24 September 2014

Surat Untuk Anakku: Pesan-Pesan Finansial Untuk Anak-Anak


Surat Untuk Anakku, Pesan-Pesan Finansial Untuk Anak-Anak -- Anak-anakku,
Nggak terasa kalian sudah kelas 7 SMP dan 2 SD. Berarti sudah sekitar lima tahun Mami menabung untuk biaya kuliah kalian nanti. Iya, untuk biaya kuliah. Untuk biaya sekolah sampai SMA, insya Allah masih bisa mengambil dari honor-honor Mami.

Melihat saldo tabungan pendidikan kalian itu, kadang-kadang Mami khawatir dana itu nggak cukup. Kurang dari 6 tahun lagi, insya Allah, Kakak akan kuliah. Adik kurang dari 11 tahun lagi.  


Sebenarnya Mami ingin bisa memasukkan dana lebih banyak lagi tiap bulannya untuk kalian tapi Mami belum sanggup. Hanya kalau dapat honor lebih banyak daripada biasanya Mami bisa menyetor dana tambahan di luar yang rutin didebit setiap bulan.

Anak-anakku,

Sebagai penulis dan editor lepas yang nggak punya kantor, uang yang Mami dapat tiap bulan nggak selalu sama. Mami pernah lho cuma dapat Rp250.000 sebulan. Itu honor meresensi buku di sebuah koran terbitan Jakarta.

Makanya, tiap dapat honor yang banyak, langsung Mami atur. Sekian rupiah untuk keperluan kita sehari-hari. Sekian rupiah Mama cadangan untuk autodebit tabungan pendidikan, dana pensiun, dan asuransi. Sekian rupiah lagi Mami simpan di bank. Buat jaga-jaga kalau bulan depan penghasilan Mami merosot lagi. Buat senang-senang… paling-paling kita jalan-jalan ke toko buku dan makan-makan, ya.

Repot, ya? Hehe… tapi memang mesti begitu, Kak. Itu namanya perencanaan untuk masa depan.

Kenapa mesti direncanakan? Sebagai mantan wartawan cilik mungkin Kakak nanya begitu. Jawabannya, supaya masa depan kita lebih cerah. Seperti kata pepatah: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Tidak ada hasil tanpa pengorbanan. No pain no gain.

Anak-anakku,
Mungkin kalian pernah kesal ketika Mami menolak membelikan kalian barang yang menurut Mami “nggak penting banget”. Tapi kalau untuk keperluan sekolah, Mami usahakan cepat tersedia.

Itu namanya skala prioritas. Menentukan mana yang paling penting, penting, kurang penting, dan tidak penting. Mana yang paling dibutuhkan, mana yang tidak dibutuhkan, mana yang cuma keinginan. Kata Om-om dan Tante-Tante perencana keuangan, kita harus mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Kalau terus mengikuti keinginan, nggak akan ada puasnya, Kak.


Kakak ingat hape pertama Kakak? Harganya sekitar Rp350.000. Kakak beli hape itu pakai uang tabungan, hasil menyisihkan uang saku Kakak plus angpau Lebaran.

Hape teman-teman Kakak mungkin lebih bagus tapi dibeli pakai uang orangtua mereka. Beda dengan Kakak yang mau bersusah-payah menabung. Rasanya gimana, Kak? Bangga, kan?


Tanpa Kakak sadari, Kakak udah belajar perencanaan keuangan. Kakak pasang target punya hape sendiri, harganya Rp350.000. Berarti, kalau sehari menabung Rp1.000, sebulan ada Rp30.000. Setahun jadi Rp Rp365.000. Bisa beli hape baru, deh.

Yang bikin Mami bangga, buat Kakak hape itu bukan cuma untuk gaya-gayaan. Kakak memakai hape itu untuk mewawancarai Tante Shahnaz Haque, Om Yanna The Marvells, Om Gol A Gong, Tante Veronica Widyastuti, dan banyak lagi. 

Coba ingat-ingat Kak, dengan hape murah meriah itu, ada berapa tulisan Kakak yang dimuat di rubrik Wartawan Cilik koran Pikiran Rakyat? Lebih dari sepuluh ya, Kak?

Gimana rasanya waktu dapat honor pertama dari tulisan Kakak di koran? Seneng banget, ya? Sebagian besar honor dimasukkan ke tabungan pendidikan Kakak. Kakak cuma ambil sedikit untuk beli barang-barang yang Kakak inginkan. Yang Mami ingat, Kakak beli sandal Crocs dan aksesori buat Kakak, plus buku cerita buat Adik.

Kata Tante Ligwina Hananto yang ahli perencanaan keuangan, seharusnya memang begitu. Menabung dilakukan di awal menerima uang, bukan sisanya berapa baru ditabung.

Anak-Anakku,
Mami ingin kalian dapat belajar dari pengalaman Mami. Mami termasuk terlambat dalam urusan perencanaan keuangan ini. Dana pensiun saja baru Mami buat awal tahun 2014. Mestinya sejak Mami pertama kali bekerja. Tapi sudahlah. Masih lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?

Harapan Mami, kalian bisa lebih dini menyusun perencanaan ini untuk masa depan yang cerah, aman, dan terlindungi. Sekarang banyak bank dan perusahaan keuangan seperti PT Sun Life Financial Indonesia yang menawarkan program-program perlindungan dan pengelolaan uang. Dari asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, perencanaan hari tua, sampai investasi. 

Kita juga bisa berasuransi sekaligus berinvestasi.Tak perlu pusing mengurus dana investasi itu karena ada manajer investasi yang akan mengelolanya. Mencari manajernya? Tenang saja, Kak. Perusahaan keuangan sebesar PT Sun Life Financial Indonesia akan menyediakan manajer investasi yang tepercaya. Jadi, kita bisa santai.
Last but not least, minta bantuan Allah agar rencana kita, rencana kalian, dipermudah dan diberkahi oleh-Nya.

Peluk cium,
Mami yang selalu menyayangi kalian.

Tulisan ini diikutsertakan dalam  
Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014
http://www.sunlife.co.id/indonesia/About+us/Newsroom/News+and+events/2014/Sun+Anugerah+Caraka+Writing+Competition+for+Journalist+and+Blogger+and+Photo+Competition+2014?vgnLocale=in_ID
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...