28 May 2015

Komentari Naskahku, Dong


Hampir semua penulis yang telah menerbitkan karyanya (terutama cerpen dan novel) pernah mendapat permintaan seperti ini: Komentari naskahku, dong.

Ada penulis yang langsung menanggapi dengan "Oke, kirim aja ke email saya." Namun, bagi sebagian penulis lainnya, permintaan ini seperti buah simalakama. Susah menjawabnya, euy.

Mau bilang oke, nyatanya nggak yakin akan sempat membaca naskah itu. Mau langsung bilang enggak... mendadak teringat nasib penulis lain yang di-bully di dunia maya karena menolak membaca dan mengomentari naskah seseorang. Dia khawatir akan di-bully juga kalau menjawab "nggak bisa baca dan ngasih komen".

Saya, juga beberapa penulis lain, pernah terang-terangan menulis di status medsos bahwa tidak bisa memenuhi permintaan seperti itu.


Bukan Sombong Tapi...
"Sombong! Mentang-mentang udah jadi penulis, nggak mau baca naskah penulis pemula!"

"Apa susahnya sih ngomentarin naskah gitu? Sok banget! Kayak novel dia paling keren sedunia aja!"

"Si A dong keren, mau ngomentari naskahku. Nggak kayak si B. Belagu banget tuh orang! Belum juga sengetop John Grisham"

Huffff... *tarik napas dulu bentar*

Bukan karena sombong jika ada penulis yang menolak membaca dan mengomentari naskah seseorang. Bukan pula karena yang menulis naskah itu masih pemula. Ada beberapa penyebab yang mendasarinya. Penyebab utamanya adalah waktu dan tenaga.

  • Dia harus menulis karyanya sendiri. Setelah karyanya di-acc, ada kemungkinan dia akan berhadapan dengan revisi. Bisa revisi kecil, bisa revisi mayor. Kalau sampai revisi mayor alias banyak yang mesti direvisi (dan dikasih waktu hanya beberapa hari pula), rasanya pusing pala betmen, deh. Setelah karyanya terbit, bukan berarti pekerjaannya selesai. Dia harus ikut aktif mempromosikan karyanya. 
Menulis adalah sebuah pekerjaan.
  • Dia harus bekerja. Seorang penulis juga harus bekerja untuk mencari nafkah. Ada yang fulltime bekerja sebagai penulis, ada yang menjalani pekerjaan lain. Usai bekerja (yang umumnya dari pukul 8 pagi sampai 5 sore) biasanya badan dan pikiran sudah lelah, inginnya istirahat.  Apalagi kalau sampai kerja lembur. Saya sendiri sih kerja freelance dari rumah tapi tetap saja, sekitar 10 jam saya gunakan untuk bekerja mencari nafkah. Berjam-jam kencan dengan laptop, terpapar sinar dari layar laptop dan hape. Serius, deh, abis itu badan capeeek. Mata pun pengen jauh-jauh dari layar laptop dan hape. 

Silakan baca di sini tentang kerja freelance.

  •  Dia harus mengurus keluarganya. Ada anak, suami atau istri yang harus diurus. Ada adik, kakak, orangtua yang harus diperhatikan. Ini juga butuh waktu, loh. Apalagi kalau single parent seperti saya. Kerja cari nafkah iya… ngurus keluarga juga iya. Kadang-kadang pas deadline kerjaan udah di depan mata (matanya mata panda pula) tau-tau ada undangan rapat dari sekolah anak-anak. Kalau udah gini, boro-boro deh sempat baca apalagi mengomentari naskah orang lain.
Selain ketiga penyebab itu, seorang penulis bisa saja menolak membaca dan mengomentari naskah temannya (atau orang yang sebenernya belum dikenal) karena jarang online atau karena masalah kesehatan. 

Membaca dan mengomentari naskah itu nggak 10 menit selesai, loh. Bisa berjam-jam, terutama kalau naskah itu berupa novel. 

Ke acara talkshow bareng Mas Boom Lebon aja sambil digelendoti anak, nih :D *foto lama*


Gimana Gue Bisa Jadi Penulis Kalo Gitu?
Ada yang protes kayak gini? Hehehe…. Kalau mau jadi penulis, ya kirimkanlah naskahmu ke penerbit, majalah, koran, production house (naskah skenario), atau sejenisnya. Publikasikan.

Tapi kan belum dibaca dan dikomentari sama penulis senior….

Jangan mempersulit diri sendiri. Kalaupun sudah dibaca dan dikomentari oleh penulis yang kamu anggap senior, itu bukan jaminan karyamu akan diterima. Banyak banget penulis yang sekarang eksis merintis jalan mereka dengan langsung mengirimkan naskah ke majalah, koran, atau penerbit. Ditolak itu sudah risiko. Belajar lagi, menulis lagi, membaca dan membaca buku-buku lagi, perbaiki lagi, kirim lagi. 

Kalau bersikeras harus dibaca dan dikomentari dulu, coba kamu ikut kelas-kelas menulis.

Tapi kan berbayar….

Ya. Anggap itu modal kamu, investasi kamu. Di kelas berbayar itu kamu bisa belajar banyak (dengan catatan, pilihlah guru yang mumpuni. Karya kamu pun akan dikomentari dengan teliti, ditunjukkan mana kelemahanmu dan apa yang harus kamu lakukan untuk memperbaikinya.

 Silakan baca: Belajar Menulis pada Ahlinya.


Tapi duitnya....
 
Nyari yang gratisan? Ada satu-dua penulis yang membuka kelas gratis dengan sederet persyaratan, salah satunya adalah keseriusan dan kesungguhan. Atau kamu bisa juga posting karya kamu (biasanya cerpen) di grup-grup penulisan untuk dikomentari. Beberapa grup penulisan seperti Kobimo dan FPBA memiliki jadwal khusus untuk bedah karya. Grup penulisan saya sendiri, Curhat Calon Penulis Beken, tidak menyediakan program ini. Seperti namanya, lebih berfokus pada curhat-curhat (dan sharing) seputar dunia menulis.

Di grup-grup yang ada jadwal bedah karya itu, karya kamu akan dibaca dan dikomentari oleh banyak orang sekaligus. Dari penulis senior banget, editor beken, penulis pemula, hingga penikmat buku. Komentarnya dari yang selembut sutra hingga setajam silet, dari yang semanis gula-gula hingga sepedas keripik Ma Icih level tertinggi.

Tapi…
Kalau masih banyak tapi-tapi, kamu nggak akan ke mana-mana. Kalau masih banyak tapi-tapi, mungkin minat kamu bukan di dunia menulis.


Maaf, Ya…
Jadi, maaf ya… saya tidak bisa memenuhi permintaan “baca dan komentari naskahku dong”. Sekadar tanya-tanya, sih, Insya Allah akan saya jawab. Kalau pertanyaannya butuh jawaban panjang (dan bukan cuma seorang yang nanya), biasanya saya tulis di blog ini. 

Tetap semangat menulis, ya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...