17 July 2014

Surat Untuk Presiden *



Kepada
Yth. Presiden dan Wakil Presiden
yang telah saya pilih secara langsung

Bapak Presiden dan Wakil Presiden yang saya hormati,
Saya seorang ibu, seorang perempuan, seorang warga negara yang sering merasa prihatin, sedih, dan perih melihat kenyataan yang terjadi di sekitar saya setiap hari. Maukah Bapak mendengarkan keinginan saya?


Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden,
Saya ingin sekali kita tak direpotkan lagi dengan bau sampah. Duh, mengapa dengan sampah saja kita bisa kalah? Tempat pembuangan sampah hanya menjadi tempat penumpukan sampah. Pemisahan sampah organik dan anorganik di tempat-tempat umum pun menjadi percuma. Ketika diangkut, sampah-sampah itu tercampur lagi. 

Apakah itu menunjukkan tidak adanya koordinasi dan perencanaan yang matang dan sepenuh hati? Di negara lain sampah bisa dijadikan pembangkit gas, listrik, dijadikan barang daur ulang bernilai seni dan ekonomis, bahkan bisa menjelma menjadi sebuah pulau. Mengapa kita tidak bisa?
Terus terang Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden, sebagai warga dari negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, dengan para pemimpin yang bergelar haji dan hajjah, saya malu. Malu karena kita belum bisa menjadikan kebersihan sebagai sebagian dari iman kita. 
Bagaimana mungkin kita bisa mengajarkan anak-anak kita untuk hidup bersih dan membuang sampah pada tempatnya jika di mana-mana mereka melihat gundukan sampah setinggi bukit?

Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden yang saya hormati, 
Ketika saya datang ke TPS untuk memilih, hati dan benak saya dipenuhi harapan. Harapan bahwa saya tidak salah memilih. Harapan bahwa kehidupan akan menjadi lebih baik setelah ini. Ya, saya tahu, presiden dan wakil presiden terpilih tidak akan tiba-tiba membuat saya menjadi kaya raya. Saya memilih presiden, bukan pesulap apalagi penyihir.

Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden yang saya hormati,
Pernahkah Bapak membaca riwayat Nabi Muhammad Saw.? Beliau pemimpin besar, namun hidup sederhana. Atau mungkin Bapak membaca mengenai riwayat Khalifah Umar bin Khattab. Beliau pemimpin sebuah negara, namun tak segan mengangkat karung berisi gandum untuk diberikan pada rakyatnya yang kelaparan.
Ah, tidak, Pak. Saya tidak berharap Bapak akan memanggul karung itu. Saya hanya berharap Bapak dapat memberikan contoh yang baik pada kami, rakyat negeri ini.
Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden yang saya hormati,
Saya menaruh harapan pada Bapak. Saya menaruh kepercayaan pada Bapak. Saya percaya, dengan suri teladan yang baik dan konkret dari Bapak berdua, kita akan menjadi bangsa yang besar. Bukan besar korupsi, besar utang, besar gengsi, atau besar omong tanpa perbuatan nyata. Namun besar dalam karya, besar dalam prestasi, besar dalam kesederhanaan.

Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden,
Saya akan terus mendukung Bapak selama Bapak tak mengkhianati kepercayaan yang saya berikan. Kepercayaan yang kami, rakyat negeri ini, berikan.
Saya sungguh berharap pada Bapak. Saya tahu, tak mudah bagi Bapak berdua mengemban amanah sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Sama tak mudahnya seperti menjadi seorang ibu yang harus membentengi anak-anaknya dari serbuan pengaruh negatif.  
Saya percaya Bapak bisa. Saya selalu berdoa agar Bapak senantiasa berada di jalan yang benar, diberi kemudahan, kekuatan, dan kesehatan dalam membawa bangsa dan negeri ini ke arah yang lebih baik.

Oh ya Pak. Salam dari kedua putri kembar saya. Dua putri kembar yang tadi siang mempertanyakan keimanan bangsa kita, bangsa yang menumpuk sampah di mana-mana. Pertanyaan yang sungguh sulit saya jawab.

Hormat saya,
Alika Anindita**



Catatan:
* Dicuplik dari cerpenku "Surat Untuk Presiden" yang ada di dalam buku kumcer Braga Siang Itu.
** Tentang siapa Alika Anindita dan mengapa ia menulis surat seperti ini, silakan baca dalam buku Braga Siang Itu (Penerbit Andi, 2013). Dapat dibeli di toko-toko buku, toko buku online, atau ke website Penerbit Andi.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...