28 April 2014

[Buku Saya Diresensi] Episode Hitam Seorang Ibu

26 Januari 2013 pukul 10:31
Peresensi: Untung Wahyudi

Sosok ibu sebagai orang yang telah melahirkan anak-anaknya seharusnya dan sepantasnya untuk dihormati. Segala titah yang diberikan wajib ditunaikan sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian kepada orangtua. Tak heran, jika dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, orang pertama yang wajib dihormati adalah seorang ibu. Bahkan, juga dikatakan surga itu ada di telapak kaki ibu.

Siapa pun, sebagai seorang anak tentu tidak ada yang mau menjadi anak durhaka yang selalu membangkang dan membantah apa yang dikatakan seorang ibu. Tapi, haruskah seorang anak patuh pada seorang ibu yang berusaha menjerumuskan anaknya pada jalan yang salah? Seorang ibu yang selalu menyakiti fisik dan batin anak-anaknya? Masihkah sosok ibu seperti itu menyimpan surga di telapak kakinya?

Dalam novel Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya Triani Retno A. berusaha menguak sisi gelap seorang ibu. Seorang perempuan yang tak sepenuhnya menyayangi buah hatinya. Jangankan menyayangi, sosok ibu yang diceritakan penulis kerap melakukan penyiksaan secara fisik pada anaknya. Bahkan, sosok ibu itu tampil sebagai seorang perempuan yang kasar, culas dan tak menyimpan sedikit pun rasa cinta dan kasih sayang pada anaknya.

Adalah Amelia Citra, seorang gadis yang sejak kecil diperlakukan tidak baik oleh ibu kandungnya sendiri. Ibunya yang menikah di usia belia itu selalu menyiksa dan memukuli Amelia dengan benda-benda yang meninggalkan bekas pada tubuh gadis malang itu. Entah, Amelia juga tidak bisa menerka seperti apa isi hati dan pikiran ibu yang memperlakukannya seperti binatang (halaman 287).

Penyiksaan dan lontaran sumpah serapah yang diterima Amelia menjadikannya sosok yang tangguh. Dia sudah terbiasa dengan perlakuan kasar ibunya. Sementara itu, Bapak Amelia, yang diharapkan Amelia menjadi pembela dan pelindungnya ketika mendapat perlakuan kasar hanya bergeming. Bapak seolah-olah acuh dengan sikap yang dilakukan ibunya.

Selepas SMA, tuntutan demi tuntutan kerap ibu lancarkan pada Amelia. Ibu ingin Amelia mengganti semua biaya hidup yang dikeluarkannya sejak Amelia kecil hingga lulus SMA. Mau tidak mau Amelia pun harus bekerja sambil kuliah. Demi mewujudkan cita-cita dan memenuhi tuntutan ibunya, Amelia harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Amelia mengambil kuliah kelas eksekutif yang dilaksanakan pada malam hari (halaman 50).

Namun, ibu Amelia tidak pernah berusaha memahami posisi anaknya. Dia lebih terpengaruh gunjingan tetangga ketimbang memahami anaknya yang bekerja di siang hari dan kuliah di malam hari. Karena sering pulang malam, para tetangga mengguncing Amelia sebagai perempuan yang “tidak benar”. Penjelasan yang diberikan Amelia tidak membuat ibunya paham. Sebaliknya, ibunya selalu marah-marah tidak keruan. Padahal, biaya hidup sehari-hari keluarga kecil itu sudah Amelia yang menanggung dari hasil kerjanya sebagai tenaga administrasi di sebuah pabrik daging (halaman 113).

Sementara di tempat kerja, Amelia juga tidak bisa hidup tenang. Bu Rini, atasannya yang merasa tersaingi dengan kehadirannya selalu berbuat ulah. Amelia difitnah dekat dengan manajernya, Pak Yos. Bahkan, ada seseorang yang menyebarkan foto vulgar hasil rekayasa yang menampakkan wajah Amelia (halaman 120).

Amelia masih bersyukur dalam hidupnya mempunyai seorang sahabat yang tulus dan selalu mendengarkan keluh-kesahnya. Santi, teman kuliahnya yang ternyata adalah perempuan malang yang waktu kecil dibuang di tempat sampah dan diasuh di sebuah panti asuhan itu, yang membuat Amelia selalu bersabar dan mensyukuri hidup. Meskipun dia tidak pernah mengerti dengan sikap ibunya yang selalu berbuat kasar, tidak hanya pada fisik tapi juga hatinya.

Novel ini adalah potret buram seorang ibu yang tidak seharusnya menjadi contoh. Sosok ibu seperti Bu Amir, ibu Amelia Citra, adalah potret seorang ibu yang selama ini mungkin juga hadir dalam kehidupan nyata. Tidak sedikit media yang mengungkap kasus penyiksaan anak yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Semua perlu ditelisik dan dikaji, ada apa dengan psikis mereka sehingga bersikap tak ubahnya binatang yang dengan tega menyirami anaknya dengan air panas, memukuli mereka dengan kayu rotan, atau, seorang ayah yang memperkosa anak gadisnya dengan keji.

Dalam novel keluarga setebal 336 ini penulis menyuguhkan kisah yang tidak biasa. Konflik yang dibangun penuh dengan ketegangan yang membuat pembaca penasaran ingin menuntaskan episode demi episode yang ada di dalamnya. Membaca novel ini pembaca akan mengetahui bagaimana orangtua seharusnya bersikap terhadap anak-anaknya. Sekaligus menyadari bahwa sejahat apa pun orangtua, mereka tetap orangtua yang wajib dihormati. Sebagai seorang anak, kita hanya berusaha mendoakan orangtua agar senantiasa tetap di jalan yang benar.

Sedikit catatan, pada beberapa bab dalam novel ini tidak cocok dibaca oleh anak-anak atau remaja karena menampilkan kata-kata kasar yang diucapkan beberapa tokoh antagonis seperti Bu Amir atau Bu Rini.

Dalam ending novel ini, penulis juga menjawab rasa penasaran pembaca tentang sosok seorang ibu yang sedemikian jahatnya pada anak kandungnya sendiri. Apa yang menyebabkan seorang ibu kandung tega berbuat kasar, bahkan, berani menjual darah dagingnya sendiri? Adakah trauma masa lalu yang menyebabkan sosok perempuan penyimpan surga di telapak kakinya itu berbuat nista terhadap anak-anaknya? [*]


Judul              : Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya
Judul resensi   : Episode Hitam Seorang Ibu
Penulis            : Triani Retno A.
Penerbit          : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan          : I, Oktober 2012
Tebal              : 336 Halaman
Harga             : Rp. 40.000,-

Link Asal

Novel saya ini diresensi oleh Untung Wahyudi. Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 25 Januari 2013, dengan judul "Episode Hitam Seorang Ibu". 

Yang di sini saya kopas dari Note Facebook Mas Untung: https://www.facebook.com/notes/untung-wahyudi/ibuku-tak-menyimpan-surga-di-telapak-kakinya/10151207979671957  Saya kopas di sini untuk dokumentasi saya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...