19 July 2014

[Resensi] Astravalor Princess



Astravalor Princess,
Sang Pengelana Antardimensi

Apa yang Anda rasakan jika Anda tidur di kamar Anda tetapi terbangun di tempat lain, tempat yang sama sekali berbeda dengan tempat yang ada di bumi?
Bagi sebagian orang, lorong waktu, time machine, atau perjalanan melintasi ruang dan waktu adalah topik yang menarik untuk diperbincangkan. Mungkinkah perjalanan seperti itu bisa terjadi?

Ketertarikan pada hal ini memunculkan banyak film tentang perjalanan dengan menggunakan mesin waktu itu. Sebut saja misalnya film Men in Black III, The Butterfly Effect, Déjà vu, Time Machine, atau film serial TV yang terkenal pada tahun 1990-an, Quantum Leaps. Cerita tentang penjelajahan waktu itu pun bisa ditemukan di novel The Time Machine karya H.G Wells, misalnya.
Bagi sebagian orang lainnya, konsep perjalanan melintasi ruang dan waktu bukanlah sesuatu yang aneh. Perjalanan ini terjadi ketika tubuh fisik sedang tidur. Pada saat itu, tubuh nonfisik melakukan perjalanan di dunia astral. Richard Craze (2009: 46) menyebutkan bahwa dunia astral tidak dipandang sebagai dunia fantasi, sebagai kebalikan dari realitas fisik dunia ini, tetapi berada sejajar dengan dunia fisik.


Melintasi Dimensi
Astravalor Princess berkisah tentang Freya Alexandra, seorang gadis remaja di Bali. Cerita dibuka dengan berakhirnya hubungan Freya dan Jason yang telah berjalan selama satu tahun. Jason yang mempunyai penglihatan mata ketiga tak tahan lagi karena merasa ketakutan. “Aku nggak suka waktu kita lagi berdua, ada yang ngintip atau menatapku, apalagi sorot matanya penuh kebencian. Terus, makhluk menyeramkan itu mengancam setiap kali aku berusaha mendekatimu.” (halaman 9-10)
Meski menjalani hidup secara normal di Legian―kuliah, kerja sambilan untuk mendapatkan uang saku, membantu orangtua―Freya bukanlah gadis biasa. Pertemuannya dengan Raiden Shiryu, penguasa negeri Syushin di dunia astral membuatnya memiliki kekuatan yang tak biasa. Freya menjadi astravalor, pengelana yang mampu melepaskan roh dari tubuh untuk melintasi dimensi.
Kehidupan normal Freya hilang ketika ia dalam keadaan tak sadar, kehilangan fokus, terlalu berfokus, atau dalam kondisi emosional. Dalam kondisi seperti itu, rohnya lepas begitu saja dan ia mengembara di dunia astral. Ia mengalami lebih daripada yang dialami oleh Jason dan Aul yang sama-sama memiliki mata ketiga. “Nggak heran kamu selalu marah kalau aku menyebut tentang penglihatan.” (halaman 84)
Kelebihan itu tak membuat Freya bahagia. Ia justru merasa tersiksa. “Aku benci diperlakukan sebagai spesies aneh. Keluarga Ayah malah menganggapku sakit jiwa, bukan sekadar aneh.” (halaman 53). Anggapan bahwa Freya adalah aneh dan sakit jiwa membuat Freya harus bolak-balik berurusan dengan psikiater dan “orang pintar”. 
Dari hari ke hari, Freya merasa kehidupannya semakin mengerikan. “Semua ini terdengar mustahil dan absurd. Tapi aku merasakan sendiri mengerikannya terbangun di tempat asing atau melihat makhluk aneh mondar-mandir di depanku.” (halaman 57). 

Perkenalannya dengan Tommy Angelo dan Chen Feng tak membuat hidupnya menjadi lebih mudah. Kedua cowok tampan itu sama-sama menyimpan misteri. Belum lagi para iblis dan penyihir hitam mengincar nyawa Freya karena kedekatan gadis itu dengan Raiden Shiryu, sang penguasa negeri astral.
Siapa Tommy Angelo dan Chen Feng sebenarnya? Di pihak manakah mereka berada? Berhasilkah Freya kembali ke kehidupannya yang normal tanpa bersentuhan dengan dunia astral?

Fantasy Thriller
Novel fantasy thriller yang menyajikan cukup banyak adegan flashback ini khas novel-novel karya Putu Felisia: mempunyai setting lokasi di Bali, romance, dan menghadirkan cowok-cowok tampan berciri fisik Asia Timur. 

Adegan-adegan flashback itu sepertinya tak terhindarkan mengingat apa yang dialami Freya di masa kini sering terasa seperti déjà vu, pernah dialami di masa lalu. Sudut pandang orang pertama (aku:  Freya) yang digunakan oleh penulis membuat perasaan, ketakutan, dan konflik batin Freya sebagai seorang astravalor dapat tereksploitasi dengan baik.
Sedikit kekurangan pada buku ini adalah pada penggunaan kata “acuh” yang salah kaprah (halaman 30 dan 80).
Astravalor Princess membuka pemahaman pada pembaca mengenai sisi lain anak-anak  berkemampuan khusus. Mereka tetap manusia yang butuh dipahami, bukan divonis dengan berbagai anggapan yang salah.



Judul     : Astravalor Princess
Penulis   : Putu Felisia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit     : Maret 2014
Tebal      : 230 halaman
ISBN     : 978-602-03-0287-4
***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...