13 April 2014

[Buku Saya Diresensi] Braga Siang Itu

Persensi: Beta Widias

Cover "Braga Siang Itu" sumber : andipublisher.com
    Cover buku Kumcer ini sangat Braga. Terlihat dari foto dua pasang kaki bersepatu wanita dan pria yang sedang menjejakkan kaki di trotoar jalan Braga, Bandung. Judul Kumcer ini diambil dari salah satu judul cerpen yang ada di dalamnya.

    Cerpen “Braga Siang Itu” di halaman 14, menyuguhkan kenangan pasangan kekasih bernama Fei dan Ben serta peristiwa kerusuhan Mei 1998. Mereka memiliki kenangan di jalan Braga hingga akhirnya kenangan itu retak bersama waktu yang bergulir. Saya suka dengan cerpen ini karena sangat bermakna yang menggugah pikiran saya sebagai wanita. 


    Penggalan dialognya seperti ini : “Kamu tahu, Fei, di balik kesuksesan seorang laki-laki, selalu ada perempuan hebat. Begitu juga di belakang kehancuran seorang laki-laki. Perempuanlah yang memainkan peranan di balik kesuksesan dan kehancuran itu.”

    Di dalam Kumcer ini terdapat 15 cerpen apik yang pernah dimuat di berbagai media cetak dengan tema bahasan yang dekat dengan dunia wanita. Hal-hal yang kita temui sehari-hari dikemas dengan sudut pandang penulis sehingga memberi kesan kritis, menyentuh, tegas, namun indah. Sebagian besar ide dari cerpen-cerpen tersebut adalah masalah-masalah sosial.
    15 cerpen tersebut adalah :
    1. Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada (Dimuat di harian Tribun Jabar, 12 Oktober 2008)
    2. Braga Siang Itu (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Maret 2012)
    3. Sansevieria (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 Maret 2009)
    4. Saat Malin Bertanya
    5. Sarapan
    6. Undangan
    7. Suara
    8. Ceu Kokom (Dimuat di majalah Sekar Edisi 49/11, 26 Jan-Feb 2011)
    9. Bunda Tak Tersenyum (Dimuat di majalah Kartika No.78/Februari 2010)
    10. 10. Surat Untuk Presiden
    11. 11. Merajut Hari
    12. 12. Hati yang Tak Kunjung Damai
    13. 13. Gunting
    14. 14. Gigi (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Januari 2009)
    15. 15. Hujan (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 September 2009)
    Namun ada hal yang mengurangi kenyamanan saya sebagai pembaca. Tulisan di beberapa halaman di dalamnya tidak tercetak jelas (berbayang), warna tintanya memudar, di  halaman 48 terlihat mirip tinta fotokopi yang tercecer, dan lembar lainnya tampilan lay-out-nya agak miring. Ukuran font pas dan nyaman dibaca secara keseluruhan. Font lain, mirip tulisan huruf sambung, ditampilkan di cerpen berjudul ‘Surat untuk Presiden’. Di cerpen ini, penulis seolah menyuarakan sebagian dari masalah dari negeri kita ini.

    Kalau boleh menandai tanda bintang di setiap cerpennya, saya akan menandai lima bintang untuk cerpen berjudul ‘Braga Siang Itu’, ‘Saat Malin Bertanya’, ‘Sanseviera’, dan ‘Hujan’. Cerita yang sesuai dengan suasana kampanye Pemilu yang sebentar lagi akan digelar di Indonesia, terwakili oleh cerpen berjudul ‘Suara’ yang menampilkan tokoh seorang caleg gagal. Tak sedikit materi yang ia gunakan hingga terpaksa berutang pada beberapa orang, dan berujung pada gangguan psikis. Ia depresi dan harus menetap di klinik psikiatri dan rehabilitasi. Cerpen ini sungguh menggelitik ingatan saya tentang banyaknya orang-orang yang memaksakan diri untuk nyaleg dan wara-wiri di pemberitaan televisi.

    Keseluruhan tema cerpen yang ada di Kumcer ini sangat inspiratif dan menyadarkan bahwa hal-hal yang melintas di depan kita setiap hari adalah inspirasi dan pembelajaran kehidupan. Bahkan cerita seorang ibu yang menuntut materi dari sang anak tergambar di cerpen berjudul ‘Bunda, Ibu Tak Pernah Ada’ dan ‘Saat Malin Bertanya’. Pada kenyataannya di jaman sekarang, banyak hal yang serba memusingkan, dan cerita ibu seperti itu memang benar-benar terjadi.

    Buku Kumcer ini bisa menjadi alternatif bacaan di saat santai. Terutama bagi para penulis cerpen yang butuh referensi bacaan cerpen, Kumcer “Braga Siang Itu” karya Triani Retno A. adalah pilihan tepat. Saya sebagai penulis yang masih belajar menulis cerpen merasa bertambah ilmu dan mendapat pencerahan untuk tetap berlatih dari buku ini.

    Well, Triani Retno A. wrote : Ide memang ada di sekitar kita.”
    Happy reading!  :)
    Tandatangan Penulis
    Tandatangan Penulis

    Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku utama di kotamu, bisa juga memesan langsung ke penulisnya di Facebook Triani Retno A. (plus tandatangan, lho!


    ***

    Link Asal

    Novel saya ini diresensi oleh Beta Widias di blog Putrigrage. Saya kopas di sini untuk dokumentasi saya. Terima kasih sudah meresensi buku saya, yaaa :)

    Bagikan artikel ke:

    Facebook Google+ Twitter

    No comments :

    Post a Comment

    Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...