12 October 2014

Menulis Saat Kondisi Ekonomi Tak Manis

Menulis Saat Kondisi Ekonomi Sulit - "Ajarin aku nulis dong. Aku pengen bukuku diterbitin sama penerbit. Usahaku lagi kolaps. Mudah-mudahan royaltinya bisa buat modal usaha lagi."

"Saya ibu rumah tangga. Penghasilan suami pas-pasan. Malah lebih sering kurangnya. Anak saya kelas 9 SMP. Dua bulan lagi lulus dan daftar ke SMA. Adiknya juga pas mau masuk SD. Saya mau bantu cari tambahan uang buat masuk SMA nanti. Saya mau kirim tulisan ke penerbit. Enak ya jadi penulis seperti Mbak. Dari rumah aja dapat duit."

"Saya mau resign dari kantor. Capek. Bos nyebelin. Saya mau nulis aja di rumah. Sekali nulis buku, tapi bertahun-tahun tetap dapat royalti."



Jatuh Bangun Penulis
Akan menjalani pekerjaan sebagai apa, akan mencari nafkah dengan cara apa, tentu hak masing-masing orang. Menulis ternyata menjadi salah satu bidang yang dilirik untuk mendatangkan penghasilan. Lebih spesifik lagi menulis saat kondisi ekonomi tak manis sering dilirik sebagai jalan keluar untuk menambah penghasilan. Kondisi ekonomi keluarga, maksud saya. 

Well, itu hak masing-masing orang. Saya tidak bisa melarang atau sebaliknya, mendorong-dorong. Saya cuma bisa memberi gambaran. Memberi cerita dari pengalaman saya.


Status sebagai penulis buku terdengar keren, ya. Apalagi kalau buku baru terbit (di penerbit besar pula) lalu masuk ke toko-toko besar di seluruh Indonesia. Tertera di sana, harga buku tersebut (misalnya) Rp40.000.

Wow! Kalau laku seribu buku aja dapat Rp40 juta. Laku lima ribu buku? Rp200 juta! Bisa beli mobil, investasi tanah, beli rumah, atau untuk modal usaha. Keren!

Keren? Tunggu dulu, Sista. Hitungan itu salah.

Lho, apa yang salah? 5000  x 40.000 = Rp200.000.000, kan?

Memang. Tapi tahukah bahwa royalti yang diperoleh penulis bukan Rp40.000 per buku tetapi 5%-10% dari harga jual buku yang terjual. Kalau Rp40.000 itu jadi milik penulis semua, penerbit dan distributor dapat apa? Masa cuma kerja bakti? Nggak mungkin, atuh.

Jadi, kalau harga buku Rp40.000, penulis dapat 2-4 ribu per buku yang terjual. Itu masih belum bersih lho. Masih dipotong Pph sebesar 15% (kalau punya NPWP) atau 30% (tanpa NPWP).



Selesai? Hehe... belum. Royalti itu turunnya tidak setiap bulan seperti gajian dari kantor. Periode royalti bisa satu kali dalam 3, 4, 6 , atau 12 bulan. Tiap penerbit punya peraturan masing-masing tentang ini.

Berapa banyak buku dicetak? Standarnya sih 3.000 eksemplar. Bisa lebih, bisa kurang tergantung pertimbangan penerbit. Jumlah segitu bisa laris manis dalam waktu satu bulan, bisa juga bertahun-tahun nggak habis.

Tunggu, tunggu. Kalau bertahun-tahun nggak habis, berarti royalti....

Yup. Royalti yang diterima dalam setiap periode akan makin kecil. Lebih seram lagi, kalau buku lambat laku penerbit akan menjual dengan harga diskon bahkan obral. Kadang-kadang, dalam waktu enam bulan sejak terbit saja sebuah buku bisa didiskon 50% dari harga asli. Paling sedih kalau sudah jatuh ke harga obral. Sudah susah payah menulisnya, eh... baru setahun terbit sudah diobral seharga Rp5.000.

Bukan omong kosong lho cerita tentang penulis yang royaltinya hanya Rp100.000 dalam enam bulan. Sebulan dapat berapa tuh? Nggak sampai Rp20.000. Kabar baiknya, ada juga penulis yang royalti per bukunya berjuta-juta.



Menulis Itu Butuh Proses
Jika ingin mencari penghasilan dari menulis, perlu disadari bahwa hingga sebuah karya terbit dalam bentuk buku, dimuat di majalah atau koran, dan sebagainya juga membutuhkan proses. Proses pertama jelas, menulisnya itu sendiri. Proses kedua, menunggu.

Kalau kita kirim naskah hari ini, bisa jadi naskah kita baru akan dibaca oleh berbulan-bulan yang akan datang. Yang mengirim naskah kan bukan cuma kita. Banyak penulis lain yang juga kirim naskah. Semua naskah itu harus dibaca dan dinilai, bukan cuma dilirik. kalau editor buku sudah suka dengan naskah kita, belum tentu langsung acc akan terbit menjadi buku, lho. Tim marketing juga punya suara. Bisa saja buku yang dijagokan oleh editor ternyata disambut gelengan kepala oleh marketing yang menganggap buku itu tidak akan laku di pasaran.

Bukan omdo lho ini. Saya pernah mengalaminya sendiri. Hehe....  Editor suka dengan cerita yang saya buat tapi marketing menganggapnya tidak selling.

Naskah di-acc untuk terbit? Selamat. Sekarang, yuk nunggu lagi.

Kok nunggu lagi? Kan udah di-acc?

Benar. Tapi naskah kita itu harus diedit, direvisi (jika dianggap perlu, bahkan kadang-kadang tidak cukup satu kali revisi), di-lay out, dbuatkan kaver, lalu masuk ke percetakan.

Hhuaaah... lama bangeeet. Kirim cerpen ke majalah aja deh kalau gitu.


Silakan. Tapi ini juga pakai mengantre, lho. Bisa sebentar, bisa lama. Cerpen-cerpen saya yang dimuat di majalah juga sering mengantre lama. Cerpen saya di majalah Bobo ada yang mengantre selama 16 bulan sebelum akhirnya dimuat. Dalam catatan saya, malah ada cerpen saya yang harus mengantre lebih dari dua tahun. Kabar bagusnya, yang mengantre satu bulan aja juga ada sih... cuma jarang.

Nah, karena jalannya lumayan panjang dan butuh waktu lama, rasanya agak pesimistis deh kalau yang baru mau belajar nulis berharap dapat 200 juta dari menulis novel dalam waktu tiga bulan.

Duh, saya tidak bermaksud menghancurkan harapan. Sama sekali bukan. Kalau tetap mau menulis, itu bagus. Menulislah. Menulis itu bagus untuk katarsis dari persoalan hidup. Bagus untuk menstabilkan emosi. Menulis juga bisa menghasilkan materi. Tapi kalau untuk mendapat ratusan juta dalam waktu singkat, lebih baik realistis dengan kondisi di atas supaya tidak syok begitu melihat berapa royalti yang diterima.




Tip dari Saya
  • Jika kondisi ekonomi sedang sulit lalu ingin menulis, silakan. Menulis itu bagus untuk kesehatan jiwa. Namun, kalau baru mau belajar menulis dan belum punya karya satu pun, lalu berharap mendapat uang ratusan juta dalam waktu 1-2 bulan dari menulis, lebih baik realistis aja, deh.
  • Ingat nasihat Rasulullah, "Manfaatkan waktu senggangmu sebelum tiba waktu sempitmu. Manfaatkan waktu kayamu sebelum tiba waktu miskinmu...." Jangan menunggu bangkrut dan kejepit kebutuhan hidup untuk mulai belajar menulis cerpen, novel, atau artikel. Kalau ekonomi sedang sulit, mau ikut pelatihan menulis seharga Rp500.000 rasanya berat sekali. Beda jika kondisi ekonomi sedang di atas. Lima ratus ribu? Ah, keciiiil.
  • Sebelum resign dari kantor, mulailah menulis. Mulai menembus media massa atau penerbit. Mulai membuat jaringan. Mulai memahami warna-warni dalam dunia menulis ini. Mulai mengetahui jumlah riil honor dan royalti. Ini mirip-mirip nasihat para ahli "rintis usaha mandirimu sebelum mengundurkan diri dari kantor tempatmu bekerja sekarang".
Tulisan saya sendiri (cerpen dan artikel) menghiasi media cetak lokal dan nasional sejak tahun 1995. Ketika mengalami masa-masa sangat sulit (silakan cari buku lama saya, Titik Balik, untuk tahu sesulit apa kehidupan saya dulu), lalu mulai serius menekuni tulis-menulis ini, saya sudah tidak dari nol. Sudah ada tahun-tahun panjang yang menempa saya. Sudah ada ratusan cerpen di majalah remaja dan anak-anak. Sudah ada track record  sebagai pemenang lomba menulis novel di penerbit ternama.


***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...