02 September 2014

[Buku Saya Diresensi] CERMIN: Aku Melihatmu, Apa Kau Melihatku?

Peresensi: Ila Rizky 
 
Indigo atau kemampuan sixth sense sering dianggap sebagai sebuah anugerah, sekaligus bencana. Bagi yang tak tahan dengan kemampuan ini, merasakan hal-hal aneh yang dialami dalam kehidupan justru membuat hati was-was. Apalagi bila mendapatkan penglihatan bisa melihat makhluk tak kasat mata, merasakan aura yang berbeda, dan mencium aroma anyir. Beragam kejadian beraroma mistis pun dirasakan oleh tokoh narator yaitu ‘aku’ dalam kumcer ini.


Triani Retno menuliskan tujuh cerpen yang dirangkum dalam novel komik bertajuk CERMIN. Naskah kumcer dipadukan dengan ilustrasi komik seorang komikus bernama Aditya Novianto sehingga memikat pembaca untuk melihat visualisasinya.




Cerpen pertama berjudul “Dilarang Memotret di sini”, dikisahkan Fayya dan teman sekelasnya mengunjungi museum dan mengalami kejadian aneh. Di museum itu jelas-jelas terpasang peraturan “Dilarang Memotret di Dalam Museum”. Namun, Kikan memaksa untuk berfoto. Fayya juga merekam suara saat pemandu tur menjelaskan. Dan tahukah kamu? Foto-foto di ponsel Kikan dan rekaman di ponselnya membuktikan bahwa larangan itu bukan sekadar larangan. Apa yang terjadi di museum sebenarnya?


Cerpen lainnya berjudul Kafe Biru Langit. Niki berencana membuat pesta ulang tahun keempat belas di Kafe Biru Laut. Kafe yang terkenal dengan pasta dan esnya yang sedap itu dipesan khusus untuk perayaan ulang tahun. Semua teman Ren suka makan di sana. Hanya Ren yang tak pernah, padahal pasta adalah makanan kesukaannya. Bukannya ia tak punya uang untuk makan di sana. Bukan. Tapi karena ada hal lain yang membuat ia tak berani menginjakkan kaki di sana. (Cerpen Kafe Biru Laut hlm. 75-91)

Cerpen terakhir yang berjudul CERMIN merupakan pamungkas dari buku ini. Berkisah tentang Diandra yang mendengar lagu ‘Fur Ellise’ mengalun. Ia pun bisa melihat sosok Brenda di sebuah cermin tua di sebuah rumah tua yang akan dijual pada bundanya. Hantu bernama Brenda itu membawa jiwa Diandra melihat suasana yang berbeda, dua anak kecil berlarian, mobil tua yang entah bermerk apa, seorang gadis keturunan Eropa yang ternyata meninggal disiksa tentara Nippon. Diandra dilema saat mendapat pesan yang dititipkan oleh Brenda. Dapatkah ia mewujudkan janji itu pada Brenda? (Cerpen Cermin hlm. 108-124)

Novel komik karya anak negeri bercitarasa lokalitas ini menggunakan latar kota Bandung lengkap dengan budayanya, seperti pelafalan huruf ‘F’ yang menjadi ‘P’, kata ‘eu’ yang membuat lidah para perantau sulit untuk mengejanya.

“Payya fayah, ah!” ledek Mita, sohib Kikan.
“Hus! Fayya payah!” ralat Kikan.
Mita bukan satu-satunya yang sering terpeleset lidah memanggil namaku ‘Payya’ dan bukan ‘Fayya’. Biasalah, lidah Sunda, kan, ciri khasnya memang gitu. ‘P’ jadi ‘f’, ‘f’ jadi ‘p’. Aduh, pusing. Tapi nggak apa-apa, deh. Yang penting aku nggak dipanggil ‘pepaya’ sajalah! Hihihi…
(Cerpen Dilarang Memotret Di Sini hlm. 5)

Ada empat cerpen lainnya yang bisa dinikmati di buku ini yaitu Promo, Sang Maestro, Pelangi Tanpa Ungu dan Kitty. Noomic atau novel comic memang bukan hal yang baru. Namun baru-baru ini, genre ini makin diminati oleh penerbit, termasuk oleh Penerbit Anak Kita yang membuka lini khusus Noomic. Segmen pembacanya pun beragam dari anak remaja yang berusia di atas 13 tahun, para pecinta komik, buku thriller maupun horor. 
Suspense yang disajikan penulis meramu jalinan kata menjadi kisah misterius dan membius pembaca hingga rasa penasaran tersibak. Buku ini bisa dilahap pembaca dalam sekali duduk di saat senggang lho. Kamu berminat membacanya? ;)


 ***

Link Asal
Buku saya ini diresensi oleh Ila Rizky di blog Resensi Kiky. Saya kopas di sini sebagai dokumentasi pribadi bagi saya. 

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...