03 May 2014

[Resensi] Sroedji, Kepahlawanan yang Menginspirasi





                                      
Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diletakkan di pelataran mushalla. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah yang bola matanya raib tercerabut dari tempatnya. Tubuh berperawakan sedang namun berisi itu menjadi saksi bisu kekejaman tangan-tangan yang pernah mendera, penuh lubang peluru dan cabikan bayonet.

Tulang kepala berambut ikalnya retak, terdera popor senapan. Satu… dua… tiga… jari-jari tangan sang jasad tak lagi lengkap, hilang sebagian. Jari-jari itu biasanya lincah memetik ukulele, melantunkan nada merdu.


Siapa Letkol Soredji?
Blurb novel yang diambil dari bagian Prolog ini langsung membetot perhatian sekaligus mengaduk-aduk perasaan.  Penasaran? Sangat.
Nama Letkol Mochammad Sroedji mungkin tak banyak dikenal orang, terlebih yang tidak berasal dari Jawa Timur (khususnya Jember, Malang, Kediri, dan Lumajang) dan bukan pencinta sejarah. Wajar jika kemudian banyak yang bertanya-tanya, “Siapa sih dia? Kenapa kisahnya sampai dinovelkan?”
Sroedji lahir pada tanggal 1 Februari 1915 dari kedua orangtua yang berdarah Madura, Hasan dan Amni. Sejak kecil, anak kedua dari tujuh bersaudara ini santun, luwes dalam bergaul,  dan setia kawan. Ia juga menunjukkan minat besar untuk bersekolah. Sayangnya, Sroedji hanya anak pedagang kecil dan bukan keturunan ningrat. Kesempatannya untuk bersekolah terbatas pada sekolah kelas II (Ongko Loro).
Sroedji tidak puas. Ia sudah menguasai semua yang diajarkan di sekolah rakyat jelata itu. Ia ingin bersekolah di Hollands Indische School (HIS) yang menggunakan bahasa Belanda. Untunglah budenya menikah dengan seorang keturunan  ningat. Pakdenya, Pusponegoro, memasukkan dan menjamin Sroedji di HIS.  Di sana Sroedji memperlihatkan kecemerlangannya.  Setamat dari HIS, Sroedji meneruskan sekolah ke Ambactsleergang, sekolah kejuruan bidang pertukangan.

Meskipun mengenyam pendidikan di sekolah Belanda dan fasih berbahasa Belanda, Sroedji adalah seorang nasionalis tulen. Cita-citanya terhadap kemerdekaan negara yang bernama Indonesia sangat kuat. (halaman 35)
Sejak di Ambactsleergan, Sroedji ingin bergabung di ketentaraan. Namun, yang ada waktu itu hanyalah Koninklijke Millitaire Academie (KMA) dan Corps Opleideing Reserve Officieren (CORO). Sroedji tidak tertarik untuk bergabung dalam korps militer bentukan Belanda yang ia dan keluarganya anggap kaum kafir yang memerangi bangsanya sendiri.  (halaman 45-46)

Ketika Jepang membuka pendaftaran perwira tentara PETA, Sroedji langsung tertarik.

“Inilah saat yang tepat untukku menyumbangkan tenaga dan pikiran demi membela tumpah darahku,” bisik hati Sroedji. (halaman 46)

Keinginan Sroedji didukung sepenuhnya oleh sang istri, Rukmini.
 “…jika menjadi tentara adalah panggilan jiwamu sejak dulu, penuhilah Pak. Seseorang akan berhasil jika melakukan pekerjaan sesuai hati nuraninya. Berangkatlah, Pak. Aku rela kaujalani kehidupan tentara. Enyahkan penjajah dari bumi pertiwi.”  (halaman 48)

Selanjutnya, cerita bergulir ke masa-masa pelatihan tentara PETA di Bogor, kembalinya Sroedji ke Jember untuk membentuk Daidan dan merekrut rakyat menjadi tentara PETA, perang gerilya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, hingga pertempuran terakhir di Karang Kedawung, Jember.


Berjiwa
Novel  perdana  Irma Devita ini tak melulu bercerita mengenai pertempuran antara pasukan Sroedji melawan Belanda.  Sisi-sisi kemanusiaan, cinta, dan persahabatan pun terangkai di sini. Tak hanya bercerita dari sisi Sroedji, tetapi juga dari sisi Rukmini, sang istri.

Keikhlasan Rukmini melepas suaminya berjuang, kerelaannya menjalani hidup susah dan mengungsi ke sana kemari demi keselamatan diri dan keluarganya,  serta dukungannya pada sang suami menjadi amunisi tersendiri bagi Sroedji.
Sosok Rukmini dalam novel ini tak kalah istimewanya dengan sosok Sroedji itu sendiri. Benarlah pendapat yang mengatakan bahwa di balik keberhasilan seorang suami ada doa dan dukungan seorang istri.






Novel ini enak dibaca. Alur ceritanya mengalir dan begitu hidup. Bisa jadi hal ini tak lepas dari kedekatan Irma dengan narasumber novel ini. Rukmini adalah nenek Irma. Ibu Irma adalah Pudji Redjeki Irawati Sroedji, putri bungsu Sroedji yang baru berusia satu tahun ketika Sroedji tewas dalam pertempuran di Karang Kedawung, Jember. Bisa jadi pula karena tekad kuat Irma untuk menuliskan kisah tentang Mbah Kakung Sroedji.  “Mbah, Irma janji suatu saat kelak Irma akan menuliskan cerita tentang Mbah Kakung.” (halaman viii)
Kedekatan tersebut menjadikan novel ini terasa berjiwa. Saya dapat merasakan debar hati Rukmini ketika pertama kali bertemu Sroedji di pasar, kebahagiaan Rukmini bersuamikan Sroedji  yang tampan dan penyayang, kecemasan Rukmini setiap kali mendengar propaganda Belanda bahwa Sroedji tewas dalam pertempuran, ketegangan dan kelelahan Rukmini ketika harus mengungsi saat sedang hamil tua, hingga remuk redamnya hati Rukmini ketika anak buah Sroedji mengabarkan kematian sang komandan. Saya pribadi percaya bahwa apa yang ditulis dari hati akan sampai ke hati pembacanya. 
Bagi saya, novel ini pun memiliki nilai plus karena Irma tak sekadar menulis berdasarkan penuturan sang nenek. Dalam press release-nya disebutkan bahwa Irma melakukan riset yang sangat serius. Ia menelusuri data-data lama dan mewawancarai banyak orang, diutamakan saksi hidup yang mengerti masa-masa sulit Agresi Militer. Ia juga melakukan riset di Museum Brawijaya, Museum PETA, Museum  Angkatan Darat, dan Arsip Nasional. Dengan begitu, novel ini menjadi lebih objektif serta tidak tenggelam dalam kebanggaan dan kenangan sentimental seorang cucu.

Press release novel  Sang Patriot. Sumber:


Rekomendasi
Acungan jempol  juga saya berikan pada Agus Hadiyono, editor novel ini. Dalam blog http://www.rinurbad.com/cerita-penyuntingan-sang-patriot/ ini tertulis bahwa Agus dan istrinya yang juga seorang editor, Rini, ikut melakukan riset tentang Letkol Mochammad Sroedji. Untuk lebih menjiwai, video lagu keroncong Bunga Anggrek pun ikut menemani dalam proses pengeditan. Lagu keroncong ini adalah salah satu lagu kesayangan Sroedji  (halaman 19).

Memang ada beberapa typo dalam novel ini yang tertangkap oleh mata saya, misalnya: Perdana menteri Inggris (halaman 39), sungai Brantas (halaman 84),  karesidenan Besuki (halaman 64), yang Maha Tinggi (halaman 205), mempercayai (halaman 38), satu persatu (ada beberapa kali, salah satunya di halaman 150), tentangga (halaman 218), memperdulikan (halaman 223), di potongnya (halaman 239), dan penggunaan tanda koma setelah tanda petik tutup dalam kalimat langsung (ada beberapa kali, salah satunya di halaman 221). Namun, sedikit typo itu tidak mengurangi nilai novel ini di mata saya. Ibarat pepatah, tak ada gading yang tak retak, tak ada buku yang tak ber-typo. :)
Saya tetap merekomendasikan novel ini pada calon pembaca. Ada baiknya jika novel ini juga disosialisasikan ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus untuk memperkenalkan sejarah dan nasionalisme pada generasi muda. Kita bisa hidup di alam merdeka seperti ini adalah karena pengorbanan jiwa raga para pendahulu kita.

Judul                : Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis             : Irma Devita
Editor               : Agus Hadiyono
Penerbit           : Inti Dinamika
Tahun Terbit    : Februari 2014 (cetakan pertama)
Tebal                : xii + 268 halaman
ISBN                : 978-602-14969-0-9


http://letkolmochsroedji.org/

Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...