16 March 2015

[Buku Saya Diresensi] Menyelami Kehidupan Seorang Anak Indigo

Peresensi: Linda Satibi

Friday, 12 September 2014 06:13

Tidak jarang ditemui pendapat awam bahwa anak indigo bisa disetarakan dengan cenayang. Ia memiliki kemampuan mengetahui dan melihat peristiwa yang akan terjadi. Juga kemampuan menyaksikan makhluk-makhluk gaib. Sebuah kemampuan istimewa yang mengasyikkan. Padahal anak indigo memiliki beberapa jenis, tidak semuanya memiliki kemampuan yang sama.


Menjadi seorang anak indigo, tidak selamanya menyenangkan. Kelelahan fisik dan batin kerap dirasakan. Seperti yang dialami Zhafira. Karena ia bisa berpindah tempat ke mana saja dan kapan saja, menembus dimensi dan waktu. Hal itu karena Zhafira adalah anak indigo tipe intradimensional. Sedangkan indigo tipe lainnya, yaitu konseptual, artistik, humanis, dan visi, tidak bisa melakukan itu, kecuali bila mereka mau berlatih (halaman 75).

Zhafira pindah ke Bandung mengikuti orangtuanya yang dipindahtugaskan. Ia bersekolah di SMAN 215. Saat hari pertama menjadi murid baru, Zhafira mendapat teman sebangku yang bawel dan lincah, bernama Keira. Ditemani Keira, Zhafira berkeliling sekolah, dan langsung merasakan aura hitam.




SMAN 215 memang disebut-sebut sebagai tempat yang cukup angker. Konon pada zaman Belanda, siswi sekolah itu yang bernama Sekar Ayu, mati bunuh diri di aula sekolah. Dan beberapa orang kabarnya pernah melihat sosok perempuan pribumi cantik bergaun putih di aula atau di koridor, dengan pisau menancap di perutnya. Ada juga yang kerap mendengar suara perempuan menangis.

Ketika pelajaran berlangsung di kelas, Zhafira acap tiba-tiba diserang kantuk hebat. Nadinya berdenyut lebih kencang, dan jantungnya mulai berisik seperti ada sesuatu yang menarik-narik tubuhnya. Sebuah medan magnet yang kuat dari kutub yang berbeda dengan kutub magnet tubuhnya memaksa Zhafira mengikutinya. Fisikal medan kuantum yang kuat di tubuhnya selalu membuatnya kesulitan mengendalikan diri agar tidak masuk ke dunia intradimensional (halaman 58). Saat berintradimensi, Zhafira mengalami pingsan.

Berada dalam tarikan kuat cahaya nila, sesungguhnya membuat Zhafira ingin melepaskan diri. Namun ia tak berdaya. Cahaya nila itu membawa sukma Zhafira menuju dimensi lain. Melewati labirin waktu. Perpindahan ruang, waktu, dan cahaya menimbulkan rasa nyeri di tubuhnya. Keringat dingin mengalir tanpa henti (halaman 59).

Pengalaman lain sebagai anak indigo, Zhafira bisa tiba-tiba berada di Kerajaan Pajajaran sekitar abad 15 – 16, lalu bisa juga terperangkap dalam hutan yang seram dan dikejar-kejar makhluk-makhluk mengerikan, kemudian pernah juga terlempar ke wilayah istana Pakungwati, Cirebon, saat pertempuran melawan bangsa Portugis, dan berbagai tempat serta suasana yang mencekam lainnya.

Suatu hari Zhafira berintradimensi ke SMAN 215 di masa lampau. Ia bertemu dengan Sekar Ayu. Ternyata Sekar Ayu mengetahui sebuah rencana pembunuhan oleh kompeni terhadap seorang tokoh pergerakan kemerdekaan. Ia berhasil mendapatkan bukti-bukti, namun sulit untuk menyerahkannya pada kelompok pergerakan. Nyawanya terancam, hingga akhirnya terbunuh. Entah itu dibunuh kompeni atau bunuh diri seperti yang digosipkan selama ini.

Zhafira berusaha mengurai kisah misterius itu. Ia minta bantuan Keira mencari info tentang sejarah sekolah dan hal-hal yang berkaitan dengan pergerakan kemerdekaan Indonesia pada masa itu. Selain googling, Keira kemudian sibuk keluar masuk perpustakaan






Seringnya terlempar ke berbagai tempat dengan suasana dan waktu yang tidak terduga, membuat Zhafira kelelahan. Ia ingin kemampuan indigonya bisa dihilangkan. Zha seperti manusia gasing saja, diputar kemudian dilempar ke mana-mana. Zha nggak bisa tenang. Zha pingsan di mana-mana. Zha makin aneh aja di mata orang (halaman 100).

Untunglah kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai dokter, memahami kondisi putrinya sebagai anak indigo. Mereka menghibur dan memberi dukungan moril agar Zhafira menerima dirinya apa adanya. Bahwa kemampuan indigo adalah karunia pemberian Tuhan. Tidak seorang pun dapat menahannya. Yang harus dilakukan Zhafira adalah bersyukur dan berhenti mengeluh. Dengan merasa ikhlas, maka hidup akan terasa lebih ringan dan tenang (halaman 101).

Melalui novel ini, pembaca akan mengetahui seluk-beluk seorang anak indigo. Bagaimana sikap orangtua bila mempunyai anak indigo, ditampakkan oleh ayah dan ibu Zhafira. Dukungan moril sangat dibutuhkan oleh anak-anak indigo. Kepada mereka harus ditanamkan bahwa keistimewaan yang diberikan Tuhan itu memiliki hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Namun anugerah itu hendaknya dapat diarahkan pada hal yang positif.

Demikian juga dengan latihan-latihan meditasi yang harus dilakukan oleh anak indigo. Hal itu perlu diingatkan orangtua, karena rasa jenuh terkadang menghinggapi mereka. Dunia astral dan makhluk-makhluknya yang menyeramkan bisa dihindari bila kemampuan mengendalikan diri selalu dilatih. Selain itu, tentu saja doa-doa harus terus dipanjatkan, agar senantiasa dilindungiNya dari marabahaya.

Dimensi, novel yang berkisah tentang anak indigo.

Data Buku
Judul              : Dimensi
Penulis           : Triani Retno A. & Rassa Shienta A.
Penerbit         : Elex Media Komputindo
Tebal              : 191 Halaman
ISBN              : 978-602-02-4423-5
Terbit             : Cetakan I, Agustus 2014



Link Asal
Novel Dimensi ini diresensi ole Linda Satibi di smartmomways.com. Terima kasih sudah meresensi novel ini, ya :) 


Salam,



Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...