23 November 2014

Yang Tua Minggir!


"Kenapa sih yang tua-tua masih nulis aja? Yang tua minggir, dong! Kasih kesempatan untuk yang muda-muda!" 

Benar-benar suka menulis, kan? Masih ingin eksis melalui tulisan? Kalau begitu,  ngobrol dikit tentang Gol A Gong dan Hilman yuk.

Gol A Gong dan Hilman adalah penulis remaja pada tahun '80-an hingga '90-an. Hilman muncul dengan serial Lupus dan Gong dengan serial Balada Si Roy


Kedua serial ini dimuat di majalah Hai. Pada era itu, remaja mana sih yang nggak kenal tokoh Lupus dan Roy? Rambut jambul dan permen karet ala Lupus. Blue ransel dan gaya macho Roy.

Bukan kebetulan, kedua penulis tersebut adalah idola saya.Ketika SMP, saya sampai loncat-loncat kala surat saya dibalas oleh Mas Gong. Sayang, surat itu hilang karena sering berpindah-pindah rumah.

Untung muncul era Facebook. Saya mencari dan meng-add mereka. Mereka masih eksis! Mereka masih aktif menulis. Karya-karya mereka terus mengalir dalam berbagai bentuk meski usia sudah tak remaja lagi.

Selain mereka berdua, melalui FB saya pun berteman dengan para penulis yang secara usia sebaya dengan orangtua saya. Penulis yang sudah menulis di media cetak sejak puluhan tahun yang lalu. Mereka sudah eksis sejak saya belum lahir, karya-karya mereka menemani masa kecil saya.

Salah satunya adalah Om Djokolelono. Semasa SD, saya sering membaca novel-novelnya dan novel-novel terjemahannya (salah satunya adalah novel Mallory Towers karya Enid Blyton). Dalam acara gathering di Penerbit Mizan sekitar tiga tahun yang lalu, Om Djoko menghadiahkan buku lamanya pada saya (plus ditandatangani, dong). Novel Astrid dan Bandit ini terbit tahun 1977. Wah, 1977! Saya masih batita yang imut dan menggemaskan kala itu.

Novel jadul Om Djokolelono.
Saya masih batita waktu novel ini terbit pertama kali.


Melintasi banyak dekade, Om Djoko yang seusia ibu saya ini masih tetap produktif menulis. Bukan bacaan buat kakek nenek, melainkan buat anak-anak dan... selalu keren.

Om Djokolelono sedang menandatangani novelnya untuk saya :)

Om Djokolelono, saya, dan novel Anak Rembulan di acara KPCI 2014.
(foto: dokumentasi pribadi)



Penghalang
Sayangnya, eksistensi penulis-penulis ini dianggap "penghalang"  oleh segelintir penulis muda atau penulis pemula. Para newbie ini beranggapan mereka tak mungkin bisa menembus media jika harus bersaing dengan para senior.

Seiring perjalanan waktu, saya juga dianggap "penghalang". Lebih-lebih karena saya tetap nyaman menulis novel teenlit. Sekali-kali saya memang menulis novel atau cerpen yang lebih dewasa, misalnya novel Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya dan kumcer Braga Siang Itu. Namun, saya tetap lebih sering menulis cerita untuk remaja dan praremaja.

"Penulis tua itu kan jam terbangnya udah tinggi, udah dikenal baik oleh redaksi. Berarti peluang mereka lebih besar, kan?"

Trus... kamu jadi nggak pede? 



Belajar dari Penulis "Tua"  
Sebenarnya, dengan masih eksisnya para penulis "tua" ini, ada banyak pelajaran yang bisa diambil, di antaranya:
  • Diakui atau tidak mereka sudah kenyang makan asam garam dunia penulisan, sudah kenyang dengan pasang surut dunia penerbitan. Mereka matang oleh pengalaman (bukan sekadar faktor usia, karena sekarang banyak yang baru mulai menulis di media massa atau baru menulis buku pada usia 30-40an tahun).
  • Dari mereka kita bisa belajar bahwa semua memiliki proses. Kita bisa belajar bagaimana mereka menempati posisinya yang sekarang. Tidak instan seperti yang diinginkan oleh kebanyakan penulis muda. Ada tahap-tahap yang harus dilalui.
  • Mereka memulai karier penulisan mereka jauh sebelum self publishing marak. Jadi, tak ada cerita putus asa karena naskah ditolak oleh penerbit besar, lalu menerbitkan sendiri. Dari situ kita bisa belajar agar tak mudah menyerah. (Saya pribadi tidak anti self publishing. Silakan baca di sini).
  • Yang tak kalah menarik adalah: jika mereka masih bisa eksis sebagai penulis, berarti dunia menulis itu menyenangkan, kan? Mereka bisa eksis, kenapa kita tidak?

Saya terbuka kok pada penulis-penulis baru.
Mau sharing? Ayo aja.
Btw, keliatan seperti teman sebaya, kan? :D


Buktikan Dengan Karya
Penulis muda tak perlu merasa kecil hati dan kalah sebelum bertanding. Yuk, kita lihat dari sisi positifnya.

Penulis muda dapat menulis dari sudut pandang yang berbeda. Penulis muda dapat lebih gampang menulis novel teenlit dan lebih hidup karena dunia mereka adalah dunia teenlit itu sendiri. Oya, teenlit itu bacaan untuk remaja (teen literature). Jadi, nggak identik dengan cerita tentang remaja kota besar, hedonis, dan cuma suka pacaran. Sementara itu, penulis "tua" harus "meremajakan" jiwa dulu untuk masuk ke dunia remaja.

Tak perlu pesimistis karena harus berhadapan dengan mereka. Mereka bukan musuh. Mereka adalah teman. Pada zamannya dulu, mereka adalah penulis muda yang juga harus berhadapan dengan penulis tua. Dulu mereka bisa. Para newbie sekarang pun pasti bisa.

Tak usah berteriak-teriak meminta agar penulis tua minggir. Penulis bukan seperti pegawai negeri yang akan pensiun pada usia tertentu. Profesi penulis bisa ditekuni oleh siapa saja tanpa memandang usia. Jadi, buktikan saja dengan karya. Berani?
 
Penulis berbagai generasi di KPCI 2014. Dari Om Djokolelono yang sudah lebih dari 40 tahun menulis,
sampai anak kelas 1 SD yang baru mulai menulis.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...