12 April 2014

[Buku Saya Diresensi] Braga Siang Itu



Peresensi: Atria Dewi Sartika


Tatapan Ben menyusuri wajah lembut Fei, mencoba mencari sorot mata gadis berkulit kuning langsat itu. Namun Fei tampak lebih tertarik memperhatikan awan.
“Tak apa?” tanya Ben lagi, menegaskan.
“Kalau kamu yakin itu yang terbaik, pergilah,” kata Fei datar.
“Terima kasih, Fei.”
Fei mengangguk. Khayalnya mengembara ke sebuah negeri di balik awan.

 “Braga Siang Itu” merupakan kumcer yang terdiri dari lima belas cerpen. Kelima belas cerpen ini berfokus pada perempuan. Konflik yang diangkat dalam cerpen-cerpen ini dikemas dengan apik dan menarik oleh Triani Retno A. Cerpen-cerpennya banyak menghiasi media cetak nasional maupun lokal.
***

Buku Braga Siang Itu adalah kumpulan cerpen karya Triani Retno A yang dibukukan. Sejumlah cerpen yang ada di dalam buku ini sudah pernah diterbitkan di berbagai media massa. Total cerpen yang ada di “Braga Siang Itu” adalah sebanyak 15 cerpen dengan tema yang beragam.



Cerita pertama berkisah tentang sosok anak kecil di pasar yang bernama Rahmi. Ia bekerja mengangkatkan barang-barang di pasar. Tokoh “aku” dalam cerita ini menyimpan kekaguman pada sikap santun Rahmi dan penasaran terhadap ibunda Rahmi yang berhasil mendidik anak tersebut hingga baik perangainya padahal anak itu hidup di pasar.
Setiap cerita di dalam buku ini selalu punya pesan moral yang kuat. Dan benar-benar mengusung tema yang sangat mudah kita temukan di sekitar kita. Mulai dari cerita anak-anak pasar, cerita mitos-mitos tentang kepercayaan bahwa jika kita bermimpi salah satu gigi kita tanggal, berarti salah satu anggota keluarga akan ada yang meninggal, sampai cerita tentang tanaman Sansevieria yang lazim disebut lidah mertua.

Cerpen-cerpen di buku ini sangat kental dengan suasana kota Bandung. Tidak hanya judul buku yang mengusung nama salah satu jalan paling terkenal di Bandung, Jl. Braga, tapi juga ada kalimat-kalimat dalam bahasa Sunda yang akan cukup sering terdengar jika berdiam cukup lama di Bandung.
***
Salah satu cerpen favorit saya dalam buku ini adalah yang berjudul “Gigi”. Saya sudah sering mendengar mitos tentang arti-arti mimpi. Salah satunya saat bermimpi salah satu gigi kita tanggal itu berarti akan ada keluarga yang meninggal. Cerpen ini mengangkat cerita tentang mitos tersebut. Namun akhir cerpen ini benar-benar sukses bikin saya nyengir lebar saat membacanya. Ha..ha.. Mimpi tokoh “Al” bahwa seluruh gigi depannya copot kontan membuatnya cemas setengah mati. Dan ternyata itu berarti?? Ah, baca sendiri saja lanjutannya.
Buku “Braga Siang Itu” saya peroleh langsung dari penulisnya Mbak Retno. Tapi ini tidak membuat review saya menjadi tidak fair. Saya menyukai hampir semua cerita di dalam buku. Dan sejujurnya cerpen berjudul “Braga Siang Itu” malah yang kurang memberi kesan bagi saya. Begitu pun cerpen yang berjudul “Surat Untuk Presiden”. Mungkin karena dalam kedua cerpen ini tidak ada bagian yang mempengaruhi emosi saya baik untuk kesal, bersedih, tertawa, atau menangis. Dua cerpen ini cukup datar dan lebih cenderung seperti digurui (>_<). 

Begitupun dalam cerpen “Suara”, dimensi politiknya mungkin terasa asing bagi saya yang sudah tidak tertarik lagi pada dunia politik serta semua hiruk-pikuk yang mewarnainya. Sehingga membaca cerpen ini pun tidak lagi membuat saya mengantisipasi apa-pun.

Sedangkan cerita-cerita yang lain terasa lebih membekas karena saya berhasil merasakan kekesalan seperti dalam cerpen Saat Malin Bertanya, serta cerpen Merajut Hari. Tema kedua cerpen tersebut sama, yakni menggugat tentang kedurhakaan. Apakah hanya seorang anak yang bisa durhaka? Tidak adakah orang tua yang durhaka?

Oiya, untuk cerpen "Braga Siang Itu" berlatarkan jalan Braga. Dan dari cerpen ini kita bisa tahu lebih banyak tentang sejarah jalan Braga. Tentang asal nama jalan Braga yang sampai sekarang masih belum pasti sumbernya. Katanya, kata "Braga" diambil dari bahasa Sunda yakni "Ngabaraga" yang berarti menyusuri sungai. Ini karena di dekat Braga mengalir Sungai Ci Kapundung. Ups..sepertinya saya membocorkan beberapa info penting (>_<)

Setiap cerpen dalam buku ini selalu punya pesan moral dan mengangkat realitas dalam masyarakat kita. Seperti dalam cerpen Sarapan yang juga menjadi salah satu favorit saya. Cerpen ini mengangkat tentang berita-berita di televisa dan hubungannya dengan tumbuh kembang anak. Cerpen ini juga mengangkat tentang perlunya orang tua untuk bersikap bijak dalam menghadapi pemberitaan di televisi yang bisa memberi impact buru bagi anak. Tentang orang yang harus semakin cerdas dan taktis menjawab pertanyaan anak-anak yang semakin kritis. 

Jadi, jika harus menyematkan bintang untuk novel ini, maka saya memberinya 3,5 bintang. Covernya masih kurang menarik perhatian. Selain itu layout untuk bagian "Daftar Isi" saya rasa agak mengganggu karena dihalaman berikutnya daftar cerpennya terlalu sedikit. Bagaimana kalau Daftar Isi dibuat menjadi satu halaman saya? Hm... Kalau dari segi isi? Saya suka dengan cerita-cerita yang punya pesan moral.

Oiya, menurut saya, buku ini lebih cocok dibaca oleh New Adult, yakni anak kuliahan atau yang lebih tua. Sebab untuk remaja, gaya bahasa dan tema-nya mungkin tidak begitu menarik bagi mereka. Selain itu tokoh dan konfliknya memang lebih cocok untuk dewasa.
***

Link Asal

Buku saya ini diresensi oleh Atria di blog My Little Library. Saya kopas ke sini sekadar untuk dokumentasi saya. Terima kasih sudah meresensi buku saya, ya. :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...