23 August 2014

Rumah Kos Impian


Rumah Kos Impian --Bagus nih rumahnya.” Aku meneliti spesifikasi rumah yang ditawarkan di sebuah web itu, sekaligus mencermati foto-foto yang disertakan di sana. “Empat kamar tidur…..”

“Kalau gitu, rumah ini dijual aja. Kita pindah ke sana. Masih ada selisih tiga ratus juta,” komentar ibuku.

“Eh, jangan. Kita bukan mau pindah ke sana. Repot ngurus pindah sekolah anak-anak. Lagian mereka udah betah sekolah di sini,” sanggahku.

“Jadi, untuk apa beli rumah di sana?”

“Untuk dijadiin kos-kosan mahasiswa,” sahutku sambil membayangkan rumah kos impian.

Dialog seperti itu bukan baru satu kali terjadi di rumah.  Agak-agak nggak kompak, sih. Ibuku ingin menjual rumah yang kami tempati sekarang, lalu membeli rumah lain yang lebih murah. Nggak apa-apa agak terpencil juga. Inginnya beli dua rumah yang deketan atau malah kopel. Satu milik ibuku, satu milikku (yang kubeli—walaupun nyicilpakai uang sendiri).
Aku inginnya beli rumah bukan buat untuk kami tempati, tapi untuk dijadikan rumah kos. Yup, aku memang bermimpi punya rumah kos-kosan untuk mahasiswa. Jumlah kamarnya tak perlu banyak-banyak. Lima sampai sepuluh kamar saja. Mimpi itu begitu subur dalam benakku. Mimpi itu nggak berubah walaupun pada awalnya berbeda dengan keinginan ibuku. Tapi setelah kujelaskan kondisi riilnya, ibuku paham.


Pertimbanganku sederhana. Aku bukan pekerja kantoran (apalagi PNS) yang dapat gaji tetap tiap bulan dan kelak dapat pensiun. Aku pekerja seni (tepatnya seni menulis) tanpa kantor. Freelancer, istilah kerennya. Otomatis penghasilanku tak tetap, sedangkan pengeluaran tetap. Dari pengeluaran untuk biaya makan dan sekolah anak-anak, sampai tabungan pendidikan dan dana pensiun.

Yang terlintas di benakku adalah mencari sumber penghasilan lain. Investasi rumah kos adalah yang paling menarik minatku. Setiap tahun selalu ada ribuan mahasiswa baru di Bandung, banyak pula yang datang dari luar kota. Mereka pasti butuh tempat tinggal selama kuliah di Bandung.  

Pertimbangan lain adalah tentang urusan pembayaran. Beli tunai? Oh, ingin sekali. Sekarang memang terlihat tidak mungkin (saldo rekeningku saat ini masih jauuuuh dari harga rumah yang kuincar). Tapi, aku masih tetap bermimpi bisa membeli rumah secara tunai. Uangnya dari mana? Hehe… mari berusaha dan berdoa.

Alternatif selain membeli tunai, tentu saja dengan mencicil. Nah, di sini juga ada masalah. Dengan penghasilan yang tidak tetap dan pengeluaran tetap, rasanya berat sekali jika harus mencicil Rp3 juta per bulan ke bank. Belum lagi teman-teman sesama penulis (dan seniman pada umumnya) sering cerita tentang susahnya mengajukan KPR--dan kebanyakan ditolak.

Mengencangkan ikat pinggang? Ah, itu slogan para pejabat dan birokrat yang sudah lupa bagaimana rasanya menjadi rakyat berekonomi pas-pasan.

Membayar cicilan sebesar jutaan rupiah per bulan itu akan jadi lebih mudah jika rumah itu dimanfaatkan sebagai tempat usaha, dalam hal ini rumah kos. Uang  yang dibayarkan oleh penyewa kamar kos bisa digunakan untuk membayar cicilan rumah ke bank. Kalaupun kurang, pastilah jumlahnya tidak semenyeramkan jika harus mencicil rumah tinggal biasa.

Mimpi aja kok pake alternatif, sih? Mimpi ya mimpi aja, kali. Mumpung bermimpi itu gratis dan nggak dikenai pajak.

Hehe… mimpi memang gratis dan nggak perlu bayar pajak. Tapi untuk mewujudkan sebuah mimpi menjadi kenyataan, butuh perencanaan juga, dong. Butuh langkah-langkah untuk menuju ke sana. Lain cerita kalau aku mimpi bisa berjalan di udara atau bisa berteleportasi ke mana pun hanya dengan mengedipkan mata. Mimpi seperti itu sih nggak usah pakai mikir. Mimpi ya mimpi aja.


Browsing di situs khusus pencarian rumah seperti http://mimpiproperti.com
ini adalah salah satu langkah untuk mewujudkan mimpiku.

Tetap Semangat

Kadang-kadang semangat turun juga, sih, apalagi kalau terlintas pikiran bernada negatif. Di usia segini baru bermimpi punya usaha rumah kos? Kenapa nggak mimpi dari dulu-dulu? Memangnya masih bakal bisa tercapai, gitu? Belum lagi kalau bertemu orang-orang yang tidak mendukung dan malah melemahkan mimpi-mimpi itu.

Hush! Hush! Sana pergi! Pikiran seperti itu harus cepat-cepat diusir. Kalau kelamaan mengendap di pikiran, bisa bahaya.  

Bermimpi tak seperti  melamar pekerjaan yang sering dibatasi oleh usia. Begitu juga dengan mewujudkan mimpi dan meraih sukses. Contoh paling terkenal adalah Kolonel Sanders yang mendirikan Kentucky Fried Chicken (KFC) pada usia 66 tahun. Sebelumnya, ia melakoni banyak pekerjaan, dari petugas pemadam kebakaran sampai operator bengkel.

Foto diambil dari: http://www.slideshare.net/bright9977/5-life-lessons-from-kfcs-founder-colonel-harland-sanders

Jadi, kenapa aku harus takut bermimpi? Berusaha dan berdoa. Alam semesta akan mendukung. Tuhan akan memberikan jalan.

***

Artikel ini diikutkan dalam Blog Kontes Mimpi Properti yang diadakan oleh
http://mimpiproperti.com.Kamu belum ikutan? Yuk, ikutan.

http://www.kontesmimpiproperti.com/event-blog-kontes/

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

2 comments :

  1. Aaamiiin, Makasih doanya, Yuni.
    Makasih juga udah berkunjung ke sini :)

    ReplyDelete

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...