28 December 2014

4 Hal yang Tidak Perlu Ditulis di Daftar Pustaka


Ketika menulis buku (terutama nonfiksi), pakai referensi dari buku lain, kan? Berarti, harus membuat daftar pustaka. Tentang pentingnya membuat daftar pustaka, pernah saya bahas di sini. Kita tentu nggak mau dong disebut sebagai penjiplak atau tak beretika hanya gara-gara tidak mencantumkan daftar pustaka.

Saya sering menemukan kesalahan penulisan daftar pustaka dalam naskah yang saya edit atau buku-buku yang saya baca. Selain kesalahan dalam cara penulis nama (silakan baca di sini) dan kesalahan menulis daftar pustaka dari internet (bisa dibaca di sini), ada empat kesalahan lain yang sering terjadi. Keempat hal ini ini sering dimasukkan ke daftar pustaka, padahal sebenarnya tidak perlu.



Tidak Perlu Ditulis
Berikut ini empat hal itu yang tidak perlu ditulis di daftar pustaka.

1. Nomor urut
 Tidak perlu mencantumkan nomor urut dalam penulisan daftar pustaka.


2. Gelar akademis
Meskipun di kaver buku tertulis gelar akademis sang penulis, gelar itu tak perlu ditulis di daftar pustaka. Tapi kan dia sudah bergelar profesor? Sama saja. Selama itu adalah gelar akademis, tak perlu ditulis.


Yang tak perlu ditulis di daftar pustaka.


3. Nama badan hukum penerbit
Di kaver belakang buku biasanya tercantum nama penerbit, lengkap dengan badan hukum dan alamatnya. Nah, yang perlu dicantumkan di dalam daftar pustaka hanyalah kota terbit dan nama penerbit. Badan hukum penerbit tersebut (misalnya: PT atau CV) tidak perlu dicantumkan.

Nama dan alamat penerbit di kaver belakang novel.


 4. Cetakan Keberapa
Bisa saja sebuah buku mengalami cetak ulang berkali-kali dan yang kita baca adalah cetakan ke-25.Keren banget, memang, tapi informasi itu tidak perlu dicantumkan. Tentang cetakan keberapa buku itu, bisa kita ketahui dari tahun terbitnya. Oya, cetakan ini berbeda dengan edisi atau jilid, ya. Edisi dan jilid (jika ada) justru harus dicantumkan.

Berikut ini contohnya.

Salah
1. Keira Luvena, S.Psi. 2012. Menjadi Remaja Kreatif. Bandung: Penerbit CV Maju Jaya Pressindo.
2. Aldiano Dewanto, SE., MM. 2013. Berani Berwirausaha, cetakan 19. Jakarta: PT Media Karya Kita.



Benar
Dewanto, Aldiano. 2013. Berani Berwirausaha. Jakarta: Media Karya Kita.
Luvena, Keira. 2012. Menjadi Remaja Kreatif. Bandung: Maju Jaya Pressindo.

Semoga bermanfaat.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...