05 April 2014

[Resensi] Remaja Peduli Lingkungan



Judul: Miss Takakura
Pengarang: Dewi Liez
Penerbit: Hafamira
Tahun: 2013
Tebal: vi + 218 halaman
ISBN: 979-26-7502-7


Menulis novel teenlit memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah anggapan umum bahwa teenlit hanya berkisah tentang cinta remaja. Bukan sembarang remaja, tetapi remaja kota besar dari kelas ekonomi menengah atas. Ditandai dengan kepemilikan gadget terbaru, hang out di kafe, JJS di mal, berlibur ke luar negeri, dan sebagainya.

Memang ada novel teenlit yang seperti itu, tetapi tidak semua. Tidak adil jika menyamaratakan semua novel teenlit. Dunia remaja penuh warna dan sangat dinamis. Tidak melulu bicara cinta. Tidak  melulu hura-hura.


"Tidak melulu cinta" ini juga yang ditawarkan oleh novel Miss Takakura. Kiera digambarkan sebagai remaja yang sangat peduli pada lingkungan hidup. 


Kepedulian Kiera ini terlihat jelas sepanjang cerita. Dari Kiera yang selalu bersepeda ke sekolah, membuat kompos di halaman rumah, Mengajar warga membuat barang-barang daur ulang, hingga menjadi ketua panitia Earth Day di sekolahnya.

Rutinitas pagi membuang sampah tetap dilakukan. Tugas tambahan Kiera pagi ini, memasukkan nasi goreng gagal ke dalam lubang biopori yang baru dibuat sepekan lalu. Selesai urusan biopori, ia berjalan ke halaman samping. Memindahkan sampah dari rumah ke dalam tiga tong yang berjejer. (halaman 69)

"Ini juga. Beli bubur ayam pakai styrofoam. Kemasannya kalau dibuang enggak bisa terurai di alam. Belum lagi efeknya bagi kesehatan. Karsinogenik. Kak Luna ngerti, kan?" (halaman 99)

Bagi saya, ide novel ini sangat menarik. Jika kelak ada yang bertanya pada saya tentang novel remaja  bertema lingkungan hidup, saya akan menyebutkan novel Miss Takakura ini (selain novel saya sendiri, Kilau Satu Bintang :D ).


Novel ini pasti akan lebih bagus jika didukung oleh editing yang lebih cermat. Beberapa kesalahan editing yang terdapat dalam novel ini adalah:
- rumah sakit Azra (halaman 4), seharusnya Rumah Sakit Azra.
- Pak kasman (halaman 9), seharusnya Pak Kasman.

- kemana (halaman 11, 90, dan 127), seharusnya ke mana.
- beludru (halaman 48). Menurut KBBI, yang benar adalah beledu.
- "Ngajak Aku makan bakso", seharusnya "Ngajak aku makan bakso".

Selain masalah editing, ukuran huruf di dalam novel ini lebih kecil daripada umumnya sehingga agak mengganggu kenyamanan, terutama bagi penggemar novel remaja yang sudah tidak remaja :)

Jika ingin mendapatkan warna lain dari sebuah novel teenlit, novel ini pantas dibaca.


***


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...