20 February 2015

[Buku Saya Diresensi] Jumpalitan Menjadi Ibu


Buku antologi Jumpalitan Menjadi Ibu ini udah lama sih terbitnya. Kemarin pas googling  nama sendiri, nemu resensi ini. Udah tenggelam jauh di belantara dunia maya saking lamanya. Daripada nanti-nanti makin susah menemukan resensi ini lagi, mendingan saya simpan saja di sini.



Untuk Jadi Ibu Kok Coba-Coba
Peresensi: Nurul Fauziah
26 Juni 2011


Judul : Jumpalitan Menjadi Ibu
PENULIS : Sari Meutia, dkk
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : Februari 2011
tebal : 211 Halaman


"UNTUK anak kok coba-coba". Kurang lebih begitulah bunyi jargon sebuah iklan minyak angin. Lalu bagaimana jika jargon iklan itu saya ganti, "Untuk Jadi Ibu Kok Coba-coba". Mungkin ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan pernyataan di atas, tapi bagi saya setelah membaca buku yang bersampul merah menyala ini semakin meyakinkan saya bahwa memilih jalan hidup menjadi seorang ibu adalah hal yang tidak mudah, namun bukan berarti tidak didekati sama sekali, dan tidak pula dimudah-mudahkan. Sekali lagi, kata Emmet Fox dalam buku Rumahku Istanaku, a Chicken Soup, tidak ada kesulitan yang tidak dapat dikalahkan oleh cinta dalam jumlah yang cukup. Jadi Ibu? Siapa takut?

Jika saja Ibu kita Kartini masih hidup, mungkin juga beliau akan salut dengan wanita masa kini dan melontarkan pertanyaan retorika, Apa yang tidak dilakukan oleh para ibu hari ini? Menjadi partner suami, tentu, merawat dan mendidik anak, wajib, mengurus segala hal tentang kerumahtanggaan, harus, menjadi bagian dari masyarakat, jelas. Istilah multi-tasking pun serta-merta melekat pada diri tiap ibu yang berjibaku melakukan berbagai kegiatan dalam satu waktu, dan ini berkah luarbiasa yang diberikan Allah kepada makhluk berstatus Ibu, berbeda dengan para ayah yang konon katanya gelar multi-tasking ini jarang bisa disematkan di status mereka.

Kisah-kisah dalam buku ini adalah tuturan dari para ibu yang merasakannya jumpalitan menjadi ibu. Ada 19 ibu dari latarbelakang berbeda yang dengan sangat apik menuliskan kisah mereka dalam buku terbitan LPPH ini. Beberapa catatan bunda yang mengesankan bagi saya di antaranya, Bunda Sari Meutia, haru banget ketika anak beliau berusaha untuk mengucapkan hari ibu tepat waktu, namun pada akhirnya si anak lupa dan menyebabkan kartu ucapan itu terselip sehingga acara mengucapkan selamat hari ibu kepada bunda tercinta jadi terlambat.

Ada juga kisah Bunda Haya Aliya Zaki dan Bunda Ambhita Dhyaningrum yang berbagi pengalaman tentang pilah-pilih asisten yang multitalent, sayang anak dan bisa dipercaya. Apakah Bunda Haya dan Bhita menemukan asisten idaman mereka? Dalam buku ini dijelaskan semuanya termasuk juga beberapa tips bermanfaat dalam mencari asisten. Lain halnya dengan jumpalitan yang dialami Bunda Nunik Utami dan Bunda Indah Julianti Sibarani. Mereka berada di antara tuntutan karier dan keluarga. Lalu bagaimana pengalaman jumpalitan yang dialami single mom?

Mungkin lembaran Bunda Triani Retno akan menjawabnya. Tidak mudah menjadi ibu dari anak yang beranjak remaja, siapkan jantung yang kuat ketika mendengar anak sudah mengenal istilah porno atau narkoba, selain itu kenyataan menghadapi anak generasi "Z" yang sudah melek teknologi dan menenangkan anak yang berkeinginan keras memiliki gadget canggih demi sebuah gengsi dalam pergaulannya. Dan masih banyak kisah unik lainnya dalam buku ini.

Buku ini tidak sekadar memuat pengalaman wah para ibu, tapi juga menyelipkan beberapa tips jitu dan tentunya bermanfaat sekali buat tipe ibu yang memiliki anak di zaman sekarang yang tentu pola pendidikannya tidak bisa disamakan dengan kehidupan si ibu sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Hanya saja menurut saya, hampir sebagian besar profesi ibu dalam buku ini adalah penulis yang memang sebagian besar waktunya bisa untuk si buah hati, sedangkan untuk porsi menjadi ibu yang berkarir di luar rumah dan pengalaman jumpalitannya menjadi ibu, sedikit kurang banyak, menurut saya.

Para ibu, percayalah bahwa dari semua fenomena jumpalitan itu, wajar jika seorang Mildred B. Vermont mengatakan, Being a full time mother is one of the highest salaried, since the payment is pure love, Menjadi ibu full time itu upahnya jauh lebih tinggi dari pekerjaan mana pun di dunia karena bayarannya adalah cinta yang tulus. Masih mau coba-coba jadi Ibu? Selamat Membaca! (nurul fauziah)

Penulis adalah mahasiswa IAIN SU. Saat ini ia bergiat di FLP SU dan LRS (Leutika Reading Society) Medan. 


Link Asal
Buku ini diresensi oleh Nurul Fauziah di Medan Bisnis Daily.  Terima kasih sudah meresensi buku kami ini, yaaa :)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...