30 August 2014

Berharap pada Ikapi




Apa semua tahu tentang Ikapi?

Saya sudah lama tahu tentang Ikapi, tapi saya tidak yakin semua orang tahu tentang Ikapi. Jangan-jangan Ikapi malah dianggap sebagai peserta Indonesian Idol yang tereliminasi di babak audisi. 

Meski sudah lama tahu tentang Ikapibahkan sekarang bekerja di bidang yang berada dalam naungan Ikapiterus terang saya tidak tahu banyak tentang kiprah Ikapi.

Entah saya yang kudet alias kurang apdet, atau memang Ikapi yang tak terdengar suaranya. Yang paling terdengar adalah rutinnya Ikapi mengadakan  pameran buku di berbagai daerah di Indonesia (walaupun belum merata di seluruh daerah). 

Sebagai satu-satunya organisasi yang menghimpun penerbit-penerbit di seluruh Indonesia (pada tahun 2013 tercatat ada 1.126 penerbit yang menjadi anggota Ikapi), semestinya Ikapi dapat berbuat lebih banyak. Tidak hanya merangkul penerbit tetapi juga para penulis buku.


Bukan rahasia lagi, kebanyakan penulis bukanlah pegawai penerbit. Bahkan tidak sedikit  yang juga bukan pegawai kantor apa pun. Dengan kata lain, banyak penulis lepas yang menjadikan menulis sebagai mata pencaharian utama. Penghasilannya hanya dari royalti sebesar 5%-10% (itu pun masih dipotong pajak penghasilan sebesar 15%).

Memang, para penulis lepas ini bisa saja mendapat penghasilan tambahan dari menjadi trainer, pembicara, lomba menulis, dan sebagainya. Namun, seperti lazimnya pekerja tanpa kantor, penulis lepas tak mendapat fasilitas apa-apa. Jika ingin memiliki asuransi kesehatan dan dana pensiun, harus membuat sendiri. Tidak ada bantuan dari penerbit. Namun, masalah ini masih bisa diatasi karena ada lembaga-lembaga keuangan yang memungkinkan perorangan membuat dana pensiun dan asuransi sendiri. Masalah yang cukup sulit adalah ingin membeli rumah. Banyak penulis lepas yang kesulitan mengajukan KPR ke bank karena tak punya kantor.

Padahal, tanpa penulis apakah akan ada sebuah buku? Lebih spesifik lagi, tanpa penulis yang tercukupi pangan-sandang-papan, apakah akan ada buku yang berkualitas? 

Bisa dibayangkan, bagaimana penulis bisa menghasilkan karya berkualitas tinggi jika ia harus mengebut menulis sambil menahan lapar (bukan karena berpuasa)? Jangan-jangan, terbitnya LKS bermuatan kisah “Bang Mamat dari Kalipasir” beberapa waktu lalu juga karena sang penulis menggarap buku itu sambil memikirkan cara mendapatkan uang untuk membeli beras agar besok keluarganya bisa makan.


Harapan
Saya sangat berharap kebijakan dan program-program Ikapi dapat lebih menyentuh kesejahteraan penulis. Misalnya, memperjuangkan pengurangan Pph royalti yang 15% itu (kalau bisa sih bebas pajak) atau menetapkan jumlah rupiah minimal dalam setiap pembayaran royalti yang dikenai pajak. Sebutlah hanya royalti sebesar Rp25 juta per judul buku dalam satu periode royalti yang dikenai pajak 15%. Jadi, tidak akan ada lagi cerita penulis yang elus dada karena royaltinya yang hanya Rp300.000 per periode royalti yang sekali dalam enam bulan, masih dipotong pajak 15%.

 Memang, jika penulis mau repot, bisa mengurus lebih bayar pajak. Tapi, mendengar prosedurnya saja sudah pusing. Kenapa tidak dipermudah saja?

Saya juga berharap Ikapi lebih aktif bergerak dalam menumbuhkan minat baca masyarakat. Menumbuhkan minat baca tidak cukup hanya mengedrop buku-buku bacaan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah. Semakin tidak cukup jika buku-buku yang didrop itu tidak sesuai dengan usia anak didik di sekolah yang dituju dan kemasan buku-bukunya tidak menarik.

Selesaikah dengan mengedrop buku ke perpustakaan sekolah? Urusan drop-dropannya mungkin memang sudah selesai, tapi belum tentu dengan urusan minat baca. Bagaimana buku-buku itu bisa sampai ke tangan anak-anak yang menjadi sasaran jika buku-buku itu hanya ditumpuk dan disimpan di ruang kepala sekolah?


Andai Saya Pengurus Ikapi
Kalau saya jadi pengurus Ikapi? Hm… saya ingin Ikapi melakukan ini: 
  1. Mengusahakan pengurangan (atau bahkan penghapusan) Pph royalti penulis dan Ppn buku. 
  2. Mengoordinasi dan menjadi “payung” bagi para penulis (terutama penulis lepas tanpa kantor) agar mereka mendapat kemudahan ketika mengurus KPR ke bank.
  3. Menumbuhkan minat baca dengan cara meningkatkan kualitas buku yang didrop ke sekolah-sekolah, memperhatikan kesesuaian isi buku dengan usia siswa yang menjadi target, mengadakan pelatihan pada para kepala sekolah dan guru, dan mengadakan program writers go to school untuk lebih membangun unsur kedekatan.
  4. Mengadakan pameran buku dan kegiatan lain (workshop, talkshow, lomba, dsb tentang membaca dan menulis) di daerah-daerah, tak hanya terpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa. “Minat baca di sana rendah” justru menjadi alasan kuat untuk mengadakan acara tersebut di sana.
Sayangnya saya bukam tipe pemimpin, atau setidaknya hobi menjadi pengurus organisasi. Yang terbaik adalah menyerahkan suatu urusan pada ahlinya. Semoga tulisan saya ini bisa menjadi masukan bagi Ikapi.

Terakhir, omong-omong soal Ikapi, boleh narsis dikit kan? :)





Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog #PameranBukuBdg2014 Hari ke-5

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...