14 January 2015

[Buku Saya Diresensi] Braga Siang Itu, Memotret' kekuatan" Perempuan dan Kegelisahannya

Peresensi: Syifa Dhani (Dhani Praktinyo)

Entah ini karya keberapa dari seorang penulis produktif yang juga editor, Triani Retno.Dia yang piawai menulis dalam berbagai genre, kali ini menghadirkan sebuah kumpulan cerita pendek. Yang beberapa di antaranya pernah dimuat di surat kabar.Ada 15 cerita yang tersaji dalam Braga Siang Itu, dengan tokoh utama semuanya perempuan. Lebih tepatnya lagi perempuan yang" kuat;". Tapi sayangnya, kekuatan itu tak semuanya berkonotasi positif.


Dari 15 cerita yang ada, saya mengklasifikasikannya dalam kesamaan tema seperti ini,


1/ Perempuan atau Ibu, yang seharusnya jadi pengayom dan berhati baik, ternyata tak semuanya seperti itu.Ibu juga bisa jadi sosok pemarah, jahat dan durhaka pada anak atau menantunya.Dan itu diwakili oleh beberapa cerita seperti Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada, Sansevieria, Saat Malin Bertanya, Hati yang Tak Kunjung Damai. Di cerita cerita tersebut, Retno menceritakan tentang sosok ibu yang hanya pandai menyiksa anaknya, mertua yang lidahnya tajam  juga ibu yang hitung- hitungan dengan anaknya tentang " budinya" membesarkan anaknya.

2/ Perempuan itu tangguh dan brusaha sangat kuat untuk membesarkan anak- anaknya, seperti yang diceritakan dalam kisah Ceu Kokom dan Merajut Hari. Keadaan ekonomi yang pas pasan tidak lantas membuat ibu dalam cerita itu menyerah dan pasrah.


3/ Perempuan juga bisa bernasib tragis  dan bahkan sampai sampai kehilangan ingatan. Di cerita berjudul Bunda Tak Tersenyum, penulis berkisah tentang seorang ibu yang kehilangan senyumnya setelah ditinggal suami yang berselingkuh. Di cerita lain yang berjudul Suara, dikisahkan tentang seorang perempuan yang kehilangan kewarasannya, saat usahanya menjadi caleg gagal. Meninggalkan hutang yang tak terhitung jumlahnya.Juga di cerita Gunting yang mengulas tentang perempuan yang akan diceraikan suaminya karena tak bisa mengendalikan penggunaan kartu kreditnya.


4/ Penulis juga mengulik tentang politik dalam kacamata seorang perempuan, lewat cerita Braga Siang Itu yang bercerita tentang perubahan seseorang setelah dia masuk ke sebuah partai politik. Di Sarapan, penulis mengkritisi berita berita di televisi yang penuh dengan adegan kekerasan dan segala sesuatu yang buram. Lalu ada pula keresahan dan harapan akan sosok pemimpin seperti yang tertuang dalam cerita Surat Untuk Presiden.

Ada dua cerita pendek favorit saya yang sayangnya tidak menjadi judul buku. Cerpen pertama adalah Sansevieria.Sebuah kisah tentang seorang perempuan yang tidak menyukai mertuanya yang nyinyir, tapi melakukan tindakan yang tak biasa. Ia menanam dan merawat dengan baik, banyak tanaman Sansevieria di rumahnya. Tanaman itu dikenal juga dengan nama Lidah Mertua. Ketika tanaman itu telah tumbuh subur, si perempuan malah merusaknya, sebagai simbol kebenciannya pada sang mertua.

Cerita pendek yang lain adalah Gigi. Sebetulnya ide ceritanya sederhana, tentang Al, seorang perempuan yang kehilangan semua gigi depannya, dalam mimpinya. Karena kehilangan gigi biasanya dikinotasikan dengan meninggalnya keluarga terdekat, tentu saja Al sangat kuatir. Dan itu diperingatkan juga oleh sahabatnya, Susi. Untuk cerita ini, saya suka twistnya. Akhir cerita bukanlah kabar kematian salah satu keluarga terdekat, tapi rontoknya gigi depan Susi karena sebuah kecelakaan.

Tapi ada juga dua cerita yang menurut pemikiran awam saya, kurang " nendang". Cerita pertama adalah Undangan. Menurut saya, konfliknya kurang kuat. Ada 2 konflik di cerita itu yakni tentang idealisme dan gagal ginjal, tapi yang satu tidak dikulik dan yang lainnya malah seharusnya tidak jadi masalah.Juga cerita Hujan. Saya paham tentang profesi Mira, tapi hanya menebak nebak. Mungkin maksud penulis, Mira adalah simbol dari fenomena daerah daerah wisata. Tapi menurut saya, konfliknya bisa dipertajam.

Yang saya sukai dari gaya menulis Retno adalah dia tidak mengawang awang dalam tema. Tulisannya sederhana, tidak " berenda renda" tapi semua yang ditulisnya kita hadapi sehari hari. Tulisannya membumi, tapi tetap santun. Dan profesinya sebagai editor juga membuat tulisan tulisannya selamat dari kesalahan EYD. Membaca Braga Siang Itu, seperti membaca hidup...yang ada di sekitar kita, tapi lupa kita cermati. Dan Retno melakukannya buat kita.


Judul buku         :   Braga Siang Itu.
Pengarang         :   Triani Retno A
Jenis buku         :   Kumpulan Cerita Pendek
Penerbit            :   Sheila
Jumlah halaman :   140
Tahun Terbit      :   2013

***

Link Asal
Buku saya ini diresensi ole Syifa Dhani (aka Dhani Praktinyo) di blog Penyunting Aksara. Saya kopas di sini sekadar untuk dokumentasi saya. Terima kasih ya sudah berkenan mambaca dan meresensi buku saya :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...