05 September 2014

Talkshow Novel Dimensi di Radio MQFM Bandung

Beberapa hari ini koneksi inet di rumah saya cukup menguji kesabaran. Lambat. Jadi, meskipun dari hari Sabtu udah keliatan ada pesan inbox dari Kang Sena, baru hari Minggu (31 Agustus) pagi inbox itu berhasil saya buka. Langsung saya bales deh. Kebetulan Kang Sena juga sedang online. Jadi, bisa segera berbalas pantun eh, berbalas pesan.

"Kalo Teteh bisa ngisi acara talkshow di MQ sore ini?"

"Sayaaaa? Sore iniiiii?" Bukan mendramatisir suasana, sih. Saya memang kaget.  Awalnya Kang Sena cuma nanya, saya punya kenalan penulis buku motivasi inspiratif yang di tinggal Bandung atau enggak. Saya juga udah menyodorkan nama penulis yang seperti itu dan kebetulan saya punya nomor hapenya. Eh, tapi ternyata malah saya yang diminta mengisi acara talkshow novel di Radio MQFM Bandung. Selain itu, sebenernya pagi itu saya lagi kurang sehat. Masih agak demam. Sakit maag saya yang kemarin kumat juga belum sembuh-sembuh banget.

"Iya. Jam 15.30-17.00. Bisa, Teh?"


Saya masih agak ragu. "Tapi buku-buku baru saya novel remaja semua lho, Kang." Saya menyebutkan dua judul novel teenlit saya, Dimensi dan It's Not A Dream. Lengkap dengan link sinopsis kedua novel tersebut di blog saya ini. Alhamdulillah, beberapa bulan belakangan ini saya lumayan rajin ngeblog. Jadi kalo ada dadakan begini, saya tinggal nyodorin link tulisan di blog saya.

Beberapa menit kemudian Kang Sena membalas lagi. "Oke, Teh. Yang itu aja. Yang Dimensi."

Begitu jadi, saya langsung mengontak Rassa, temen nulis duet saya di novel Dimensi ini. Ternyata Rassa yang di Palembang sana sering dengerin siaran MQFM lewat streaming. Setelah itu, apdet status dong di FB dan Twitter, woro-woroin kalau sore nanti saya dan novel Dimensi akan on air di radio.

Pas buka FB itu, ahaaa... ternyata editor novel Dimensi ini ulang tahun. Wah, pas banget nih. Tanda-tanda bakal bestseller nih kayaknya. Hehehe.... *sambungologi :p *



Deg-Degan di Perjalanan  
Saya berangkat dari rumah pukul 13.40. Bukannya nggak sabar pengen on air tapi karena rumah saya dan studio Radio MQFM berada di ujung yang berbeda kota Bandung. Saya di ujung Bandung Timur, MQFM di ujung Bandung Utara. Daaaannnn....ini hari Minggu! Helloooo.... tiap wiken banyak ruas jalan di Bandung yang macet parah. Salah satunya adalah Jl. Setiabudi yang harus saya lewati untuk menuju MQFM di Gegerkalong. 

Novel Dimensi.

Masuk Jl. Tamansari, lalu lintas udah padat merayap. Huhu.... mudah-mudahan cepat sampai. Bukan cuma supaya nggak telat sih tapi.... heuheu... saya udah nggak betah di angkot yang saya tumpangi ini. Di depan saya ada dua penumpang yang sepertinya suami istri. Suaminya tatoan dan istrinya berwajah keras. Duh, gimana jelasinnya, ya? Pokoknya perasaan saya nggak enak, deh. Belum cukup itu, di ujung pas di belakang sopir ada cowok yang kayaknya rada-rada gila. Bukan suuzon, tapi tindak-tanduknya menunjukkan hal seperti itu. Kalo nggak gila, masa dia nelepon pake botol minuman? :o

Saya mau turuuuuunnn! Tapi tujuan saya masih jauh. Mau turun dan ganti angkot juga bukan pilihan keren. Hari Minggu begini susah dapetin angkot Cicaheum-Ledeng yang kosong, padahal waktunya udah mepet. Hiks. Yang menghibur saya, cowok yang duduk dekat pintu itu ganteng. Dia juga nggak segan ngasih tempat duduknya yang nyaman di samping pacarnya (dan si pacar itu duduk di sampingku :p ) pada seorang ibu sepuh. Dia sendiri pindah ke deket pintu dan duduk ala kenek. Tapi tetep ganteng sih. :p

Di Tamansari, ada penumpang baru. Seorang perempuan bergamis hijau dan kerudung hitam. Dia duduk di dekat pintu. Sebelahan dengan si bapak bertato dan berhadapan dengan si cowok ganteng. Kasihan juga ngeliat dia duduk nempel di pinggir gitu. Mana si bapak bertato duduknya ngabis-ngabisin tempat pula.

Masuk Cipaganti, si cowok yang rada-rada gila tadi makin banyak ketawa-ketiwi sendiri (udah saya pastikan, dia nggak sedang baca novel kocak saya Kayla Twitter Kemping) dan  ngoceh teu pararuguh (baca: nggak keruan). Di pertigaan Gerlong, si cowok ganteng dan pacarnya turun. Itu artinya, antara saya dan si cowok gila itu nggak ada penumpang lain. Eh... tunggu. Si gamis hijau pindah ke sebelah saya. Huuuuft.... lega. Hah, feeling saya udah makin nggak enak soalnya.

"Panorama, kiri!" ujar si gamis hijau.
Saya buru-buru ikutan turun. Sempet mikir, "Panorama dan Gerlong Girang itu sama nggak sih? Atau masih jauh? Ah, bodo deh. Turun aja dulu."

Setelah bayar ongkos angkot, baru saya sadar kalau saya memang turun di tempat yang benar. Syukurlah. Pukul 15.40. Wew! Saya buru-buru jalan  ke Studio MQFM. Untung saya udah tau tempatnya.

Seperti biasa, hari Minggu Studio MQFM selalu sepi. Selain penyiar (langsung dadah-dadah. Saya udah kenalan sama dia waktu ke sini beberapa bulan lalu. Namanya Sari) dan operator, cuma ada seorang gadis di ruang tamu. Saya duduk di dekat dia, minum, dan mengobrol. Namanya Rana, reporter baru di MQFM.

Sekitar lima menit kemudian, dari ruang dalam datang seorang gadis bergamis hijau kerudung hitam.

"Lhooo... ini Teteh yang tadi seangkot dengan saya, kan? Yang naik dari Tamansari?"

Hehe... ternyata Saudara-saudara, si gamis hijau itu adalah Teh Ilsa yang akan memandu acara Resensi Buku nanti dengan Teh Sari.



Teh Ilsa dan Teh Sari, dua penyiar yang memandu acara Resensi Buku di Radio MQFM. (foto: dokumentasi pribadi)


Anak Indigo  
Acara dimulai pukul 16.00. Oh, jadi setengah jam sebelumnya itu untuk persiapan aja. :) Lega, deh. Yang bikin agak deg-degan adalah karena ini undangannya mendadak, kedua penyiar ini belum baca novel yang akan diobrolin sore ini. Mereka cuma membaca blurb, daftar isi, dan membaca sekilas secara random.

Meski begitu, obrolan berjalan lancar. Biasa, dari kenapa nulis novel ini (karena ingin anak indigo dipahami dan bukan dihakimi), idenya dari mana (dari sering bergaul dengan anak-anak indigo), berapa lama proses nulisnya (nulis + self editing cuma sebulan, nunggu terbitnya yang lama, hampir setahun), siapa tokoh utama dalam novel ini (Keira, Zhafira, dan Aldiano), sampai kenapa memunculan sosok orangtua Zhafira di novel (oh, ini penting karena mereka yang mengarahkan Zhafira supaya bisa berdamai dengan kondisinya dan selalu bersyukur).

Ketika break untuk iklan, saya SMS-an dengan Rassa. Dia sedang mendengarkan acara ini.Katanya, di Palembang siaran MQFM terdengar jernih banget. Teh Sari dan Teh Ilsa lalu berinisiatif menelepon Rassa. So, beberapa menit kemudian suara Rassa pun ikut mengudara.

Salah satu pertanyaan mereka adalah kapan saya dan Rassa ketemu buat nulis novel Dimensi ini. Ketemu? Hehehe.... kami belum pernah ketemu langsung, cuma lewat FB, SMS, dan telepon. Ketemu di dunia astral jelas bukan pilihan yang bagus meskipun nggak perlu keluar uang buat beli tiket pesawat :p

Rassa juga menyampaikan keinginannya agar anak-anak indigo ini lebih dipahami dan diterima. Yaaah... bukan rahasia, kan, banyak anak indigo yang dihakimi gila, menderita schizofrenia, autis, bahkan ketempelan setan.

Selesai mengobrol lewat telepon dengan Rassa, break lagi. Saat break itu saya lihat cukup banyak pertanyaan yang masuk lewat SMS. Tapi karena waktunya terbatas, akhirnya cuma dua pertanyaan yang dijawab. Satu yang bertanya lewat SMS dan satu lagi yang menelepon. Kedua penanya ini mendapat hadiah novel Dimensi.

Salah satu pertanyaan menarik adalah apakah novel tentang anak indigo ini tidak melanggar akidah Islam.

Insya Allah, tidak. Serem banget deh kalau sampai nulis yang melanggar akidah begitu. Bagi kami (saya dan Rassa), indigo adalah satu dari sekian banyak rahasia dalam ciptaan Allah. Allah Maha Berkehendak. Kalau Allah sudah ingin memberikan sesuatu, nggak ada makhluk yang bisa menahan-Nya. Kemampuan anak-anak indigo adalah pemberian-Nya. Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu secara sia-sia. Ilmu Allah sangaaaat luas. Ilmu yang dimiliki manusia hanya sedikit sekali dari ilmu Allah. Artinya, masih banyak yang tidak kita mengerti. Salah satunya tentang indigo ini. Anak-anak indigo ini justru harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Kemampuan lebih mereka juga memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Misalnya indigo yang bisa melihat masa depan. Kalau dia nggak dekat pada Allah, bisa-bisa malah jadi peramal, padahal kan meramal itu nggak boleh.

Pukul 17.00, acara ini selesai dan habis pula air minum di botol saya :D Nggak langsung pulang, sih. Ngobrol-ngobrol dan foto-fotoan dulu. Tapi kok fotonya cuma ada ini ya? Hehe... saya lupa :D Mau bawa syal ungu biar kayak gambar di kaver novel aja saya lupa. Untunglah saya nggak lupa jalan pulang.

Selesai acara Resensi Buku. Dari kanan ke kiri: Teh Sari, saya, Teh Ilsa. (foto: dokumentasi pribadi)

Makasih banyak ya Kang Sena, Teh Sari, Teh Ilsa, dan semua kru MQFM. Semoga nggak kapok ngajak saya on air :)


***

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...