06 April 2015

[Buku Saya Diresensi] Cermin

Peresensi: Yunita Hentika Dani

Lagu "Fur Ellise" mengalun.
Dan perlahan pada pantulan cermnin tua itu, sosok seorang gadis yang tampak lebih tinggi dariku mendekati. Kulitnya pucat transparan. Rambutnya pirang, jatuh dengan lembut di blousenya yang berenda.
Dan biru matanya menatapku dengan sendu.
"Namaku Brenda, aku dan keluargaku dibunuh oleh tentara Nippon."

Ini noomic atau novel comic pertama yang kubaca. Ternyata Cermin ini bukan novel seperti yang kukira. Meskipun cover depan diilustrasi dengan memikat dan terkesan horor ternyata isinya sangat menghibur. Buku ini terdiri dari 7 cerita pendek yang bertema sama yaitu "indigo".

Cerpen pertama bercerita ttg demam remaja sampai orang tua yang terjangkiti virus selfie. Apa jadinya jika kita ber-selfie ria ditempat yang tidak seharusnya?, atau apa akibatnya jika kita tidak mengindahkan peraturan yang tertulis jelas untuk tidak mengambil gambar di museum?. Kisah Kikan si ratu selfie di cerpen " Dilarang Memotret Disini" akan membuat kita berfikir dua kali sebelum ber-selfie.

Di cerpen "Promo" masih dengan gaya bercerita yang riang dan renyah akan sedikit membuat siapapun merinding. Bagaimana jika kita mampu melihat peristiwa yang akan terjadi 3 hari kedepan?. Ceritanya mirip dengan film yang pernah kutonton. Headline sebuah surat kabar tentang sebuah kecelakaan besar yang ternyata belum terjadi. Tema yang bagus untuk dijadikan cerita horor.

Pernah penasaran dengan aksi sulap yang diluar nalar? .Di cerpen "Sang Maestro" mungkin bisa sedikit meliarkan imajinasi pembaca. Sang Narator bercerita tentang sisi lain dunia pesulap yang memang kental sekali dengan dunia ghaib dan membuatku ikut merinding hiiii...

Lalu ada cerpen tentang "Kafe Biru Langit" . Setelah membaca cerpen ini mungkin pembaca akan mulai berfikir aneh aneh kalau melihat restoran yang ramai dan makanan enak. Temanya juga tak asing tapi diceritakan dengan ringan.

Membaca cerpen "Kitty" seolah mengingatkan tentang mitos kucing yang agak agak membuat bulu kudukku meremang. Duh ngeri juga cerita ini, jadi was was sendiri kalo ketemu kucing indigo kayak Kitty...

Dan pamungkasnya tentu saja cerpen "Cermin" yang horornya dapet banget. Penulis sengaja meletakkannya di akhir cerita supaya makin penasaran.

Membaca noomic ini mirip mirip adegan Harry Potter yang asyik ngemut permen aneka rasa sambil penasaran rasa apa yang akan kutemukan di cerpen selanjutnya.

Kalo harus menuliskan kekurangan mungkin di tipisnya. Buku ini cuma terdiri dari 125 halaman termasuk komiknya. Baru aja adrenalin melambung eh tangan udah membalik lembar terakhir hikkss..

Peletakan komik di hampir penghabisan cerita juga sedikit menganggu. Jadi berasa seperti pengulangan cerita. Mungkin lebih bagus kalau diletakkan acak diantara teks cerita atau digabung di bagian akhir.

Untuk Setting sendiri mengambil kota Bandung yang menawan. Meskipun tidak ada tempat spesifik yang ditampilkan penulis. Padahal aku udah seneng aja bertualang di kota kembang ini hehe..

Ini sebenarnya bukan resensi. Masih latihan menulis dan menceritakan apa yang baru saja kubaca. Mungkin karena bukunya bagus jadi meresensinya pun tidak sesulit yang kukira.

Jadi yang suka cerita horor dan kangen legitnya cerita remaja sila baca noomic ini.

Oh iya ini info bukunya

JUDUL : CERMIN, Aku Melihatmu Apa Kau Melihatku
PENULIS : TRIANI RETNO A
HALAMAN : 125 HALAMAN
TAHUN : 2014
PENERBIT : ANAK KITA



***

Link Asal
Buku saya ini diresensi oleh Yunita Hentika Dani di Goodreads. Saya kopas di sini sebagai dokumentasi saya. Terima kasih. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...