04 February 2015

Mumi Fir'aun di Braga

Ada yang berbeda dengan Pesta Buku Bandung kali ini. Lokasi? Oh, bukan. Lokasi pameran tetap di Gedung Landmark di Jl. Braga yang legendaris itu.

Yang berbeda kali ini adalah kehadiran mumi Fir'aun Ramses II di lokasi pameran. Memang hanya replikanya, tetapi tetap saja menarik.


Saya baru berkesempatan mengunjungi pameran ini pada hari kelima pameran, yaitu hari Selasa tanggal 3 Februari 2015. Mundur dari rencana semula karena ada kecelakaan kecil di rumah yang membuat tangan kanan (lengan bawah) saya terluka. Selain karena memang lumayan perih, ngebayangin ngebawa buku-buku hasil berburu di pameran dengan tangan sakit... rasanya kok nggak banget, ya.

Seperti biasa, saya memilih datang ke pameran buku pada hari kerja (weekday) dan jam kerja. Pertimbangan saya, pada jam-jam begitu pengunjung belum ramai sehingga saya bisa leluasa melihat-lihat dan memilih-milih buku di (hampir) semua stan. Tapi kali ini saya salah. Tiba di Gedung Landmark pada pukul 11 pagi, langkah saya langsung terhalang oleh rombongan anak-anak SD dan SMP (plus guru-guru mereka, tentu saja). 

Untungnya, ketika saya memutuskan ke ruangan tempat mumi Ramses II itu berada, tak terlalu banyak orang di sana. Tak perlu lama mengantre juga untuk membeli tiket.

Tiket masuk.

Untungnya, nih, dengan tiket seharga Rp15.000 itu, kita bisa bebas mau berapa lama di dalam. Asiiik. Saya bisa duduk-duduk santai sambil menonton film pendek tentang Nabi Musa as., dan Fir'aun. Kaki udah pegel, nih, karena lama berdiri sambil mencari-cari buku.


Me Time With Mummy
Hawa sejuk AC langsung menyambut begitu memasuki ruangan pameran mumi. Sejuk dan gelap. Saya memilih duduk di barisan belakang. Menonton film sambil mengemil cokelat. Hehehe... tak mau me time saya di pameran buku terganggu oleh lapar, saya memang membawa bekal cokelat dan sebotol air minum. 

Film ini mengisahkan kekejaman Fir'aun yang menyuruh tentaranya membunuh semua bayi laki-laki karena takut kekuasaannya akan dikalahkan. Namun, Musa kecil selamat karena sang ibu mendapat ilham dari Allah Swt., untuk menghanyutkan Musa di sungai. Kehendak Allah Swt., pula yang menjadikan Musa tiba di tempat istri Fir'aun. Istri Fir'aun jatuh hati pada Musa kecil, lalu membawanya pulang ke istana.

Singkat cerita (lengkapnya bisa baca di buku sejarah nabi-nabi atau di Al-Qur'an, yaaa), setelah dewasa Musa as., diangkat menjadi rasul Allah dan bertugas menyampaikan ajaran tauhid. Fir'aun murka, lalu mengejar Nabi Musa as., dan kaumnya. 

Seperti kita tahu, Laut Merah terbelah setelah dipukul dengan tongkat Nabi Musa as. Nabi Musa as., dan kaumnya berhasil menyelamatkan diri. Sementara itu, Fir'aun dan bala tentaranya mati tenggelam di laut tersebut. Namun, atas kehendak Allah Swt., jasad Fir'aun tidak hancur. Jasadnya "selamat" dan menjadi pelajaran bagi kaum-kaum sesudahnya.

Usai menonton film ini, saya melangkah ke ruang pameran yang berpencahayaan remang-remang. Auranya terasa berbeda dibandingkan jika berkunjung ke museum. Mungkin karena di luar ruangan mumi ini ramai dengan pameran buku, ya. Atau mungkin juga karena ada senandung ayat-ayat suci Al-Qur'an. Oh, bagusss... soalnya terakhir kali ke museum saya emh... pontang-panting keluar karena "hawanya" seram.

Tak banyak koleksi yang dipamerkan di sana. Beberapa di antaranya adalah tongkat Fir'aun, tongkat Nabi Musa as., patung dewa-dewa sesembahan Fir'aun seperti Oris dan Anubis, sarkofagus, dan tentu saja mumi Fir'aun.



Sarkofagus (peti mati)


Tongkat Fir'aun
Kitab Taurat







 





..


Replika mumi Fir'aun Ramses II

Banyak remaja seusia saya di ruang pameran ini. :))

Mommy and Mummy.

Yang di latar belakang itu adegan waktu Nabi Musa as., menunjukkan mukjizatnya,
berupa tongkat yang berubah menjadi ular besar, lalu memakan ular-ular para tukang sihir Fir'aun.
Emh... nggak ada yang salah fokus, kan? :p

Selesai dari ruang pameran mumi ini, saya kembali melanjutkan me time saya, berburu harta karun berupa buku. 




Baca Juga


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...