25 August 2014

Ketersediaan Air Bersih, Tanggung Jawab Kita Bersama



Bulan Maret 2014 lalu, Kementerian Lingkungan Hidup RI memublikasikan hasil pemantuan kualitas air sungai di seluruh Indonesia. Pemantauan ini dilakukan di 57 sungai di 33 provinsi dengan menggunakan 20 parameter yang mengacu pada PP RI No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Hasil pemantauan tersebut menunjukkan angka yang sangat mengkhawatirkan. 

Sebanyak 80% sungai berada dalam kondisi tercemar berat, sedang, dan ringan.  Angka ini meningkat 4,8% dibandingkan pencemaran air pada tahun 2012.

Limbah rumah tangga dan limbah industri sama-sama berkontribusi dalam pencemaran sungai ini. Kali Brantas di Jawa Timur, misalnya. Sebesar 62% dari 330 ton limbah per hari di sungai tersebut berasal dari sektor domestik alias rumah tangga, selebihnya dari sektor industri.  Padahal, Kali Brantas ini menjadi sumber air bagi 16 juta jiwa.

Temuan ini jelas-jelas menunjukkan bahwa masalah pencemaran air dan ketersediaan air bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ketersediaan air bersih tanggung jawab kita bersama


Skala Rumah Tangga

Tak perlu menunggu komando dari pemerintah. Banyak hal yang bisa kita lakukan di lingkungan terkecil, keluarga sendiri. Jangan lupa, sektor domestik merupakan penyumbang besar dalam pencemaran air. Berikut hal-hal yang yang bisa dilakukan dalam skala rumah tangga.



1. Membiasakan menggunakan air bersih secara hemat.

Buang jauh-jauh pikiran seperti “Ini kan air dari sumurku sendiri. Suka-suka dong mau gimana juga” atau pikiran “Yang bayar tagihan air di rumahku kan aku, bukan tetangga. Terserah aku, dong. Uangnya juga uangku sendiri”.

Memang, sumur itu di halaman rumah kita. Memang, kita sendiri yang membayar tagihan pemakaian air bersih di rumah kita. Namun, bayangkan jika semua orang tidak peduli dan berpikiran sama seperti itu. Berapa banyak air bersih yang terbuang percuma?

Menghemat penggunaan air bersih itu bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  • Memastikan keran-keran air bisa menutup sempurna. Pastikan pula tidak ada bak penampungan air yang bocor. Keran yang tidak tertutup rapat dan bak yang bocor akan membuat air bersih terbuang percuma.
  • Menyediakan ember di kamar mandi atau di bawah keran air yang biasa digunakan untuk berwudhu atau mencuci tangan. Ember ini berguna untuk menampung cucuran air yang kita gunakan untuk berwudhu atau mencuci tangan dan kaki itu. Jika penghuni rumah ada lima orang saja, dan masing-masing berwudhu lima kali sehari, cukup banyak kan air yang bisa ditampung di ember ini? Air tampungan ini bisa digunakan untuk keperluan menyiram kloset, menyiram tanaman, membersihkan lantai kamar mandi, mengepel lantai, dan sebagainya.
  • Mencuci pakaian tak perlu dilakukan setiap hari. Saya sendiri biasa mencuci pakaian hanya dua kali dalam seminggu. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan cara ini: menghemat penggunaan air bersih, menghemat pemakaian listrik, menghemat penggunaan detergen dan cairan pelembut pakaian, serta efisiensi waktu. Sekarang malah sudah banyak cairan pelembut pakaian yang cukup satu kali bilas. Lebih hemat air lagi, kan?

  • Jika menggunakan air mineral dalam kemasan gelas untuk menjamu tamu yang berkunjung ke rumah, lalu tamu tersebut tidak menghabiskan minumannya, jangan buang air yang tersisa. Air ini bisa dikumpulkan di ember (seperti pada poin pertama).
  • Gelas minum di rumah bukanlah gelas-sekali-pakai-langsung-dicuci. Kita bisa menggunakannya selama satu hari, asalkan masih bersih. Gunakan tutup gelas agar tak ada kotoran, lalat, atau bahkan cicak masuk ke dalamnya.

2. Mengajak anak-anak untuk melihat sumber air secara langsung.

Anak-anak adalah harapan bangsa. Setuju dengan pendapat tersebut, kan? Jadi, tepat sekali jika sejak dini kita kenalkan mereka pada sumber-sumber air di sekitar kita, misalnya sungai dan mata air.


Kenalkan anak pada sungai dan manfaatnya bagi kehidupan manusia.
(Foto: dokumentasi pribadi, Lokasi: Ujung Berung, Bandung)


Ajak mereka berbicara tentang sungai yang mereka lihat. Pancing pendapat mereka tentang sampah yang menumpuk di sungai. Diskusikan apa akibat yang mungkin timbul dari sungai yang kotor seperti itu. Ini juga sekaligus mengajarkan pada mereka agar tidak membuang sampah sembarangan—dan sungai bukanlah tempat sampah.

3. Menanam pohon dan membuat lubang biopori.

Jika rumah kita memiliki halaman,  jangan tutup semuanya dengan paving block atau diplur semen. Tanami dengan pohon, lebih baik lagi pohon berakar tunjang yang menghunjam kuat ke dalam tanah, misalnya pohon tanjung dan pohon mangga. Pohon-pohon serupa ini menjadikan udara lebih bersih, suhu lebih rendah, sekaligus mampu mengikat dan menyimpan air hujan. Memang butuh waktu bertahun-tahun hingga pohon tersebut cukup besar. Jika bukan kita, anak keturunan kitalah yang akan merasakan manfaatnya.

Selain memanam pohon, alangkah baiknya jika sekaligus membuat lubang-lubang biopori di halaman rumah.  Salah satu manfaat lubang biopori ini adalah meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap  air.  Dengan begitu, bisa mengurangi risiko banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Jika poin 1 lebih berfokus pada penghematan air dan poin 2 pada edukasi, maka poin 3  ini menitikberatkan pada mempersiapkan ketersediaan air dan meminimalkan bencana yang mungkin ditimbulkan oleh air.  Dalam catatan sejarah, tak sedikit peradaban manusia yang punah akibat kekeringan, di antaranya adalah peradaban Cucuteni-Trypilian, peradaban Lembah Sungai Indus, dan peradaban Anaasazi.

Manusia dan Air Bersih

Manusia lebih dapat bertahan hidup tanpa makanan daripada tanpa air. Dr. Luciana B. Sutanto, MS., SpGK dari Departemen Ilmu Gizi FKUI, seperti dikutip oleh Men's Health Indonesia, menyebutkan bahwa air membentuk 70% tubuh, 85% darah, 80% otak, 75% otot, dan 90% sel tubuh.

Dengan kata lain, manusia tak bisa hidup tanpa air. Tak ada kehidupan tanpa air. Ketersediaan air bersih merupakan hal mutlak.

Apakah sekarang ini air bersih sudah tersedia dalam jumlah memadai? Sayangnya, jawaban atas pertanyaan ini adalah belum. Air sungai tercemar limbah. Air tanah keruh dan tercemar bakteri. Air minum isi ulang pun banyak yang tidak steril dari kuman dan bakteri. Lantas, hidup seperti apa yang kita harapkan di masa depan jika untuk minum pun sudah dihantui kecemasan?


Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju seharusnya dapat mengatasi persoalan air bersih ini.  Tinggal sejauh mana kemauan baik untuk mengaplikasikannya.

Aqua Group, sebagai perusahaan yang air minum dalam kemasan telah melakukan program pelestarian air dan lingkungan dengan konsep dari hulu ke hilir. Program ini merupakan upaya perusahaan dalam manajemen sumber daya air yang berkelanjutan untuk keperluan operasional dan sosial-lingkungan. 

Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah penelitian-penelitian yang terkait dengan sumber daya air, pendidikan lingkungan hidup, rehabilitasi saluran irigasi, pembuatan sumur resapan, biopori, dan penanaman pohon. Aqua Group juga mengalokasikan 60% lahan pabriknya sebagai lahan terbuka hijau.



Kegiatan penanaman pohon yang dilakukan oleh Aqua Group (Sumber: www.aqua.com)
Dengan program ini diharapkan kualitas dan kuantitas air tanah dapat terus terjaga. Kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan dan perubahan iklim pun dapat diminimalkan.

Aqua Group juga menekankan pemanfaatan air secara bijak dengan cara:
  • Mengurangi konsumsi air pada proses produksi di pabrik-pabriknya.
  • Mendaur ulang air bekas pakai pencucian galon dan keperluan domestik untuk dimanfaatkan kembali.
Indonesia yang lebih baik hanya bisa terwujud jika semua pihak mau bekerja sama dan terlibat aktif. Sebagus apa pun program yang dibuat oleh pemerintah, jika rakyat dan kalangan industri tidak memiliki kesadaran untuk berpartisipasi, maka program itu tidak akan memberikan hasil yang optimal.


Penyediaan keran air minum di tempat-tempat publik bukan hal mustahil
jika ada kemauan dari pemerintah bekerja sama dengan kalangan industri,
serta peran aktif masyarakat dalam merawatnya.
(Foto: dokumentasi pribadi. Lokasi: Masjid Salman ITB)
Sebagai warga masyarakat, kita dapat memulainya dari diri sendiri. Jika tak bisa melakukan recycle (daur ulang) air seperti yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan seperti Aqua Group, kita bisa melakukan reduce (mengurangi penggunaan air bersih untuk hal-hal yang kurang perlu) dan reuse (menggunakan kembali air bersih yang telah dipakai untuk keperluan lain, sebelum akhirnya membuang air tersebut).



Reuse. Air bekas membilas cucian masih bisa digunakan untuk menyiram kloset
atau menyiram jalanan di depan rumah yang kering. (Foto: dokumentasi pribadi)



Referensi

  • “7 Peradaban yang Hilang”. Seven Wow, 19 Februari 2013. Dilihat pada tanggal 24 Agustus 2014.  http://sevenwow7.blogspot.com/2013/02/7-peradaban-yang-hilang-secara.html.
  • “Air Mendominasi Tubuh Manusia”. Men’s Health Indonesia. Diunduh pada tanggal 24 Agustus 2014. http://www.menshealth.co.id/kesehatan/waras/air.mendominasi.tubuh.manusia/004/003/27
  • “Aqua Lestari”. Danone Aqua. Dilihat pada tanggal 24 Agustus 2014. http://www.aqua.com/aqua_lestari
  • Fauzi, Ashari. "Pencemaran Sungai Kian Memburuk". Ekuatorial, 25 Maret 2014. Diunduh tanggal 23 Agustus 2014. http://ekuatorial.com/id/forests/indonesian-pencemaran-sungai-kian-memburuk#!/story=post-6804
  • “Keunggulan dan Manfaat”. Biopori: Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan, 24 Agustus 2014.  Dilihat tanggal 24 Agustus 2014. http://www.biopori.com/keunggulan_lbr.php24 Agustus 2014.
  •  “Komitmen Ganda”. Danone Aqua. Dilihat pada tanggal 24 Agustus 2014. http://www.aqua.com/tentang_aqua/komitmen-ganda
 

Artikel ini diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik AQUA IV Kategori Blogger yang diselenggarakan oleh AQUA bekerja sama dengan BLOGDetik. 
http://blogdetik.com/2014/07/09/anugerah-jurnalistik-aqua-iv-kategori-blogger-berhadiah-total-32-juta/ 


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...