02 August 2014

Ketika Mimpi-Mimpi Menjadi Nyata






Ya ampuuun! Ke mana semua orang? Tega banget ninggalin aku sendirian di sini!” pikir Fayya panik. Ia langsung melesat, berlari sekencang mungkin. Namun, secepat apa pun Fayya berlari, pesawat itu tetap take off. Melayang di udara tanpa membawa dirinya. 
Fayya berdiri di tengah landasan pacu. Napasnya terengah-engah. Menatap layu pada pesawat yang kian tinggi. Kian jauh menuju Amsterdam. Fayya menghela napas, lalu memutar tubuh.

Di depannya kabut putih melayang turun, membungkus tubuhnya. Mengembalikan kesadarannya.
Tidur Fayya penuh mimpi. 
Mimpi-mimpi yang tak biasa.
  

“Aneh, ya, mimpi kok bisa terasa sampai ke alam nyata,” ujar Kriesta.
Fayya pun tak mengerti. “Kalau bisa request … aku pengin mimpiin Papi. Pengin jalan-jalan dengan Papi,” ujar Fayya pelan.
Kriesta tercekat. Potongan burger terakhirnya seakan menyangkut di tenggorokan. Ia buru-buru meminum air putih, mendorong paksa potongan roti itu. Glek.
Air mulai mengembang di mata Fayya yang sedang menatap gumpalan awan.
Mengikuti saran Kriesta, Fayya mencari buku Tafsir 1001 Mimpi. Tapi... mimpi-mimpinya bukan seperti itu. Mimpi-mimpinya bukan bahasa simbol. Sembilan orang yang dilaporkan hilang itu... ia pernah mendaki gunung bersama mereka. Mengejar matahari terbit di puncak gunung. Ia sangat ingat wajah mereka. Mereka adalah para pendaki yang meninggalkannya sendirian di puncak gunung dini hari itu. Di dalam mimpi.



Terganggukah Fayya karena mimpi-mimpinya yang aneh?


"Mau tau dari mana gue dapat ide cerpen Love in Perth yang dimuat di majalah Lovely? Dari mimpi waktu gue tidur! Tentu aja udah ditambahin bumbu-bumbu biar makin sedap. See? Mimpi aja bisa jadi ide."


Fayya suka nulis cerpen dan ngeblog. Ini salah satu postingan di blognya.
Oya, di blog Fayya selalu ber"lo-gue", tapi di keseharian ia lebih suka ber"aku-kamu".

Hingga suatu ketika, Fayya bermimpi Elvin pergi meninggalkannya....



Apa yang terjadi pada Elvin? Bisakah Fayya melakukan sesuatu agar Elvin tak pergi darinya? Dan hei, mau tahu kan bagaimana perjuangan Fayya mengirim cerpen ke majalah-majalah remaja?

 It's Not A Dream adalah novel teenlit yang berkisah tentang persahabatan, cinta, perjuangan meraih cita-cita, dan mimpi-mimpi tak biasa. Kamu yang hobi nulis dan hobi ngeblog, perlu baca novel ini biar ketularan semangat Fayya. Kamu yang sering bermimpi aneh, perlu baca juga nih. Mungkin kamu seperti Fayya. It's Not A Dream!
 

Penulis: Triani Retno A
Editor: Afrianty Pramika Pardede
Ukuran:
12.5 x 19.5 cm
Tebal: 161 Hlm
Penerbit:
Elex Media Komputindo, Juli 2014

Harga: Rp. 33.800
ISBN: 978-602-02-4440-2



Baca Juga

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...