03 July 2014

Jalan Buku

("Jalan Buku" ini adalah tulisan saya yang menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis "The Power of Book yang diadakan Kompasiana tahun 2011. Tulisan aslinya bisa dibaca di Kompasiana)
  Kesukaan membaca, setumpuk mimpi, dan saran dari wali kelas plus dukungan teman baik membawa saya menetapkan Jurusan Ilmu Perpustakaan di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran sebagai pilihan ketika mengikuti UMPTN tahun 1993. Jurusan yang saat itu masih dianggap aneh. Kala itu, hanya dua PTN di Indonesia yang memiliki program S1 untuk disiplin ilmu ini, yaitu Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia.


Bayangkan, ketika teman-teman dari  A3 (IPS) ramai-ramai memilih Manajemen, Akuntansi, Hukum, Hubungan Internasional, atau Psikologi, saya malah memilih jurusan yang tidak populer ini.


Namun, saya telah memilih dan menikmati pilihan saya. Saya kemudian berkenalan dan berteman akrab dengan mata kuliah yang sangat perpustakaan, seperti Klasifikasi, Katalogisasi, Referensi dan Biobliografi, Seleksi dan Akuisisi, Abstrak dan Indeks, Promosi Perpustakaan, dan sebagainya. Mata kuliah yang sangat aneh di mata teman-teman lain jurusan dan fakultas. Ah, tentu, saya pun menikmati mata kuliah yang tak spesifik tentang perpustakaan. Pengantar Ilmu Hukum, Ekonomi, Antropologi, Sosiologi, Politik, Komunikasi, Psikologi, Filsafat, dan sebagainya.


Saya senang melihat buku-buku tersusun rapi.  Saya senang menikmati saat-saat mengolah buku hingga siap dibaca. Salah satu “buku suci” dalam pengolahan buku di perpustakaan adalah buku Dewey Decimal Classification (DDC). Sistem ini merupakan sistem penomoran buku yang paling populer di dunia.


Saya sangat menikmati saat-saat membaca cepat sebuah buku untuk menemukan subjek buku tersebut lalu mencari nomor yang sesuai dalam sistem DDC. Tak semua buku mencantumkan Katalog Dalam Terbitan (KDT) yang mempermudah pengolahannya di perpustakaan. Banyak buku terbitan Indonesia yang tidak mencantumkan KDT. Penomoran ini tentu harus tepat subjek. Jika salah menggolongkan, buku itu pun akan “tersesat”, berada di rak yang tidak tepat hingga pada ujungnya akan mempersulit temu balik informasi (information retrieval).


Membuat abstrak dan indeks buku pun merupakan proses yang menyenangkan bagi saya. Buku setebal ratusan halaman harus diabstraksi menjadi tak lebih dari dua puluh baris. Tak selalu mudah, tetapi selalu memberi tantangan.  Di sini terasa sekali, semua mata kuliah pengantar yang seolah tak berhubungan dengan Ilmu Perpustakaan itu ternyata sangat berguna.  Ada dasar untuk memahami topik yang dibahas dalam sebuah buku.


Begitu pun ketika membuat indeks buku. Menentukan kata-kata kunci untuk memandu pengguna menemukan informasi penting dalam sebuah buku secara cepat. Kesukaan membaca membuat saya menikmati semua proses ini. Mungkin menjemukan bagi sebagian orang, tapi menantang bagi saya.

***


Setelah lulus, saya bekerja sebagai pustakawan di beberapa lembaga pendidikan di Jakarta dan Bogor. Sebuah konsekuensi logis dari disiplin ilmu saya, bukan?


Keluar dari dunia teori dan masuk ke dunia kenyataan. Ternyata, perpustakaan yang disebut-sebut sebagai jantung pendidikan tak selalu diperhatikan secara serius. Kondisi perpustakaan sering menyedihkan. Buku-buku yang ada sudah usang dan tak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan diperlakukan seperti gudang. Buku-buku yang tak terpakai di bagian lain, dilungsurkan ke perpustakaan. Buku-buku itu pun sering menumpuk di mana saja, asal dijejalkan ke dalam rak.


Di hari pertama  bekerja di perpustakaan di sebuah lembaga pendidikan, saya menemukan buku tentang nahwu dan sharaf diberi label 570 dan diletakkan di bagian Science. Saya pun menemukan buku serial Chicken Soup diletakkan di rak yang sama dengan buku makanan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.


Ternyata, kata sharaf “nahwu dan sharaf” diartikan sebagai saraf, berarti masuk ke Biologi (570). Sedangkan buku-buku Chicken Soup dianggap sebagai buku tentang cara memasak sup ayam!


Ketidakmengertian (atau ketidakpedulian?) pimpinan lembaga akan perpustakaan menjadikan perpustakaan hanya dilirik jika ada akreditasi, open house, atau kunjungan dari lembaga lain.  Pengelolaan perpustakaan pun diserahkan pada sembarang orang.

Bagaimana bisa membuat orang lain cinta membaca buku jika pengelolanya saja tak senang membaca?


***


Meski tak lagi bekerja di perpustakaan, kecintaan saya pada buku tak luntur. Jika dulu  menjadi orang yang mengolah buku, sekarang saya menjadi orang yang menulis buku sekaligus membidani kelahiran buku. Setelah menulis dan mengedit puluhan buku, saya semakin mencintai jalan ini. Jalan buku.


***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...