26 April 2014

[Buku Saya Diresensi] Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya: Adakah Ibu yang Durhaka?

Peresensi: Atria Dewi Sartika

Kasih ibu kepada beta..tak terhingga sepanjang masa..Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.

Sejak kecil seorang anak selalu dibuai dengan nyanyian tentang cinta kasih seorang ibu dan ayah. Dan sering diancam dengan dosa sebagai anak durhaka. Namun adakah yang membantunya mengerti dan waspada tentang hak dan kewajiban orang tua.


Hanya anakkah yang bisa durhaka? Tak bisakah seorang tua juga di klaim durhaka? Bukankah kini kian marak kasus orang tua yang menganiaya anaknya? Tentang ayah yang memperkosa anaknya? Ibu yang membunuh anak kandungnya?

Seorang Triani Retno mencoba menggugah hal ini. Melalui tulisannya ia ingin menghadirkan sisi lain tentang pola hubungan orang tua anak. Kita tidak lagi hanya mengenal kisah Malin Kundang yang durhaka terhadap ibunya. Penulis ingin menampilkan sisi lain koin itu bahwa bagaimana jika bakti seorang anak tak dapat ditagih jika kasih seorang ibu tak pernah diberi?!

Buku ini mengisahkan tentang seorang Amelia Citra yang selalu diam dan memiliki pembawaan tenang serta menghadapi hiruk pikuk dunianya dalam diam. Cerita dibuka dengan pernyataan tentang kekuatan personal Amelia. Kehadiran bisikan-bisikan dalam hati menguatkan penokohan dalam cerita ini. 

Kisah masa lalu dan pemikiran Amelia menyatukan satu demi satu kepingan kehidupan Amelia yang tercecer. Amelia yang berusaha menyembunyikan kondisi keluarganya hingga akhirnya cenderung sensitif pada pembahasan terkait keluarga. Hingga Amelia yang kuat namun pada satu titik pun dapat menyerah pada keadaan. Hal ini terlihat saat Amelia akhirnya memilih mundur dalam menghadapi masalah pelik yang ia alami di kantor.

Di lain pihak tekanan ibunya yang selalu berlaku seenaknya padanya kian parah. Ibunya terus marah-marah sambil terus menuntut materi tanpa peduli apa yang dihadapi oleh Amelia. Tak pernah mau tau pada pencapaian Amelia. Hanya bisa terus mengeluh dan mengeluh.

Dimana ayahnya? Kenapa Ayah Amelia seolah tidak ada? Oh, ayahnya masih ada namun bersikap bak orang yang telah tiada. Ayahnya lebih banyak diam. Tidak mau ambil pusing pada sikap ibu Amelia. Membiarkan semua ocehan dan omelan ibunya yang mengiris-iris hati. Seolah takut menjadi korban serangan ibu Amelia. Berusaha membela pun tidak pernah. Sering kali Amelia berharap sang ayah akan melakukan sesutau. Namun apa yang dia peroleh? Ah, tak perlulah aku tuturkan semuanya disini. Temukan sendiri dengan membacanya.

Dalam novel ini dikisahkan pula kegigihan Amelia yang di usia muda dituntut untuk mandiri dan membiayai diri sendiri. Bahkan ia pun harus menghidupi ibu dan bapaknya sambil terus memakan semua cacian ibunya. Persahabatannya dengan Santi pun menguatkannya. Kehadiran Santi menjadi penolongnya. Upaya pemberontakan atas dominasi ibunya akhirnya membuat Amelia memilih untuk melarikan diri. Puncaknya saat Amelia tidak lagi bisa memenui keinginan ibunya yang ingin menjodohkannya dan mengambil sikap tegas untuk menolak.

Di tengah semua kondisi itu Amelia terus bertanya-tanya tentang berdosakah ia? Durhakakah dia pada orang tuanya?Pertanya-tanyaan tersebut mulai terjawab satu persatu. Pada akhirnya kita akan bisa menilai bahwa hubungan orang tua dan anak itu dua arah. Tidak selalu satu yang menguasai yang lainnya. Dan akhirnya kisah di buku ini menggugah kita untuk belajar tentang penderitaan anak-anak di panti asuhan dan anak-anak korban penganiayaan.

Hal lain yang bisa dipetik adalah kesadaran bahwa menjadi ibu yang terbaik mungkin tidak mudah. Namun dengan menyadari bahwa anak bukanlah benda yang dimiliki dan bisa diperlakukan sesuka hati melainkan amanah dari Rabb Semesta Alam, akan membantu kita menghadapi anak-anak dengan lebih bijak.
Ah, kasihmu sepanjang hayat dan baktiku tak kan genap. 

Namun sesungguhnya cinta Allah itu adil. Dia membuat ketetapan tidak dari satu arah melainkan dari berbagai arah.

Judul  : Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya
Penulis : Triani Retno A
Penerbit : Diva Press
Cetakan : Pertama, Oktober 2012
Tebal     : 331 halaman
*** 

Link Asal

Novel saya ini diresensi oleh Atria Dewi Sartika di blog My Little Library. Saya kopas di sini untuk dokumentasi bagi saya. Terima kasih sudah meresensi buku saya, ya. :)


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...