01 January 2015

[Resensi] Ridwan Kamil dan Kekuatan Twitter




Ridwan Kamil dan Kekuatan Twitter



Salah satu kriteria pemimpin yang didambakan oleh rakyat adalah dekat dengan rakyat dan membuka kanal komunikasi dua arah. Bukan sekadar kedekatan ketika musim kampanye untuk meraih simpati dan mengumpulkan suara. Kedekatan itu harus tetap terjalin ketika telah menduduki jabatan sebagai pemimpin dan menjalankan amanah rakyat.


Pada era teknologi informasi seperti sekarang ini, komunikasi dua arah dipermudah dengan adanya jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Line. Ridwan Kamil yang menjadi Wali Kota Bandung sejak 16 September 2013 termasuk salah satu pemimpin yang mengoptimalkan Twitter sebagai media berkomunikasi. Bahasa yang digunakannya di Twitter pun komunikatif, tak kaku seperti kebanyakan pejabat.

Pada masa awal jabatannya sebagai Wali Kota, Kang Emil―begitu ia biasa disapa―menginstruksikan kepada seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Bandung untuk memiliki akun Twitter.

Pada mulanya, kebijakan ini dianggap aneh dan kontraproduktif. Di tengah banyaknya pekerjaan yang harus dituntaskan, ia malah mengeluarkan instruksi tentang akun Twitter ini. Bukan rahasia, sebagian orang memang menganggap jejaring sosial seperti Twitter ini hanya untuk main-main.

Benarkah penggunaan Twitter ini hanya aktivitas di waktu senggang dan bahkan membuang waktu?



Twitter Sebagai Media Komunikasi
Di tangan sebagian orang, Twitter mungkin hanya untuk main-main atau mengisi waktu senggang. Namun, tidak demikian jika Twitter berada di tangan Ridwan Kamil. “Kebijakan Kang Emil sungguh serius dan bukan main-main. Media sosial yang sangat terbuka dan egaliter memungkinkan komunikasi berlangsung secara terbuka dan bersifat interaktif. Inilah esensi yang sesungguhnya dari kebijakan Twitteran Pak Wali Kota.” (halaman ix-x).

Twitter Power.


Lewat Twitter pula Kang Emil menyosialisasikan gagasan, kegiatan, serta program-program yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung. Sebut saja misalnya Fundays (halaman 49-65). Hari-hari menyenangkan (fundays) di Bandung ini merupakan bagian dari program peningkatan indeks kebahagiaan warga kota Bandung. Dimulai dari Senin Gratis Naik Damri (bagi pelajar berseragam, yang kemudian ditambah dengan hari Kamis), Selasa Tanpa Rokok, Rebo Nyunda, Kamis Inggris, hingga Jumat Sepeda. 


Kemampuan Twitter menyampaikan dan menyebarkan informasi dalam waktu singkat serta reaksi cepat Kang Emil membuat kehadirannya tak hanya terasa di dunia maya tetapi juga di dunia nyata, di dalam ruang kehidupan warga. (halaman 35-47)


Kedekatan Kang Emil dengan warga kota juga terlihat dari kicauannya di Twitter. Kang Emil tak jarang heureuy (bercanda -‒bahasa Sunda) dengan follower-nya. Misalnya, pada hari Selasa Tanpa Rokok, seorang follower mengeluh karena dua kali terkena puntung rokok yang dilempar sembarangan dalam keadaan belum dimatikan. Kang Emil menjawab dengan nada guyon, “Kamu balas dengan lempar bunga, tapi sekalian dengan pot batunya.” (halaman 55)


Kang Emil pun paham dengan konsekuensi dari komunikasi terbuka ini. Tak jarang ia mendapat tweet yang berisi cacian, makian, dan ancaman (halaman 111-119). Misalnya ketika ia melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Lapangan Gasibu yang berada tepat di depan Gedung Sate. Di sini pembaca bisa melihat sikap tenang Kang Emil dalam menghadapi semua caci maki itu. 


Sayangnya, cukup banyak kesalahan penyuntingan di dalam buku ini. Misalnya menggapi (halaman 40, seharusnya menanggapi), joblowan dan joblowati (halaman 80, seharusnya jomblowan dan jomblowati), merubah (halaman 82, seharusnya mengubah), dan jika (halaman 93, seharusnya “jiwa”).

Selain itu, ketidakkonsistenan penggunaan kata pun cukup banyak. Misalnya, di halaman iii ada kata praktek dan ada kata praktik, kata aktivitas (104) dan aktifitas (iv), walikota (iv) dan wali kota (ix), serta fondasi (xiv) dan pondasi (91). Beberapa screenshoot pun terlalu kecil sehingga sulit dibaca.


Terlepas dari kekurangan kecil itu, buku dengan ilustrasi berwarna ini layak dibaca, dikaji, dan dijadikan bahan renungan. Pembaca pun dapat lebih memahami latar belakang munculnya sebuah tweet dari Kang Emil. Hal ini karena Yudiman dan Sufyan yang sama-sama pernah berkarier sebagai wartawan melengkapi tweet-tweet Kang Emil dengan narasi dan informasi yang cukup memadai.

Isi buku Twitter Power Ridwan Kamil.

Judul   : Twitter Power @ridwankamil
Penulis  : Maulana Yudiman dan Muhammad Sufyan
Penerbit: Publika Edu Media
Terbit    : Oktober 2014
Tebal     : xxii + 124 halaman
ISBN      : 978-602-71147-0-8
Harga    : Rp40.000

Baca Juga Artikel Lain Seputar Bandung

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...