03 April 2014

[Resensi] Liputan 9

Judul: Liputan 9
Pengarang: Jeremi Dedeh dan Tim Redaksi Liputan 9
Penerbit: Bentang Belia
Tahun: 2013
Tebal: x + 186 halaman
ISBN: 978-602-7975-18-7
Harga:Rp34.000,00


Kok Liputan 9? Bukan Liputan 6?

Liputan 6 adalah sebuah program berita di SCTV. Motonya adalah "Aktual, Tajam, dan Tepercaya". Sementara itu, Liputan 9 asuhan Jeremi Dedeh alias Jedi ini adalah sebuah parodi. Berita-beritanya? Menurut salah satu endorser buku ini, @sisogi alias Sogi Indra Dhuaja, "Kumpulan headline tumpul untuk pembaca yang tajam."


Berita yang dibahas dalam buku ini terbagi dalam tujuh bagian, yaitu News, Olahraga, Tekno, Showbiz, Bisnis, Lifestyle, dan Surat Pembaca. Berita-berita pertama dalam buku ini tidak berhasil memancing senyum, apalagi tawa saya. Gara-gara itu, saya malah melirik kotak penilaian yang berada di akhir setiap berita.




Kotak penilaian seperti ini tidak ada di dalam buku Liputan 9 yang pertama. Mau tidak mau saya jadi berpikir, mengapa ada kotak seperti ini? Apakah untuk menampung aspirasi pembaca yang senang karena membaca berita yang lucu banget atau sebaliknya, kesal karena berita yang disajikan ternyata  garing?

Syukurlah masih banyak berita yang termasuk kategori lucu. Misalnya berita "Menpora: Prestasi Olahraga Semakin Turun".

Seorang atlet yang tidak mau dibeberkan identitasnya mengaku sengaja gagal meraih medali. Aksi ekstrem ini dilakukannya lantaran takut ditawari main iklan sosis. Menurutnya, banyak juga atlet senasib yang urung  meraih prestasi demi menyelamatkan harga diri. "Ya malu aja kalau disuruh joget sambil makan sosis. Kita, kan, bukan boyband!" (halaman 18)

"Perahu Kertas Go International" (halaman 101-102), "Rahasia Sukses Keripik Singkong Mak Nyinyir" (halaman 109-110), dan "Pakar Romansa: Tip Hemat Saat Berkencan" (119-121) pun bisa memancing tawa.


Kalau boleh membandingkan dengan Liputan 9 yang pertama, buku Liputan 9 yang kedua ini kalah lucu. Lucu atau tidak, tentu saja merupakan masalah subjektif. Seperti acara komedi di layar kaca. Sebagian orang mungkin tertawa terpingkal-pingkal melihat kue tart ditimpukkan ke wajah, sebagian lagi mungkin malah merasa kesal. Saya? Hm ... saya, sih, lebih suka kalau kue tart itu diberikan secara baik-baik kepada saya.


Liputan 9 buku pertama (kiri) dan Liputan 9 buku kedua (kanan).
Ternyata beda penerbit.



3S: Senyum Simpul Saja

Tak ada naskah yang tak retak. Begitu kata seorang editor senior, Bambang Trim. Demikian pula dengan buku ini. Kesalahan editing dalam buku ini di antaranya:

  • anak anak (halaman 88), seharusnya "anak-anak".
  • merubah (halaman 100), seharusnya "mengubah". Kata dasarnya adalah ubah, bukan rubah. Rubah adalah binatang sejenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, ikan, dsb; Canis vulpes. (sumber: KBBI)
  • banyak jomlo-jomlo (halaman 130), seharusnya cukup "banyak jomlo".

Meskipun tak sampai membuat pipi keram karena kebanyakan tertawa, buku ini layak dibaca. Tak bisa terbahak-bahak, tersenyum simpul pun jadi. Seperti yang tertulis dalam blurb buku ini:

Bahwa sesungguhnya berita tidak selamanya serius dan parodi tidak selalu lucu. Maka dari itu, pertanyaan dan pernyataan seperti "Lucunya di mana?" atau "Tumben serius!" harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikeseriusan maupun perikelucuan".


***

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...