05 May 2014

Mempersiapkan Dana Pensiun: Memanfaatkan Masa Muda Sebelum Datang Masa Tua


Tidak semua orang berkesempatan menjadi tua. Namun, ketika masa tua itu tiba, tidak ada orang yang bisa kembali ke masa muda.

Dalam agama yang saya anut, Islam, ada hadis Rasulullah saw., yang berbunyi, “Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) yaitu hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)


Bagi saya, salah satu cara memanfaatkan masa muda sebelum datang masa tua adalah dengan mempersiapkan dana pensiun.


Tabungan Simponi

Masa muda adalah masa produktif. Pada masa ini, semangat kerja masih tinggi, kesehatan masih prima, peluang pun masih terbuka lebar.


Masa-masa seperti ini tak akan selamanya menjadi milik kita. Pada waktunya, masa produktif ini akan berlalu. Akan tiba masa ketika semangat kerja mengendur, kesehatan mulai menurun hingga tak bisa menampilkan kinerja sebaik sebelumnya, dan peluang kerja menjadi lebih sempit.

Menabung pada masa produktif menjadi keharusan bagi saya. Saya bukan PNS atau anggota TNI/Polri yang akan mendapatkan uang pensiun setelah purnabakti. Saya juga bukan pegawai tetap sebuah kantor yang memberi dana pensiun untuk pegawainya. Sebagai pekerja lepas, saya harus mempersiapkan dana pensiun saya sendiri.

Untuk itu, saya membuka Tabungan Simponi di kantor cabang BNI di dekat tempat tinggal saya.

BNI Simponi adalah layanan program pensiun yang diselenggarakan oleh Dana Pensiun Lembaga Keuangan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (DPLK BNI) sejak tahun 1994 berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Siapa pun Anda, bisa menjadi peserta BNI Simponi. BNI Simponi bisa diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat apapun profesinya.

Kebetulan saya sudah menjadi nasabah BNI sejak tahun 2009 (Taplus dan Tapenas). Prosedur membuka Tabungan Simponi ini tidak rumit, sama saja seperti membuka tabungan jenis lain. Hanya saja, formulir yang harus saya isi lebih banyak, termasuk mengisi angket untuk mengetahui saya termasuk investor tipe apa.

BNI menawarkan tujuh pilihan paket investasi dalam pengelolaan dana pensiun.
1.    75% (Deposito dan/atau Pasar Uang) dan 25% Obligasi.
2.    50% (Deposito dan/atau Pasar Uang) dan 50% Obligasi.
3.    100% Deposito dan/atau Pasar Uang.
4.    100% Deposito Syariah, Pasar Uang Syariah, dan/atau Obligasi Syariah.
5.    50% (Deposito Syariah, Pasar Uang Syariah, dan/atau Obligasi Syariah) dan 50% Reksa Dana Syariah.
6.    50% (Deposito dan/atau Pasar Uang) dan 50% (Reksa Dana dan/atau Saham).
7.    50% Obligasi dan 50% (Reksa Dana dan/atau Saham).

Dari hasil angket, ternyata saya termasuk investor jenis moderat. Salah satu paket investasi yang ditawarkan untuk investor seperti saya adalah Paket 1. Hasil angket ini sama dengan keputusan saya sebelumnya setelah bertukar pikiran dengan teman saya yang seorang praktisi keuangan, plus penjelasan dari customer service BNI.


Buku tabungan BNI Simponi

Mengalokasikan Penghasilan

Pernah tebersit penyesalan karena saya baru membuat tabungan dana pensiun pada paruh kedua usia 30-an, apalagi jika membaca tulisan para perencana keuangan. Rasanya, beberapa ratus ribu rupiah per bulan yang saya alokasikan untuk dana pensiun menjadi tidak berarti jika dibandingkan prediksi kebutuhan di masa depan. 

Namun, saya tak bisa mengalokasikan dana lebih daripada yang saya sanggupi untuk diautodebit dari Taplus saya setiap bulannya (saya sengaja memilih autodebit rekening agar tak ada alasan lupa menabung). Pasalnya, saya juga harus mengalokasikan dana untuk asuransi dan tabungan pendidikan kedua anak saya, sedangkan besar penghasilan per bulan saya tidak tetap.


Saya berusaha menepis rasa pesimistis itu. Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Jalan keluar yang saya ambil adalah tetap dengan jumlah dana yang rutin diautodebit plus menyetor tunai jika sedang ada penghasilan tambahan, misalnya ketika jatuh tempo pembayaran royalti buku-buku saya atau mendapat honor editing yang lebih besar daripada kebutuhan bulanan.

Buku BNI Simponi dan BNI Taplus

Freelancer dan Dana Pensiun

Tidak seperti pegawai kantoran yang akan pensiun pada usia 55-60 tahun, penulis dan editor freelance seperti saya agak asing dengan istilah "usia pensiun". Lebih-lebih profesi penulis yang dapat ditekuni tanpa mengenal batasan usia, dari anak usia SD hingga lansia.

Yang perlu dicermati di sini adalah tidak tetapnya penghasilan yang diperoleh seorang penulis setiap bulannya. Royalti buku, misalnya. Royalti yang besarnya 7%-10% dari harga jual buku ini tidak datang tiap bulan, melainkan hanya satu kali dalam 4, 6, atau 12 bulan (tergantung penerbit). Jumlahnya pun selalu berbeda-beda, tergantung pada jumlah buku yang terjual.

Rentang penghasilan saya sebagai penulis dan editor lepas dalam satu bulan cukup lebar, dari dua ratus ribu rupiah hingga belasan juta rupiah per bulan. Artinya, saya harus pintar-pintar mengatur keuangan saya, termasuk mengalokasikan penghasilan saya untuk masa sekarang dan masa depan.

Buku-buku saya yang terbit sekarang memang bisa menjadi semacam tabungan untuk masa depan. Saya lihat tak sedikit buku (novel dan buku nonfiksi) karya penulis senior yang masih dicetak ulang atau terbit kembali (di penerbit yang sama atau penerbit yang berbeda), belasan hingga puluhan tahun setelah terbit pertama kali. Namun, saya tak mau hanya mengandalkan itu. Selain mempersiapkan dana pensiun di Tabungan Simponi BNI, sekarang saya sedang mempertimbangkan untuk membuat rumah kos sebagai salah satu investasi hari tua.

Sebagian buku karya saya yang sudah terbit


Impian Hidup Tenang

Hidup tenang di hari tua tanpa merepotkan anak cucu adalah idaman semua orang, termasuk saya. Mempersiapkan tabungan dana pensiun sejak muda adalah salah satu upaya untuk mewujudkan impian itu mejadi kenyataan.
Saya memang berniat akan terus menulis sampai usia senja, seumur hidup. Yang saya inginkan, pada masa pensiun nanti saya menulis untuk kesenangan semata, bukan lagi untuk kejar setoran. Pada masa itu, rasanya terlalu zalim jika saya memaksa tubuh saya untuk bekerja siang-malam demi menyelesaikan menulis sebuah novel.
Saya ingin menikmati masa pensiun saya dengan tenang dan bahagia sembari menyaksikan anak-anak saya menapaki masa produktif mereka.

***


Tulisan ini disertakan dalam BNI BLogging Competition.

~Update: Alhamdulillah, tulisan ini terpilih menjadi Juara Favorit~

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

47 comments :

  1. Jadi mikir "Iya juga, yaaa" abis baca postingan ini. Tjakep, Bude ^_^ Kalo aku sih Yess!

    ReplyDelete
  2. wow, gue udah ngelaksanainnya udah 20 tahun hehe... jadi didukung deh...

    ReplyDelete
  3. Semoga lancar rencananya dan sehat selalu:)

    ReplyDelete
  4. Woow, bener2 terbuka wawasan saya setelah baca artikel ini, mbak Eno berbakat jadi agen asuransi juga rupanya. Kereen ;)

    ReplyDelete
  5. @Chogah: Iya Chogaaah. Mumpung lo masih muda. Kalo ngelamar jadi mantu gue, ntar salah satu pertanyaan gue adalah: lo punya dana pensiun gak? :D

    ReplyDelete
  6. @Oke: Berartiiii.... lo udah 20 tahun jadi PNS ya, Ke? :) Kesadaran gue agak telat *menunduk elegan* #teteup :))

    ReplyDelete
  7. @Rini: Aamiiin. Makasih, Rin. :)

    ReplyDelete
  8. @Dani: Apalagi kalo suami istri freelance, Gan. Kudu banget tuh :D
    Btw, sebenernya saya lebih pengen jadi agen 007 sih, Gan, cuma ditolak euy... :)

    ReplyDelete
  9. hihi.. iya no, udah kelamaan ya haha

    ReplyDelete
  10. Aku juga nasabah BNI Mbak Ret ^^ setelah wisuda Februari lalu, BNI Taplus Mahasiswa berubah menjadi Taplus Muda ^^

    ReplyDelete
  11. @Oke: Udah hampir pensiun, Ke? :D

    ReplyDelete
  12. @Fakhrisiena: Naah... ayo ikut lombanya juga.
    Untung setelah BNI Taplus Muda nggak ada BNI Taplus Tua, ya *telen antiaging*

    ReplyDelete
  13. @Rhea: Belooooom. Ini baru persiapan untuk masa pensiun. Berpikir 20-30 tahun ke depan :) Persiapan kan nggak bisa dilakukan secara mendadak.

    ReplyDelete
  14. @Dhea: Aamiiin. Makasih udah mampir, Mbak Dhea :)

    ReplyDelete
  15. Saya udah mikirin buat bikin tabungan ini, Mbak. Tapi rasanya ragu sih, takutnya ada moment mendadak dimana tabungan yg diautodebitkan ke tabungan simponi sangat dibutuhkan. (>_<)

    Apa tabungan simponi ini bisa diambil seperti halnya tabuangan biasa? Takutnya ini seperti deposito yang gak bisa diganggugugat sampai jatuh tempo (>_<)

    ReplyDelete
  16. Wew inspiratif sekali teh, kirain tak ada lah tabungan yang mendukung para freelancer T_T ternyata, eh ternyata,trims ya teteh info pengalamannya, semoga menang ^_^

    http://zee-flp.blogspot.com/

    ReplyDelete
  17. @Zee: Aamiin.
    Buka aja Zee, dari sekarang. Jumlah minimal yang harus kita masukkan per bulan bisa kita tentukan sendiri, kok. Seoran pertama pas buka rekening memang agak besar (kalo gak salah 500 rebu. Kalo gak salah loh yaaa. Aku kebetulan waktu buka Simponi lagi ada rezeki berlebih jadi bisa buka di atas minimal), tapi iuran per bulannya minimal cuma 50 rebu. Nggak jauh beda dengan pulsa hape sebulan, kan ya? :)

    ReplyDelete
  18. @Atria: Bisa, kok tapi syarat dan ketentuan berlaku :D Misalnya, maksimal penarikan 10% dari akumulasi dana, maksimal 4x narik dalam setahun, minimal udah 2 tahun jadi peserta. (sumber: Buku Peraturan Dana Pensiun DPLK BNI)

    Kalo khawatir sewaktu2 bakal perlu, mungkin bisa nyontek tip keuangan ini: Buat tiga macam rekening.

    Satu, untuk lalu lintas uang (transfer gaji, transfer honor, kebutuhan hidup sehari2, dsb)

    Dua, untuk kebutuhan darurat. Yang namanya darurat tentu nggak tiap hari kan? *errr... terdengar seperti sebuah kalimat di buku Braga Siang Itu, ya? :D *

    Tiga, untuk kebutuhan masa depan. Yang ini "dikunci" dan baru bisa dibuka sekian tahun yang akan datang.

    Aku ngikutin tip itu. Kalo gak "dikunci" gitu, bablas semua deh :D

    ReplyDelete
  19. Keren bunda ^0^
    Sangat mengingatkan pada kami yang lebih muda untuk bijak mempersiapkan dana pensiun sendiri di hari tua nanti...sukses terus bunda ^_^

    ReplyDelete
  20. @Switz: Makasih udah main ke Teras Teera, Ayu. :)
    Iya, menabung sedikit demi sedikit sejak muda lebih baik daripada nggak nabung sama sekali. Apalagi Ayu masih muda. :)

    ReplyDelete
  21. Aku bacanya sambil ngangguk-ngangguk nih, Bun :D ahaha.. Tulisan bunda membuka wawasanku. Dan aku suka tulisan bunda di awal 'Tidak semua orang berkesempatan menjadi tua' (y)Sooo, selagi masih produktif, mari memanfaatkan yang bisa dimanfaatkan ^^ Sukses teyus bundaaaa {}

    ReplyDelete
  22. @Nanda: Tulisan serius *muka serius* gak ada konyol2nya kayak di GK :D

    Bener, Nanda. Mumpung masih muda. Ntar kalo udah telanjur tua *siapa yaaa? bukan sayaa... bukan sayaaa...! :D* ntar nyesel deh karena waktu muda nggak mau menyisihkan penghasilan buat masa pensiun :)

    ReplyDelete
  23. Hihihi ^^
    Ternyata bunda Eno bisa serius juga, ya *dilemparsendal* :D
    Iya bunda, mumpung belum terlambat :) ntar yang ada malah 'penyesalan'. Penyesalan itukan selalu datang belakangan *ya iyalah, kalau dtg nya duluan namanya 'pendaftaran'* #jleb

    ReplyDelete
  24. @Nanda: Astagaaa! Daku selalu serius lho. Becanda aja serius :D *nunggu dilempar berlian*

    Hahaha... iyaaa... pendaftaran tuh kalo di awal :D

    ReplyDelete
  25. Ya, setuju dgn teh Retno. Manfaatkan masa muda sblm tua, rencanakan hari tua selagi muda. Saya pun tetap memilih tabungan rencana utk anak dengan sistem autodebit meskipun suami memiliki tabungan pensiun. Tak selamanya kita memiliki uang, jadi sebaiknya dari sekarang menyisihkan sedikit demi sedikit demi anak dan hari tua yang bahagia. :)

    ReplyDelete
  26. Setuju banget, Mbak. Semua sebaiknya dipersiapkan sejak dini, ya.

    ReplyDelete
  27. Jadi pengen buru-buru ke BNI, nih. Kira-kira jam segini buka gak, ya?

    ReplyDelete
  28. @Haya: He-eh, Hay. Kalopun nggak bisa sejak dini, masih nggak ada kata terlambat ya. *membela diri :D*
    Makasih udah main ke sini ya, Hay. Mau dong ikutan nginep di Acacia :))

    ReplyDelete
  29. @Sandi: Udah tutup kali, San. Besok pagi aja. Setelah ngebangunin ayam jago buat berkokok, lo langsung deh berangkat. :))
    Mesti berani nyisihin duit sekarang buat bikin dana pensiun sendiri kalo kayak kita2 mah, San.

    ReplyDelete
  30. @Putri: Iya, Jeng Beta. Kalo sayang anak, kita emang mesti mikir ke depan, ya. *kita kan emak2 kece yang sayang anak, yak :)*

    ReplyDelete
  31. Mbak eno, aku udah mampir ya. Go mbak eno go, sesama freelancer harus saling mendukung :D
    Eh, ini sama kayak nabung kan?

    ReplyDelete
  32. Setuju mb Eno. Siapkan payug sebelum hujan ya.

    ReplyDelete
  33. @Ria: Horeee.... makasih, Mbak Riaaaa....
    Iya, ini kayak nabung aja. Bedanya, nggak bisa diambil setiap saat. Diambilnya ntar, pas usia pensiun yang kita tetapkan sendiri (minimal usia 45 tahun). Sebelum jatuh tempo masa pensiun, bisa juga diambil tapi syarat dan ketentuan berlaku :)

    ReplyDelete
  34. @Deka:Bener, Mbak Deka. Nggak cuma ojek payung yang perlu nyiapin payung. #eh :D

    ReplyDelete
  35. Terima kasih tulisannya, Mbak! Jadi inget lagi ama BNIku, yang kutinggalkan di tanah air. Semoga manfaat buat kita ya, Mbak.

    ReplyDelete
  36. @Cool : Makasih udah berkunjung, Mbak. :) Aamiin. Semoga bermanfaat untuk semua. :)

    ReplyDelete
  37. iih, jadi inget untuk mengurus account2 yang ada di BNI..termasuk nyari info ttg rekening haji. katanya ada juga, ya...nuhun teteh diemutan.

    nice post!

    ReplyDelete
  38. @Kitab: Heuheu... iya tabungan haji. Daku belum bikin euy.

    Kayaknya emang rempong banget mesti nabung untuk ini itu. Tapi mending rempong sekarang sih ya, mumpung badan masi kuat :)

    Makasih udah mampir, yaaa :)

    ReplyDelete
  39. hai mbak tri, penjelasan masing-masing pilihan paket investasinya itu gimana ya? aku bingung mau pilih yang mana. oya mbak tri punya npwp juga? kalau laporan bulanan dan tahunan nihil apa gak?

    ReplyDelete
  40. @Susan: Untuk jelasnya, lebih baik langsung ke BNI aja, Mbak. Nanti dijelasin banget sama CS-nya :)

    Yang pasti sih, semuanya menguntungkan, cuma besarannya yang beda-beda.

    NPWP, iya. Dan penulis mesti lapor SPT Massa tiap bulan.:)

    ReplyDelete
  41. Dulu, aku udah pernah buka mbak Eno :) sayangnya aku tutup karena berhenti bekerja. Sekarang jadi kepikiran buat buka lagi :D

    ReplyDelete
  42. @Qadriea: Sayang ya, yang dulu ditutup. Kalo bisa sih buka lag ya, Qad? :)
    Dulu waktu masih kerja kantoran, aku malah nggak punya tabungan pensiun. Pas kantorku punya rencana buat bikin tabungan pensiun untuk semua karyawannya, aku malah keburu resign. :)

    ReplyDelete
  43. sangat setuju,buk....memang seharusnya sedini mungkin dipersiapkan. Jikapun baru bisa terlaksana agak telat, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ini bisa jadi motivasi buat yang lain....

    ReplyDelete
  44. @Anonim: Terima kasih sudah berkunjung, ya.
    Setuju banget. Lebih baik telat daripada enggak, ya. Lebih baik punya apa-apa daripada nggak punya apa-apa :)

    ReplyDelete
  45. Iya sih ka, berarti nanti udah ga nulis buku lagi?

    ReplyDelete

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...