28 October 2014

Trotoar Adalah Hak Pejalan Kaki


Pernah  mempertanyakan fungsi trotoar? Dalam Pasal 45 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan disebutkan bahwa trotoar adalah fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. Selain trotoar, termasuk dalam fasilitas pendukung ini adalah lajur sepeda, tempat penyeberangan pejalan kaki, halte, dan atau fasilitas khusus bagi penyandang cacat dan manusia usia lanjut (manula).


Siapa yang berhak menggunakan trotoar? Ayat 1 Pasal 131 UU No. 22 Tahun 2009 itu menyebutkan, "Pejalan kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain." 

Lebih lanjut, pada poin (a) Ayat 1 Pasal 132 disebutkan bahwa pejalan kaki wajib menggunakan jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau jalan yang paling tepi.

Pasal 34 Peraturan Pemerintah RI No 34 Tahun 2006 tentang Jalan pun menyebutkan bahwa trotoar diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki.

Secara sederhana, kita dapat mengatakan, "Menggunakan trotoar adalah hak dan kewajiban pejalan kaki."

Asyik, ya. Sebagai pejalan kaki, hak kita telah dilindungi oleh UU dan PP. Sayangnya, itu baru perlindungan di atas kertas. Kenyataan di lapangan berkata lain.

Sebagai angkoters, saya juga akrab dengan aktivitas berjalan kaki. Iya, dong. Kalau tempat yang saya tuju tidak dilewati angkot, saya berjalan kaki. Kalau mau ke minimarket di depan kompleks saya juga berjalan kaki.



Pejalan Kaki yang Teraniaya
Sebagai pejalan kaki, terus terang saya sering merasa teraniaya (hati-hati, ya. Doa orang teraniaya itu makbul!). Hak-hak saya sebagai pejalan dirampas secara "brutal". Kebanyakan trotoar bukan lagi milik saya dan para pejalan kaki lainnya. Lihat saja berbagai perampasan trotoar ini.
Trotoar telah berubah menjadi tempat parkir. 
Lokasi: Jl. Suci, Bandung (Foto: dokumentasi pribadi).


Susah nih berjalan kaki di sini. 
Banyak banget mobil yang parkir di trotoar. :( Lokasi: Jl. Soekarno - Hatta. (Foto: dokumentasi pribadi)

Trotoar menjadi jalan alternatif bagi pengendara motor.
Lokasi: Jl. Buah Batu, Bandung (foto: dokumentasi pribadi)

    Trotoar menjadi tempat untuk berjualan.
    Lokasi: Jl. Buah Batu, Bandung (foto: dokumentasi pribadi)

Trotoar menjadi tempat mangkal pengemis.Tuh, di dekat pohon.

Jika trotoar sudah disalahgunakan seperti itu, pejalan kaki harus berjalan di mana? Sudah tak ada tempat lagi di trotoar. Berjalan di bahu jalan? Saya sering terpaksa melakukan hal ini, tentu saja dengan kewaspadaan tingkat tinggi karena rawan terserempet motor atau mobil.

Berjalan di tengah jalan raya? Selain ketika car free day,  tak mungkin berjalan di tengah-tengah jalan raya. Lah, trotoar yang jelas-jelas untuk pejalan kaki aja dirampas. Kalau nekat berjalan di tengah-tengah arus lalu lintas, bisa-bisa malah diteriaki, "Woy! Jalan di pinggir! Punya otak nggak sih lo?" Masih mending kalo cuma diteriakin. Kalau langsung ditabrak?

Omong-omong neriakin orang, saya pernah neriakin pengendara motor yang naik ke trotoar dan hampir menyerempet saya. "Waktu beli motor, sekalian beli spare part buat dipasang di otak lo nggak?! Jelas-jelas trotoar itu buat pejalan kaki!" Hadeuuuh... jadi emosi, deh.

Mungkin karena terbiasa dengan trotoar yang beralih fungsi, pejalan kaki malah menjadi asing dengan trotoar yang sebenarnya merupakan haknya.

Lokasi: Jl. Riau, Bandung. 
Pak, Bu... trotoarnya dipakai buat jalan kaki, atuh. 
(Foto: Dokumentasi pribadi).
Dengan kondisi trotoar yang seperti ini, susah juga menjelaskannya pada anak. Yang ia dapat di dalam pelajaran di sekolah, trotoar adalah tempat bagi pejalan kaki. Namun, yang ia dapatkan dalam pelajaran kehidupan adalah trotoar sebagai tempat parkir, tempat berjualan, tempat berkendara, dan tempat mengemis.

Di rumah atau ketika berjalan-jalan, saya ceritakan tentang fungsi trotoar. Saya katakan bahwa trotoar adalah hak para pejalan kaki. Sayangnya, kenyataan yang ia lihat di lapangan ternyata tak seperti itu. Hidup ini paradoks ya, Nak. (Mamiii...paradoks itu sejenis karedok, ya? :D)  Perampasan hak pejalan kaki itu menjadi topik tersendiri tentang "orang yang tidak menghargai hak orang lain". Tentu ada sanksi untuk pelanggaran hak seperti ini.

Hm...kalau melihat Ayat 1 Pasal 132 itu, parkir di trotoar dan sebagainya itu bukan cuma merampas hak pejalan kaki tapi juga menghalang-halangi pejalan kaki untuk melaksanakan kewajibannya. Mestinya sih, pihak yang berwenang mengambil tindakan tegas. Lah, perampasan fungsi trotoar itu kan melanggar hukum.


Apa para pejalan kaki harus menguasai ilmu meringankan tubuh, ilmu terbang, atau sekalian teleportasi supaya tidak terserempet oleh kendaraan bermotor?


Untunglah di bagian lain kota Bandung, saya menemukan trotoar yang nyaman dan dipergunakan dengan semestinya. Di sini pelajaran tentang fungsi trotoar yang sebenarnya menemukan contoh nyata.


Lokasi: Jl. Supratman, Bandung. Suka deh dengan trotoar seperti ini. Nyaman dan aman.
Foto: dokumentasi pribadi

Sayangnya, belum banyak ini trotoar yang seperti ini. Semoga ke depannya akan semakin banyak trotoar yang nyaman dengan fungsi semestinya seperti ini. Jadi, kekhawatiran saya tidak akan terjadi. Eh, kekhawatiran apa? Itu, kekhawatiran anak-anak sekolah akan menjawab:

1. Untuk parkir mobil dan motor.
2. Untuk jualan/untuk pedagang kaki lima.
3. Untuk jalan motor.
4. Untuk mengemis

ketika menemukan pertanyaan "Apa fungsi trotoar?" di lembar soal UTS atau UAS mereka. Bayangkan, jika itu yang tertanam di benak anak-anak dan terbawa sampai mereka dewasa.

Membenahi kota memang bukan hanya tanggung jawab wali kota dan jajarannya, tapi butuh kesadaran dan peran serta warga kota.


***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...