11 February 2015

Hati yang Melihat Pelangi

Dalam buku kumcer Siapa Mau Jadi Pacarku? yang diterbitkan oleh Penerbit Sheila (grup Penerbit Andi), ada sebuah cerpen berjudul "Hati yang Melihat Pelangi". 


Sebelumnya, cerpen ini pernah dimuat di Story Teenlit Magazine (sekarang sudah tidak terbit lagi) dua tahun yang lalu. Tepatnya Story No. 30 bulan Februari 2012.

Februari 2012? Edisi Valentine?

Ya. Tuh lihat, warna ilustrasinya aja pinky-pinky gitu. Namun, jangan bayangkan cerpen ini berkisah tentang cinta sepasang remaja. Oh, nggak. Not my style eta mah


Lagi pula, cerpen ini bukan sengaja saya tulis untuk edisi Valentine, kok. Cerpen ini sempat mengantre lama di majalah Story. Sempat akan dimuat di edisi November 2011 tapi diundur karena dinilai terlalu berdekatan dengan dimuatnya profil saya di majalah itu.

Cerpen "Hati yang Melihat Pelangi" ini berkisah tentang kunjungan Kayla ke Panti Tunanetra Kasih Ananda. Alika, teman sekelasnya sudah menunggu di sana. Kayla yang baru pertama kali ke sana, terkaget-kaget. Tapi justru di sanalah Kayla menemukan hati yang melihat pelangi. 


“Kebanyakan nggak bisa melihat sejak lahir. Mereka nggak pernah melihat wajah orangtua mereka. Mereka nggak pernah melihat hijaunya rumput di bawah kaki mereka. Mereka nggak pernah melihat birunya langit di atas sana. Mereka nggak pernah melihat indahnya pelangi ketika selesai hujan,” ujar Alika. “Tapi, Kay, jelaskanlah pada mereka seperti apa rumput, langit, dan pelangi itu. Mereka akan bisa melihatnya dengan lebih indah. Jauh lebih indah daripada yang bisa kita lihat. Kamu tau kenapa, Kay?”
Kayla menggeleng.
“Itu karena mereka melihat dengan hati,” ujar Alika. "Dengan hati, mereka bisa melihat indahnya warna pelangi." (halaman 124)
 
Cerpen "Hati yang Melihat Pelangi" adalah
1 dari dari 15 cerpen remaja dalam buku Siapa Mau Jadi Pacarku?


Berangkat dari Pengalaman

Cerpen "Hati yang Melihat Pelangi" ini berangkat dari secuil pengalaman saya yang kemudian saya campur dengan beraneka bumbu. Pengalaman saya benar-benar hanya secuil. Toh yang saya tulis adalah cerita fiksi, bukan reportase.



Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Fikom Unpad, saya menjadi reader di sebuah panti tunanetra di Bandung. Sahabat saya yang mengajak. Setelah itu, Senat Mahasiswa pun mengadakan acara baksos ke sana. Lalu Himpunan Mahasiswa Jurusan pun mempunyai program kegiatan di sana. 

Itu awalnya. Kemudian saya sering datang ke sana sendiri. Membacakan buku, menuliskan PR mereka (hanya menuliskan, pemikiran dari mereka sendiri), atau sekadar mengobrol. Banyak dari mereka yang bersekolah di sekolah umum. Banyak pula yang kuliah. Saya juga pernah mendampingi mereka mengikuti UAS di sebuah PTS di Bandung.

Sudah bertahun-tahun berlalu. Tapi kesan yang saya dapat dari sana masih membekas hingga kini. Ah, ya. Saya masih ingat betapa anak-anak itu sempat mengeluh dan protes ketika mendengar saya berkata-kata. "Terlalu cepat, Teteeeeh...!"  Akibatnya, mereka jadi pontang-panting menyalin kata-kata lisan saya ke dalam huruf Braille.

Hehehe... kecepatan berbicara saya (ketika itu) memang super. Jangankan mereka yang tunanetra. Teman-teman saya di sekolah dan kampus pun sering protes. Eh tapi waktu SMA saya punya dua teman dekat yang memiliki kecepatan bicara sama seperti saya. Kalau lagi iseng, kami bertiga suka mengobrol secara CEPAT! 

Bagi saya, nggak tabu kok menulis cerpen atau novel dengan bertitik tolak dari pengalaman pribadi. Para penulis terkenal juga banyak yang melakukannya. Tinggal sebesar apa sih pengalaman pribadi itu dituangkan dalam cerita. Kalau saya mah... seujung kuku ajalah. Maklumlah, saya kan pemalu.


***

Baca Juga

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...