15 August 2014

Mata Kuliah Apa yang Terpakai?



Mata kuliah apa yang terpakai di dunia kerja sekarang?

Saya beberapa kali menerima pertanyaan seperti ini dari adik-adik angkatan di kampus. Pertanyaan ini muncul karena saya sudah tidak bekerja sebagai librarian lagi. Saya memutuskan untuk "gantung ijazah" dan bekerja sesuai dengan hobi saya, menulis. Sejak tahun 2010 saya juga bekerja sebagai editor lepas di beberapa penerbit.

Tidak "gantung ijazah" bener-bener, sih. Kadang-kadang ada klien minta CV lengkap. Kalau sudah begitu ya saya cantumkan pendidikan terakhir saya, IPK, gelar kesarjanaan, dan riwayat pekerjaan. Yang minta CV seperti itu biasanya klien yang mencari editor lepas untuk naskah akademis. Namun, itu jarang terjadi. 

Lalu, sia-siakah semua mata kuliah yang saya dapat di bangku kuliah?





Kuliah dan Dunia Kerja
Ketika kuliah,  saya mendapat banyak mata kuliah pengantar yang wajib diambil. Pengantar Ilmu Komunikasi, Pengantar Ilmu Politik, Pengantar Psikologi Umum, Pengantar Sosiologi, Pengantar Antropologi, Pengantar Ilmu Hukum, Pengantar Ilmu Ekonomi, dan Pengantar Filsafat. Ada juga mata kuliah Sistem Politik Indonesia, Kewiraan, Ilmu  Alamiah Dasar, Asas-Asas Manajemen, Sosiologi Komunikasi, Psikologi Komunikasi, dan Komunikasi Pembangunan. Selain itu, tentu saja mata-mata kuliah jurusan, seperti Pengantar Ilmu Perpustakaan, Klasifikasi 1 dan 2, Katalogisasi 1 dan 2, Referensi dan Bibliografi 1 dan 2, Abstrak dan Indeks, serta Pendidikan Pengguna.

Waktu masih bekerja sebagai pustakawan, semua ilmu pengantar itu  memudahkan saya mengenali subjek buku.  Pengenalan subjek ini penting untuk penentuan nomor klasifikasi. Mata-mata kuliah yang spesifik tentang ilmu perpustakaan tentu saja sangat terpakai. (Kabarnya, sekarang mata kuliah pengantar yang seru-seru itu sudah tidak ada lagi di jurusan saya. Ah, sayang sekali.)

Sekarang, ketika saya bekerja sebagai editor lepas, semua ilmu pengantar itu juga memudahkan saya “mengakrabkan diri” dengan naskah yang saya edit. Familier dengan naskah yang diedit itu penting, lho. Minimal, bulu mata saya tidak mendadak keriting ketika menemukan nama-nama seperti Nichollo Macchiavelli, Sigmund Freud, dan Adam Smith. Mengeditnya pun bisa lebih enjoy.


Ketika mengedit naskah novel, bekal yang saya dapat dari semua ilmu pengantar itu pun berguna.  Novel kan tidak sekadar bercerita tentang cinta asmara. Ada novel yang berlatar budaya, sosial, dan sebagainya.

Bagaimana dengan mata-mata kuliah jurusan yang ilmu perpustakaan banget? Masih terpakaikah?

Jujur saja, tidak semuanya. Namun, materi yang pernah saya dapat di mata kuliah Katalogisasi serta Referensi dan Bibliografi sangat berguna untuk mengedit daftar pustaka (baca juga tentang Penulisan Daftar Pustaka). Materi kuliah Abstrak dan Indeks pun sangat berguna dalam membuat sinopsis naskah dan blurb (sinopsis yang ada di kaver belakang).

Itu dalam pekerjaan saya sebagai editor lepas. Sebagai penulis? Hm... apalagi itu. Minat saya luas. Jadi, saya bisa memberi banyak rasa pada novel-novel saya. Tak sekadar rasa cinta. Bagi saya, tidak ada yang sia-sia. 

Saat promo buku Braga Siang Itu, kumcer saya yang mengangkat masalah  perempuan,
sosial, dan politik, di Radio Raka. Yang di samping saya adalah Pak Gunawan,
manajer pemasaran Penerbit Andi di Bandung.

 Mudah-mudahan postingan ini bisa menyemangati teman-teman mahasiswa (baru atau lama) yang sedang galau dengan jurusan yang dipilihnya. :)

 “…Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah [58] :11)

***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...