12 February 2015

Menunggu Naskah Terbit

Ketika menulis sebuah cerita, entah itu cerpen atau novel, kita berharap cerpen/novel kita akan dimuat di majalah atau diterbitkan oleh sebuah penerbit.

Salah nggak?

Ya nggaklah. Itu wajar banget. Tapiii... Selain bisa menulis, kita juga harus bisa menunggu naskah terbit.


Menunggu
Naskah yang kita kirim ke majalah atau penerbit belum akan terbit dalam waktu 2-3 bulan setelah dikirim. Jangankan terbit, mendapat jawaban akan terbit atau ditolak pun belum. Banyak sekali naskah yang ditulis dan dikirim setiap harinya. Jauh lebih banyak daripada kemampuan penerbit/majalah untuk menerbitkan atau memuat tulisan itu.

Baru mengirimkan 1-2 bulan lalu berteriak di berbagai forum bahwa penerbit X itu brengsek atau majalah Y itu lelet jelas bukan hal yang bijak. Baru mengirim 1-2 bulan lalu sudah menelepon redaksi/editor hampir setiap hari juga tidak diharapkan. 


Sabar, atuh. Redaksi/editor juga butuh waktu untuk bekerja, untuk memilih yang terbaik. Mereka juga manusia biasa yang butuh istirahat. Editor di penerbitan nggak cuma membaca satu naskah, lho. Mereka juga harus mengedit (ya iyalah), memikirkan gimana kavernya, dan sebagainya.


Naskah yang harus dibaca dan dinilai ada banyaaak. Di penerbit besar, dalam satu hari saja naskah yang masuk bisa mencapai puluhan hingga ratusan judul. Padahal, tiap hari adaaa saja naskah yang masuk. Keputusan sebuah naskah di-acc atau tidak bukan berasal dari satu orang saja, lho. Mereka akan berdiskusi, akan rapat untuk menentukan sebuah naskah layak terbit atau tidak. Nggak cuma editor yang terlibat, tapi juga tim marketing. 

Teman saya, seorang editor di sebuah penerbit besar mengatakan begini pada saya, "Naskah ini bagus, tapi tim marketing nggak setuju. Kata mereka, pasarnya susah."

Karena banyaknya naskah yang harus dibaca dan di-review, penerbit biasanya meminta kita menunggu selama 1-6 bulan untuk mendapatkan jawaban akan diterbitkan atau ditolak. Kalau naskah yang masuk sedang banyaaak banget, bisa lebih dari enam bulan.

Katakanlah naskah kita diterima, bukan berarti seminggu kemudian naskah kita langsung menjadi buku. Ada proses-proses yang harus dilalui. Naskah itu harus melalui tahap penyuntingan alias editing, layout, pembuatan ilustrasi (kalau dibutuhkan), pembuatan kaver, proofreading, baru dicetak. Kadang-kadang, untuk bisa diedit saja naskah kita harus mengantre karena editor-editor yang ada sedang menangani banyak naskah lainnya.

Butuh berbulan-bulan lagi sampai akhirnya naskah kita yang sudah di-acc itu menjelma menjadi buku. Ya, ada beberapa pengecualian. Naskah-naskah dengan penilaian tertentu bisa terbit lebih cepat. Tapi sekarang kita bicara tentang yang umum-umum aja, ya.


Kamu, Sih, Nggak Perlu Nunggu!
Hehehe... kata siapa? Saya juga menjalani proses menunggu ini. Menunggu mendapat kabar dari penerbit, menunggu naskah saya diproses hingga menjadi buku. 

Justru karena saya pernah (dan masih) menjalani proses itu makanya saya bisa bercerita seperti ini. Naskah novel Dimensi saya kirim ke Elex Media Komputindo tanggal 28 Mei 2013, di-acc sekitar sebulan kemudian, dan terbit tanggal 14 Juli 2014. Terbitnya berbarengan dengan naskah novel It's Not A Dream yang saya kirim tanggal 20 Agustus 2013.


Novel Dimensi dan It's Not A Dream terbit bareng.

Kumcer Braga Siang Itu juga butuh waktu lebih dari satu tahun. Saya kirim ke Penerbit Andi pada bulan November 2012, di-acc Mei 2013, dan terbit Desember 2013.


Braga Siang Itu, menunggu satu tahun .


Dari sekian buku saya, yang di-acc dalam waktu kurang dari lima hari hanya 25 Curhat Calon Penulis Beken (Gramedia Pustaka Utama, 2009) dan Bila Mencintaimu Indah (Quanta EMK, 2013).



Agar Menunggu Tak Membosankan

Berikut ini sedikit tip dari saya agar proses menunggu ini tidak terasa membosankan. 
  • Jangan fokuskan pikiran pada menunggu. 
  • Pada masa-masa menunggu itu, jangan hanya berdiam diri. Mulailah menulis naskah yang baru, selesaikan, lalu kirimkan.
  • Jangan hanya mengandalkan satu naskah. Kalau cuma punya satu naskah, proses penantian ini memang terasa sangat menyebalkan.
  • Jangan menunggu ada kabar dari naskah yang satu itu, baru kemudian menulis lagi. Iya, kalau di-acc mah bisa bikin semangat meluap-luap. Kalau yang datang malah kabar penolakan? Bisa-bisa malah makin malas nulis.
  • Menyibukkan diri dengan menulis (dan kegiatan lain) membuat penantian itu tak terasa.
Yuk, berproses.


Baca Juga

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...