28 August 2014

Beragam Pilihan Al-Qur'an, Utamakan Manfaatnya



Al-Qur’an yang belum pernah ada di Indonesia? Wah, ini pertanyaan susah. Saya bingung menjawabnya. Bukan apa-apa. Sepertinya semua yang terpikir oleh saya, sudah ada. Beragam pilihan Al-Qur'an ada di toko buku. Mau yang dilengkapi fikih untuk wanita? Ada. Mau yang dilengkapi terjemahan dan di-highlight pada tema tertentu (misalnya sains)? Ada.  

Mau yang dengan diwarnai sesuai hukum tajwid? Beda hukumnya, beda warnanya? Ada.

Mau yang mungil hingga mudah dibawa bepergian? Ada.
Mau yang hurufnya besar-besar agar mudah dibaca? Ada
Mau yang kemasannya berwarna manis dan feminin? Ada.

Mau yang bisa dibunyikan dengan menggunakan e-pen? Ada.
Mau yang digital dan bisa diakses dari smartphone? Ada.


Jika ke toko buku dan berada di bagian toko buku yang menjual  Al-Qur’an, saya sering menghela napas kagum. Masya Allah. Bagus-bagus sekali kemasan Al-Qur’an sekarang ini.  Umat Islam sungguh dimanjakan, difasilitasi untuk mencintai Al-Qur’an.
Syaamil Tabz, tablet dengan aplikasi islami. (foto diambil dari: bandung.bisnis.com)

Al-Qur'an di Rumah

Saya bandingkan dengan Al-Qur’an yang ada di rumah saya. Sepertinya terakhir kali yang baru di rumah adalah ketika ibu saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun lalu. Yang lainnya sudah berusia cukup tua. 

Ada Al-Quran berukuran setelapak tangan yang dulu sering saya bawa jika pergi-pergi (huruf-huruf di mushaf mungil itu terlihat menari-nari di mata saya *benerin kacamata plus minus silindris*) Ada juga Al-Qur’an yang berukuran besar. Bapak (alm) mengaji dengan mushaf ini. Di pinggir-pinggir halamannya masih ada tulisan tangan Bapak, sampai ke halaman itu pada tanggal berapa.
Al-Qur’an (terjemahan) paling tua yang ada di rumah saya adalah terbitan tahun 1975. Lembar-lembar kertasnya sudah kecokelatan dan berhias bercak-bercak. Bagian pinggirnya berhias kertas-kertas mungil penanda surat. Kertas putih yang digunting kecil-kecil lalu ditempel dengan selotip. Sepertinya waktu itu belum ada kertas post it. Yang jelas, pada masa itu belum ada Al-Qur’an dengan tampilan seperti sekarang.

Al-Qur'an terjemahan jadul milik Bapak (alm),
terbitan Hidakarya Agung Jakarta, tahun 1975, cetakan ke-16.

Kebutuhan dan Nilai Tambah

Jika ditanya ingin, tentu saja saya ingin memiliki Al-Qur'an yang baru-baru itu. Namun, karena saya berprinsip “dahulukan kebutuhan daripada keinginan”, niat itu belum terlaksana. Maksud saya begini. Saya tidak mau beli hanya karena “Iiih….imut bangeeeet…. Kavernya warna pink. Manisnyaaa.”

Adakah nilai lebih dari Al-Qur'an yang dikemas imut manis unyu itu? Kalau tidak, ya sudah. Tidak usah. Toh isinya sama saja seperti yang ada di rumah. Jumlah juz, surat, dan ayatnya sama. Bunyi setiap ayatnya juga sama, kan? Ya iyalah. Kalau beda justru harus dipertanyakan dan ditarik dari peredaran.

Nah, kalau bicara “yang dibutuhkan”, tentu harus yang ada nilai tambahnya dan sesuai dengan kebutuhan. Sebenarnya saya ingin sekali memiliki Al-Qur’an dengan terjemahan yang di-highlight pada tema-tema tertentu, sekaligus highlight berbeda pada masing-masing hukum tajwid. Itu untuk saya dan si sulung yang suka membaca.

Untuk si bungsu yang tipe audio, duh saya ingin sekali punya yang digital. Si bungsu yang seperti gasing (alias susah diam) ini mudah menghafal dengan mendengar. Susah memintanya duduk diam  tapi dia bisa sangat tenang dan berfokus jika sedang mendengar murotal Al-Qur'an. Katanya, ia  ingin menjadi hafiz Qur'an. Insya Allah, ada rezeki untuk itu.

Ah, dasar ibu-ibu, ya. Kalau ditanya “apa yang dibutuhkan”, tetap saja kepikiran anak. :)


Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog
#PameranBukuBdg2014 Hari ke-3

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...