31 August 2014

Behind The Story Noomic CERMIN dan THE SHY


Eh, jadi mau cerita tentang behind the story noomic Cermin atau The Shy, nih?

Hehe... dua-duanya. Dua noomic ini harus diceritain bareng. Jadi, ceritanya begini.

Akhir tahun 2012 saya baca info tentang sebuah agency naskah yang nyari naskah kumcer horor.  Kebetulan saya punya stok beberapa cerpen horor dan beberapa lagi masih dalam bentuk premis beberapa baris.

Saya baca baik-baik aturannya, lalu saya mulai menulis. Januari 2013 naskah itu saya kirim. Waktu tau saya kirim naskah lewat agency, seorang teman saya komen, "Ngapain lo kirim lewat agency?"

Haha... saya juga nggak tau kenapa. Udah lama tuh kejadiannya. Saya juga udah lupa alasannya. Yang jelas, jalan saya ternyata memang bukan lewat agency. Jalan saya ya... yang saya tempuh sejak buku pertama saya: kirim langsung ke penerbit besar.


Sampai waktu yang ditentukan, tak ada ada jawaban. Perpanjangan waktu sebulan, belum juga ada jawaban. Akhirnya, naskah itu saya tarik baik-baik. Setelah itu, apa langsung saya kirim ke penerbit lain? Hehe... nggak juga, tuh. Mengendap aja di harddisk. Saya narik naskah itu cuma karena nggak mau digantung lama-lama tanpa kepastian, bukan karena mau kirim ke penerbit lain.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba dapat ilham *halah* buat ngirim naskah itu ke sebuah penerbit besar. Nggak ngerti juga kenapa kepikiran ngirim ke sana karena setau saya penerbit itu nggak nerbitin naskah seperti yang saya tulis. Well, kadang-kadang saya memang absurd.

Editor yang menerima naskah itu ternyata sukaaa sama naskah saya. Cuma masalahnyaaa... penerbit itu nggak nerbitin naskah seperti naskah saya itu. Hehe....

Berbulan-bulan berlalu. Seorang teman membawa naskah saya ini ke Penerbit Anak Kita (Grup AgroMedia). Dan ternyata berjodoh. 

Emh... tunggu, tunggu. Kita lagi ngomongin naskah Cermin atau The Shy, sih?

Lagi ngomongin dua-duanya. :) Naskah yang saya kirim hanya satu. Judulnya The Shy: Aku Melihatmu, Apa Kau Melihatku?. Tapi karena dianggap terlalu tebal untuk sebuah buku anak yang berbentuk noomic alias novel comic, naskah ini dipecah menjadi dua buku. Tujuh cerpen masuk ke noomic Cermin, dan tujuh cerpen lagi masuk ke noomic The Shy.



Jungkir Balik Merevisi
Naskah ini di-acc dengan catatan: revisi. Usia tokoh utama dalam semua cerpen itu harus diturunkan. Dalam naskah asli saya, para tokohnya berusia 17-19 tahun. Sesuai usia saya, deh :D Maksud saya, usia tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel saya.


Nah, karena ini akan menjadi noomic untuk anak-anak preteen, usia harus diturunkan ke kisaran usaia 11-14 tahun. Menurunkan usia tokoh, berdampak langsung pada cerita. Iya dong. Kalau semula saya tulis tokohnya ke sekolah naik motor, di noomic preteen ini nggak mungkin. Halooo.... mari kita cegah anak-anak di bawah umur mengendarai motor.

Jadi, adegan bermotor pun diubah menjadi bersepeda. Eh, nggak ada hubungannya lho antara setting cerita yang semuanya di Bandung dengan Wali Kota Bandung, Kang Emil, yang suka bersepeda :D Cuma menyesuaikan dengan usia tokoh cerita. Tapi kalo mau dihubung-hubungkan, boleh juga kok. :)

Adegan-adegan lain juga banyak yang harus dihapus. Nggak ada deh adegan pacaran di sini. Bahkan, "makhluk seram" yang ditampilkan di sini pun tak boleh yang seperti pocong dan kuntilanak. Aaah, kebetulan banget. Saya memang nggak suka cerita horor dengan seperti itu. 

Cermin, noomic soft horror untuk preteen.
Ternyata itu aja nggak cukup. Saya mentok di dua cerpen. Saya coba merevisi gimana juga, tetap nggak bisa-bisa. Buntu banget. Akhirnya, saya kirim email ke editor saya.

"Mbak, saya nyerah deh untuk dua cerpen ini. Saya buat dua cerpen baru aja sebagai pengganti, ya."

Editor saya yang teliti dan asyik buat kerja sama ini setuju.Jadi, saya pun membuka-buka stok ide di hape saya, mencari dua ide yang bisa cepat saya kembangkan menjadi cerpen. Btw, baru kali ini saya merevisi sebanyak ini :)

Selesai revisi naskah, masuk ke bikin komiknya, deh. Waaah, saya seneng banget. Gambar-gambar karya komikusnya (Adit di Cermin dan Mas Didit di The Shy) bagus-bagus. Di sini saya juga dikasih kesempatan untk ngasih masukan kalau ada gambar yang kurang sesuai.

Pada dasarnya gambarnya udah keren, sih. Masukan dari saya paling-paling cuma untuk detail kecil yang mungkin terlewat oleh Mas-Mas Komikus. Misalnya tokoh yang mestinya berambut pendek malah digambar berambut panjang.

Saya juga selalu dikasih lihat progress komik-komiknya. Udah sampai tahap apa aja, udah direvisi gimana aja, dsb. Lumayan, tuh. Sekali kiriman bisa sampai 25 MB. Pernah suatu kali, inet di rumah sedang lola surola. Jadi, selama proses donlod, saya sambi ngerjain yang lain. Malah sempat saya tinggal masak buat makan malam dan shalat Magrib.

Selesai shalat Magrib, masuk ke ruang kerja, jreeeng.... ngeliat komik yang dikirim Mbak Editor. Hiyaaah.... saya lupa kalau tadi sedang donlod komik-komik itu. Akhirnya cuma save-save aja, nggak saya perhatikan detailnya. Heu, udah malem, Besok aja, deh :p



Akhirnya... Terbit!
7 Agustus 2014, Cermin terbit. Agak sesak napas juga, sih, mengingat tepat sebulan yang lalu dua novel teenlit saya juga lahir di penerbit lain. Mari kencangkan promosi. :)

Dan ternyata saya harus segera cari tabung oksigen. Saya nggak boleh sesak napas lama-lama karena... The Shy akan segera menyusul, dijadwalkan terbit bulan September 2014 ini.


Panjang ya tulisan saya? Eh, maksud saya, panjang ya perjalanan naskah ini hingga akhirnya menjadi buku, tepatnya menjadi dua buku? Perjalanan panjang yang berakhir indah :)  
Cermin. Terbit 7 Agustus 2014

The Shy. Segera terbit September 2014
 Baca Juga

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...