01 March 2015

Blink-Blink di Festival Batu Akik

Ketika membaca berita bahwa di Bandung akan diadakan Festival Batu Akik, saya langsung mencatatnya. Mesti dateng.

Sebelum terjadi demam massal akan batu akik ini, saya sudah lama suka dengan batu yang indah ini. Suka doang, lho, ya. Saya bukan kolektor. Dulu Bapak (alm) punya beberapa cincin batu akik. Ibu juga. 

 Cuma, ketika Bapak sakit-sakitan dan kemudian banyak "gangguan" di rumah (tahun 2008-2009), cincin-cincin akik milik Bapak termasuk benda yang terpaksa disingkirkan dari rumah. Katanya, sih, cincin milik Bapak itu ada "isinya". Wallahu a'lam. Bapak dan Ibu sendiri, sih, nggak  pernah "mengisi" cincin-cincin itu.

Mata Langsung Blink-Blink
Memasuki arena Festival Batu Akik, mata langsung blink-blink. Batu akik berbagai jenis, warna, ukuran, dan model terpampang di depan mata. 


Dari batu mentah sampai yang sudah jadi, dari yang berukuran imut-imut sampai yang berukuran besar,ada di sana.  Batu akik pancawarna, opal, safire, firus, kecubung, bacan, kalimaya, lavender, ruby, dan beraneka batu lainnya memanjakan mata saya yang sehari-hari menatap layar laptop.



Indahnyaaa. Sayangnya nggak leluasa motret karena pengunjung ramai banget.
(foto-foto ini hasil jepretan anak saya. Jadi, harap maklum kalau yang difoto adalah batu-batu  imut :D)

Dari rumah saya sudah bertekad tak akan tergoda tapi... astagaaa... kenapa batu-batu akik ini cantik banget? Tapi untunglah semua godaan itu kalah oleh dompet saya yang slim seperti pemiliknya. Hehehe....


Mencari Keindahan Atau....
Saya sempat berhenti lama di beberapa stan. Oya para penjaga stannya ramah-ramah dan bisa memberikan informasi yang memuaskan. Penting, nih. Males banget, kan, kalau penjaga stannya nggak tau apa-apa.

Ketika sedang mati-matian menahan godaan gelang batu yang serasa melambai-lambai minta diadopsi, si penjaga stan berkata, "Kalau gelang yang ini biasa aja. Kalau yang itu," dia menunjukkan etalase yang lain, "ada isinya. Harganya 30 juta."

Uwoooow! Tiga puluh juta? Tapi ternyata itu bukan yang paling mahal. Ketika berjalan ke stan lain, ada  cincin yang dijual dengan harga ratusan juta. Denger-denger, ada yang miliaran juga. Oh, saya langsung membandingkan dengan harga rumah.
 
Batu-batu mentah yang seperti kue ini berasal dari berbagai daerah.
Ada yang dari Sukabumi, Makassar, Papua, dsb. Jenisnya pun bermacam-macam.
Berkaitan dengan ini, saya teringat sebuah berita yang saya baca di koran Republika tanggal 18 Februari 2015. Direktur Pusat Kajian Hadis, Ahmad Lutfi Fathullah, mengatakan bahwa menggunakan batu akik karena unsur mistik atau dikaitkan dengan sumber kekuatan dan keberkahan adalah haram hukumnya. Tapi batu akik boleh dijual dan digunakan jika karena alasan kecantikan dan keindahan. Selain itu, Ahmad Lutfi juga mengingatkan agar tak membeli batu akik yang mahal untuk pamer. Menurutnya, sikap pamer sama saja dengan sombong yang tak disukai oleh Allah.

Saya pribadi, sih, nggak tertarik dengan "isi-isi" di dalam batu akik itu. Namun, saya sangat terpesona dengan keindahannya. Masya Allah. Indah sekali. Semoga nggak ada kamera tersembunyi yang menangkap ekspresi wajah saya ketika melihat batu akik yang bermotif (seperti) pemandangan alam dan rumah. Yang bermotif abstrak saja sudah bikin saya cegluk-cegluk. Indahnyaaa.... Betapa Mahaindah Dia yang telah menciptakan keindahan batu-batu ini.

Liontin pemandangan ini dari jenis batu bacan Garut. Satu set dengan dua cincin itu ditawarkan Rp15 juta.
Emh... abaikan aja tulisan "Nokia" di situ ya. :))





Kalau nggak tau apa-apa tentang batu akik, kalem aja.
Di beberapa stan ada informasi tentang jenis-jenis batu seperti ini.
Cukup informatif.


Mau ke Sana?
Jika Teman-teman tertarik untuk ke Festival Batu Akik ini, silakan langsung meluncur ke Gedung Jl. Diponegoro No. 61 Bandung. Festival yang dibuka tanggal 24 Februari 2014 ini masih akan berlangsung hingga tanggal 5 Maret 2015. 

Ada acara obrol-obrol tentang batu akik juga.
Kalo yang ini mah si pedagang batu akik yang lagi diajak ngobrol.

Kalau pakai kendaraan umum, tenang aja. Aksesnya gampang, kok. Gedung ini persis dilalui oleh angkot Cicaheum-Ledeng dan angkot Cicaheum-Ciwastra. Angkot Sadang Serang-St.Hall lewat di dekat tempat ini, tapi nggak persis, jadi mesti jalan kaki lagi dikit. Bertetangga dengan Gedung RRI ini adalah Gedung Dwiwarna, Museum Geologi, dan Pusdai. Gedung Sate, Lapangan Gasibu, Museum Pos, Taman Lansia, dan Taman Puspa Kandaga juga nggak jauh dari sini. Jadi, bisa banget tuh sekalian jalan-jalan ke sana.

Oya, katanya sih, tanggal 1-4 Maret ada kontes batu akik. Jurinya adalah para ahli yang kompeten. Yang nanti menjadi pemenang adalah yang mendapat nilai tinggi di delapan kategori, antara lain kejernihan batu, kesimetrisan bentuk, kekontrasan warna, keserasian, kealamian (natural), dan memiliki sertifikat resmi.


Pengunjung berjubel. Kebanyakan bapak-bapak, sih.
Jadi agak menyulitkan pengunjung bertubuh mungil seperti saya *uhukkk*
untuk puas-puas memandangi batu-batu akik yang indah itu.
Ketemu si Cepot di Festival Batu Akik. Aa Cepot mau beli batu akik, ya? :D
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...