09 March 2015

Memasak Praktis Ala Working Home Mother



Menjadi working home mother bukan berarti bisa berleha-leha. Banyak tuh yang berpikiran, "Wah, enak ya kerja dari rumah. Bisa santai-santai. Nggak kayak kerja di kantoran."

Di satu sisi, bekerja dari rumah memang santai. Sepengalaman saya, nggak perlu repot dandan, nggak perlu sibuk memadupadankan pakaian yang akan dikenakan, nggak perlu terkena macet di penjalanan menuju kantor, nggak perlu ngejar jam masuk kantor supaya nggak telat ngisi daftar hadir, dan sebagainya.

Di sisi lain, working home mother juga menghadapi tantangan tersendiri. Misalnya, saat sedang pusing menghadapi pekerjaan, anak-anak main kapal pecah, nyanyi entah apa dengan volume maksimal, minta atau bertanya ini-itu yang seringnya, sih, buat nyari perhatian doang. Atau ketika ada beberapa deadline pekerjaan di depan mata, anak-anak minta dibuatkan makanan kesukaan mereka. 


Well, bekerja dari rumah tidak berarti bisa bersantai-santai dan mengabaikan tanggung jawab profesional.


Stok Untuk Beberapa Hari 
Saya sendiri bukan jenis ibu yang betah beribet-ribet di dapur. Alasan saya sederhana. Saya orangtua tunggal yang harus mencari nafkah. Menghabiskan terlalu banyak waktu di dapur bisa membuat pekerjaan profesional saya terbengkalai.

Solusinya, jika sedang senggang saya mengolah satu bahan yang bisa dijadikan beberapa masakan. Yang paling gampang adalah ayam. Satu kilogram ayam bisa diolah menjadi beberapa jenis makanan sekaligus. Yang paling penting, bisa untuk persediaan makanan selama beberapa hari.


Biasanya, jika membeli satu kilogram ayam, saya membagi-baginya menjadi seperti ini: 
  •  3/4 bagian diungkep dan 1/4 bagian dibuat nugget, atau rolade, atau dipotong kecil-kecil untuk digoreng krispi dengan tepung.
  • 1/2 bagian diungkep dan 1/2 bagian dipepes.

Memasak pepes selalu mengingatkan saya pada novel Foolove. Naskah novel ini semula berjudul Pepesbukan.
Tentang Pepesbukan ini bisa dibaca di sini.

Bukan tanpa alasan jika saya suka mengungkep ayam. Dari satu kali mengungkep, bisa terhidang beberapa jenis makanan. Bumbu untuk mengungkepnya ini sendiri sederhana. Saya biasa menggunakan bawang merah, bawang putih, garam, kemiri, kunyit (semua diulek halus), lengkuas parut, plus serai dan daun salam. Kalau sedang repot banget, saya pakai bumbu siap pakai. Saya tinggal menambahkan lengkuas parut, daun salam, dan serai.
 
Setelah ayam ungkep itu matang dan dingin, simpan dalam wadah-wadah terpisah:
  • Ayam ungkep (tanpa kuah) disimpan di satu wadah.
  • Lengkuas parut (tanpa kuah) disimpah satu wadah. Boleh juga, sih, kalau mau dijadikan satu wadah dengan ayamnya, terutama kalau memang merencanakan untuk menggoreng ayam ungkep itu. Kalau berencana bukan sekadar menggoreng, lebih baik menyimpannya dalam wadah terpisah.
  • Kuah sisa mengungkep disimpan di botol. Gunakan botol bermulut besar, ya.
Tutup rapat semua wadah itu dan simpan di dalam kulkas. Nah, selama beberapa hari ke depan saya nggak perlu pusing kalau anak-anak minta ayam goreng serundeng, soto ayam, atau opor ayam. Dengan kuah sisa mengungkep ayam itu saya juga bisa memasak nasi kuning atau nasi kemangi. 

Oya, dalam keadaan dingin kuah ini terpisah menjadi tiga bagian. Bagian atasnya lemak yang beku, bagian tengahnya kuah yang jadi seperti jeli, dan sisa-sisa bumbunya ngumpul di dasar botol. Itu sebabnya lebih baik pakai botol yang mulutnya besar, supaya gampang ngeluarinnya.

Kuah sisa mengungkep ayam yang sudah disimpan di kulkas.


Olahan Praktis
Daging ayam yang tidak diungkep itu saya olah menjadi nugget atau rolade. Kalau sedang malas ya... saya potong kecil-kecil saya untuk digoreng krispi.

Untuk nugget, biasanya saya campur dengan wortel, sedangkan rolade diisi wortel dan buncis. Kadang-kadang saya sekaligus membuat nugget tahu atau tempe. Kan sekalian mengukus. Jadi, bisa lebih menghemat gas. Penghematan yang begini ini pentiiing banget buat saya mengingat harga-harga melesat naik, sedangkan penghasilan masih jalan di tempat.


Nugget ayam (wadah pink) dan ayam ungkep + lengkuas parut (wadah biru)

Rolade ayam. Hehe... posisi wortelnya salah, jadi aja mulutnya cemberut :D
Jika akan dihindangkan, rolade home made ini tinggal dihangatkan.
Numpang di rice cooker aja, biar irit. Hehehe... penting, ituuu.


Jika bosan makanan berbahan dasar ayam, saya biasa membeli ikan dan membumbuinya, lalu simpan di freezer. Satu-dua kali seminggu saya menyetok sayur-sayuran dan bahan pangan lainnya (jenis dan jumlah ditentukan oleh ketersediaan dana). Jadi, nggak perlu tiap hari berbelanja.

Dengan satu hari rempong menyetok bahan makanan home made begini, pada hari-hari lain saya bisa lebih berfokus bekerja sebagai editor lepas dan menulis novel-novel keren seperti ini:

Beberapa novel remaja dan preteen saya: Limit, Dimensi, Cermin, dan The Shy.

Baca Juga
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...