07 July 2014

Serunya Nulis Novel Duet: Behind The Screen Novel DIMENSI

Nulis duet? Nama saya memang pernah tertera di cover buku berdua dengan orang lain. Di buku Dari Do It Menjadi Duit dengan Ibu Yanty Isa (pengusaha) dan di buku Keajaiban Cinta Rasul dengan Arif Rahman Lubis (ustaz). Namun, posisi saya di sana adalah sebagai co-writer. Kalau benar-benar menulis buku secara duet ya baru di novel DIMENSI ini.




Mulai Duet
Awalnya saya dan Rassa sering inbox-an di FB dan SMS-an. Lalu, suatu hari di bulan April saya iseng bilang, “Sa, nulis duet yuk. Tentang anak indigo.”

SMS balasan dari Rassa sampai tanpa pakai lama. “Yuk! Sa juga udah mikir kayak gitu, Mbak.”

Nah, beres deh. Ide besarnya udah sama. Ini penting, lho. Bayangin aja kalo dua orang nulis duet tapi yang satu nggak tertarik dengan tema yang akan digarap. Jadi, poin pertama adalah: minat harus sama.

Beres dengan tema, membuat karakterisasi.  Saya membuat karakter  Keira Luvena. Keira ini cewek periang, punya kadar kebawelan di atas rata-rata, dan girlie banget. Repotnya, Keira ini gampang panik dan suka mikir kejauhan. Rassa  membuat karakter Zhafira Massawa. Zha ini tomboy banget, suka main basket, dan indigo.

Supaya lebih rame, mesti ada tokoh cowoknya, dong. Kami memunculkan tokoh Aldiano Dewanto dan Sam August sebagai teman Keira dan Zha di di SMA 215 Bandung. Juga ada Keanu, adik semata wayang Keira.

Selanjutnya, membuat outline. Sebenarnya saya nggak selalu pakai outline untuk menulis novel. Itu sebabnya kalau ada yang nanya “Mesti pakai outline nggak sih kalau mau nulis novel?”, jawaban saya adalah nggak harus. Sesuaikan aja dengan kebutuhan.

Untuk novel duet ini saya menganggap perlu-wajib-kudu-harus pakai sinopsis dan outline bab per bab, dari bab 1 sampai bab terakhir.  Tanpa outline, bakal repot, deh. Dua orang lho yang nulis. Cerita pun akan berpotensi ngalor ngidul ke 16 penjuru mata angin.

Setelah sinopsis dan outline ini jadi, kami tentukan siapa menggarap bab berapa. Untuk tiap bab, kami targetkan selesai dalam waktu satu minggu. Pada praktiknya, sih, saya cuma bisa nulis pada hari Sabtu dan Minggu. Pada hari-hari lainnya, kan, saya mesti kerja.

Deadline yang kami sepakati adalah 21 Mei 2013. Kenapa 21 Mei? Hehe…. Soalnya setelah itu saya mau konsen nulis naskah LIMIT buat diikutkan dalam Lomba Novel Bluestroberi Penerbit Ice Cube (LIMIT ini kemudian jadi salah satu pemenang lomba novel tersebut. Terbit bulan Maret 2014. Begini-BegitunyaNovel LIMIT).

Nyatanya sih, sambil menunggu Rassa menulis bagiannya (untuk kemudian saya lanjutkan), saya sudah mulai menulis novel LIMIT.

Yuuup, tepat banget. Saya jadi menulis dua novel sekaligus dalam satu periode waktu. Repot juga ternyata. Nama Keira pernah nyasar ke novel  LIMIT, dan nama Keala pernah tersesat ke novel DIMENSI.  Untung hanya nama yang nyasar karena karakter dua cewek bernama mirip ini jauh berbeda.

Sooo, poin kedua dalam menulis novel duet adalah membuat karakterisasi dan outline bab demi bab. 

Dengan outline dan jadwal begini, kami berhasil menyelesaikan naskah ini tepat waktu.  Selesai menulis, giliran self-editing. Lalu, tanggal 28 Mei 2013 naskah ini meluncur ke Penerbit Elex Media Komputindo.


Riset
Dalam novel ini ada beberapa adegan masa lalu. No! Bukan masa lalu yang seminggu atau sebulan lalu. Masa lalu di sini adalah puluhan hingga ratusan tahun yang lalu. Jadi, kami pun riset dengan cara kami masing-masing.  Mbah Google dan Youtube berjasa banyak banget untuk ngasih info tentang Bandung tempo doeloe.  Saya pernah sampai nggak tidur gara-gara keasyikan nonton di Youtube.  Beberapa film dokumenter saya tonton berkali-kali.

Dalam riset ini, ada satu hal yang bikin saya gregetan dan kesel banget. Tau apa? Saya nggak berhasil menemukan kliping Bandung Tempo Doeloe milik saya. Huaaa….! Sebel! Itu koleksi saya sejak zaman kuliah dulu. Kebanyakan isinya adalah tulisan (alm) Haryoto Kunto yang dimuat di harian Pikiran Rakyat. Saya kumpulkan sedikit demi sedikit dan sekarang… saya lupa di mana nyimpen kliping itu … :(

Riset yang dilakukan Rassa? Hm… kasih tau nggak, yaaa? Hehehe…..


Judul
Awalnya, judul naskah ini adalah DREAMER. Namun, editor saya, Mbak Andri berpendapat judul ini kurang nendang. Setelah diskusi dan diskusi, akhirnya kami semua sepakat menggunakan judul DIMENSI.

Seneng rasanya dieditori oleh Mbak Andri. Sama seperti Mbak Afri yang mengeditori novel saya IT’S NOT A DREAM (behind the screen-nya bisa dibaca di sini), Mbak Andri juga kooperatif, teliti, dan cihuy banget. Bagaimanapun,  mata editor dan penulis itu berbeda.  Editor sering melihat apa yang tak terlihat oleh penulis. 

Oya, sebelumnya naskah ini dipegang Mbak Nana Kusuma. Namun, karena Mbak Nana resign, naskah ini pindah ke Mbak Andri. Nggak masalah, sih. Dua-duanya editor yang keren dan cihuy banget.

Nah, sekarang tunggu apa lagi? Yuk, langsung ke toko buku untuk mengadopsi novel DIMENSI.

***
DIMENSI. Penerbit Elex Media Komputindo, Juli 2014. Rp38.800.




"Orangtua Zha dipindahtugaskan ke Bandung. Hari pertama bersekolah di kelas XI IPS SMA 215, Zha langsung tour de school ditemani gadis terbawel di kelas itu, Keira. Bukan cuma bawel, Keira juga hobi ribut dengan Aldi, teman sekelas mereka.
 
Tapi, bukan itu yang membuat Zha terganggu. Aura sekolah itu hitam. Sukma Zha serasa ditarik-tarik. Sudah berkali-kali ia berintradimensi ke masa lalu. Dan kali ini, ada seorang gadis di masa lain yang butuh pertolongannya. Haruskah Zha menolong kalau nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya?"



***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...