14 February 2015

Proses (Tidak) Instan Untuk Menjadi Penulis


Banyak yang menduga tulisan saya lolos begitu saja tanpa seleksi. Langsung dimuat di majalah X. Langsung terbit di penerbit Y. Selama ini saya selalu posting kalau ada yang naskah saya yang dimuat, terbit, atau menang lomba. Sebaliknya, saya diam-diam saja kalau ditolak atau kalah. Bukan apa-apa. Saya pernah menulis status di FB tentang naskah saya yang ditolak, dan ternyata... responsnya membuat saya miris. Banyak teman yang malah menjadi gentar, takut, dan tak berani mengirim naskah karena takut ditolak. 



Hadeuuuh! Kenapa jadi begitu? Padahal maksud saya dengan status itu adalah: Semua penulis punya peluang sama. Sama-sama berpeluang diterima dan sama-sama berpeluang ditolak. Prosesnya tidak instan untuk menjadi penulis.

Sejak itu, saya tak memilih diam-diam saja kalau naskah saya ditolak. Diam-diam memperbaiki naskah itu, diam-diam mengirimkannya lagi ke tempat lain.




Tidak Instan
Saya menulis cerpen dan mulai mengirimnya ke majalah sejak kelas 3 SMP. Catat, ya, kelas 3 SMP. Mengetik pun masih dengan mesin ketik manual. Cerpen pertama saya dimuat di majalah (Aneka) ketika saya kuliah semester 5. Silakan hitung berapa tahun waktu yang saya butuhkan untuk menembus majalah. 

Penolakan yang saya terima? Banyak sekali. Pak posnya aja sampai hafal pada nama dan wajah saya (zaman itu belum zaman internet). Bertemu di jalan pun Pak Pos akan memanggil saya, "Retno, ini ada surat buat kau dari Jakarta. Tebal kali suratnya." Tebal? Ah, berarti naskah saya dikembalikan lagi. Oh ya, waktu itu saya masih tinggal di Medan.


Sekarang pun saya bukannya tidak pernah ditolak. Novel saya yang ini, misalnya. Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya. Sebelum terbit di Diva Press (2012), novel ini pernah satu kali kalah lomba menulis novel di Penerbit Republika dan tiga kali ditolak oleh penerbit lain.


Novel Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya.

 
Suatu hari saya jalan-jalan ke Togamas di Jl. Supratman, Bandung. Ketika melihat novel-novel terbitan Diva Press, tiba-tiba saya yakin naskah ini berjodoh dengan penerbit tersebut.

Ternyata benar. Meski beberapa bagian naskah ini saya tulis sambil menangis (saking menjiwainya, ehm), banyak hal menyenangkan yang terjadi kemudian. Misalnya, Shahnaz Haque-Ramadhan bersedia mengendors novel ini, cetak ulang, dan ada beberapa mahasiswa yang meneliti novel ini untuk skripsi. Tak cuma meneliti aspek bahasa dan sastranya, tetapi juga aspek pengajaran, hukum, dan psikologi. Ada yang diam-diam saja,tapi ada juga yang mengabarkan mendapat nilai A untuk skripsinya itu.

Selain itu, cukup banyak juga yang meresensi novel ini. Kemarin saya dapat kabar dari Ridho, di blog Ridho dan Bukunya, resensi novel Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya tetap yang paling banyak dibaca dan dicari selama tiga tahun ini. Alhamdulillah.

Jadi, masa sih mau menyerah hanya karena ditolak oleh penerbit? Tetap semangat, yuk.
 ***

Baca Juga
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...