik menjadi pupuk hingga tanah pun menjadi lebih subur.)


Kurangi Sampah Plastik 


Meskipun telah membayar retribusi, bukan berarti warga dapat berlepas tangan begitu saja dari masalah kebersihan lingkungan. Tumpukan sampah itu terjadi karena banyaknya sampah yang dihasilkan oleh warga. Dalam berita yang dilansir oleh http://fokusjabar.com tanggal 6 November 2012, Cece H. Iskandar (Dirut PD Kebersihan Kota Bandung) menyebutkan bahwa kota Bandung memproduksi sampah sebanyak hampir 11 ton per hari. Dari jumlah itu, 65% nya berupa sampah anorganik. 11,6% sampah anorganik itu adalah sampah plastik.

Plastik merupakan salah satu jenis sampah yang sulit diurai. Alam membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menguraikan plastik, padahal setiap hari manusia menghasilkan sampah plastik. Jika hal ini terus berlangsung, betapa penuhnya bumi ini dengan sampah plastik. 

Salah satu cara sederhana untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan tidak menggunakan kantung plastik (tas kresek) ketika berbelanja.

Sebenarnya, pada tanggal 28 Oktober 2010, Walikota Bandung (ketika itu dijabat oleh Dada Rosada) telah mengeluarkan surat edaran No. 660.2/SE.128-BPLH tentang Himbauan Untuk Mengurangi Penggunaan Kantong Plastik Yang Tidak Ramah Lingkungan.

Surat imbauan ini ditujukan kepada para pelaku usaha agar mengurangi penggunaan kantung plastik yang sulit diuraikan dan menggantinya dengan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Namun, agaknya imbauan ini kurang tersosialisasi--apalagi diterapkan--dengan baik.

Dulu, ibu-ibu biasa membawa keranjang jika berbelanja ke pasar. Sekarang, membawa keranjang ketika berbelanja mungkin dianggap kurang keren dan merepotkan. Namun, itu bukan alasan untuk membenarkan penggunaan tas kresek. Kantung atau tas yang terbuat dari kain dapat dijadikan pilihan. Tak repot membawanya. Pilihan warna, ukuran, motif, dan modelnya pun beragam.
 
Tas kain dan spunbond aneka warna dan ukuran.
Bisa di-matching-kan dengan pakaian yang dikenakan, lho.
Selain itu, lebih ramah lingkungan dibandingkan menggunakan tas plastik
(Foto: dokumentasi pribadi)
Biasakanlah membawa tas seperti ini ketika berbelanja ke pasar, toko, minimarket, atau supermarket. Ketika akan membayar, sodorkan tas kain itu dan tolaklah penggunaan tas kresek. Jadilah green shopper yang meminimalkan produksi sampah plastik.

Usaha yang dilakukan oleh pemerintah dan organisasi-organisasi yang peduli lingkungan seperti WWF (World Wide Fund for Nature) tidak akan maksimal jika tidak didukung oleh semua anggota masyarakat. Kepedulian pada lingkungan hidup dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan dilakukan saat ini juga karena bumi kita tak bisa menunggu terlalu lama.

*** 
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog "Blogger Peduli Lingkungan".

 

Bahan Bacaan
  • http://news.detik.com/bandung/read/2014/02/05/073744/2487504/486/bandung-dijuluki-the-city-of-pigs-ridwan-kamil-kita-harus-introspeksi?nd771104bcj 
  • http://mjayus.blogspot.com/p/manfaat-lubang-resapan-biopori.html

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...