20 June 2015

Meet The Author di SMA PU Al Bayan Sukabumi



Tanggal 25 April lalu saya menjadi pembicara dalam acara Meet The Auhor di SMA PU Al Bayan Sukabumi. Acara ini diselenggarakan dalam rangka The World Book Day. Sekadar info, SMU PU Al Bayan ini adalah sebuah boarding school khusus cowok.




Perjalanan

Berangkat dari Bandung setelah shalat Ashar, rasanya badan teraduk-aduk dalam perjalanan ke Cibadak, Sukabumi. 

Well, sebenarnya saya kurang menyukai perjalanan pada malam hari. Tak adanya pemandangan yang bisa dilihat membuat saya merasa mual. Membaca buku atau online di ponsel hanya akan membuat saya semakin mual. Sekitar pukul sebelas malam, mobil SMA Al Bayan yang membawa saya dan putri sulung saya tiba di Hotel Sekar Wangi. Alhamdulillah. 


Esok paginya, sekitar pukul delapan Heni Fauzia, pustakawan SMA PU Al Bayan, menjemput ke hotel. Sekitar 20 menit perjalanan, kami tiba di tujuan. Wow. Lebih keren daripada foto yang saya lihat di internet.


SMU PU Al Bayan, hijau teduh :)

SMA Pesantren Unggul Al-Bayan, Sukabumi.
 


Perpustakaan SMA PU Al-Bayan. Ada beberapa novel saya di sana.
Salah duanya adalah Dimensi dan The Shy.



Meet The Author

Itu acaranya. Meet The Author. Isinya ngobrol-ngobrol santai seputar membaca dan menulis. Aula yang menjadi tempat acara masih sepi ketika saya tiba. Kursi-kursi yang tersusun rapi di sana pun masih kosong melompong. Memang masih setengah jam lagi dari jadwal. Sayanya aja yang pengin datang lebih cepat supaya bisa melihat-lihat dan foto-foto dulu. Hehehe….



Kakak adik ;)
 

Acara dibuka dengan dengan pembacaan Surat Al-Iqra ayat 1-5 dan sambutan dari Kepala Sekolah. Setelah itu, barulah acara inti, meet the author. Waktu udah duduk di depan, baru deh kelihatan kalau aula penuh dengan sekitar 200 siswa Al Bayan plus siswa SMA dan SMP sekitar yang diundang khusus untuk acara ini.

Pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan sambutan dari Kepsek SMA PU Al Bayan.


Karena ini bukan workshop atau sejenis itu, saya nggak bawa materi macam-macam. Saya cuma cerita tentang manfaat membaca dan menulis. Di antara manfaat itu adalah:
  • Mengurangi stres (Dr. David Lewis. The Journal of Psychosomatic).
  • Mengurangi risiko terkena alzheimer (Natural Academy of Science, Amerika Serikat).
  • Memberikan inspirasi (Raplh Wado Emerson).
  • Memicu imajinasi, menambah kosakata, mendorong introspeksi diri. (Jordan E. Ayan).


Dalam Islam pun membaca mendapat perhatian penting. Wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saw., pun adalah perintah untuk membaca. Iqra’. Bacalah.



 
acara-jumpa-penulis
Namanya obrol-obrol ya mesti nteraktif  dong :)



Lalu bagaimana  dengan menulis?


Seseorang yang gemar membaca belum tentu suka menulis. Namun, orang yang suka menulis sebaiknya gemar membaca. Kenapa? Yuuuk…kembali lagi pada manfaat membaca.


Untuk membangkitkan semangat teman-teman remaja ini dalam menulis, saya menampilkan beberapa slide berisi quote dari pada tokoh mengenai menulis. Salah satunya quote ini,



“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ~Pramoedya Ananta Toer~



Itu salah satu sebab R.A. Kartini lebih populer dibandingkan banyak wanita pejuang lainnya. Kartini menulis, sedangkan yang lain tidak. Karena tertulis, buah pikiran Kartini masih dapat dibaca hingga hari ini. 


Keterampilan menulis ini penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Bukan berarti harus menjadi penulis puisi, cerpenis, atau novelis. Menulis bukan hanya menulis fiksi. Menulis adalah keterampilannya. Apa yang ditulis silakan sesuaikan dengan minat dan bidang keahlian masing-masing. Dokter menulis, keren. Arsitek menulis, keren. Notaris menulis, keren. Ustaz menulis, keren. Guru menulis, keren. Buatlah tulisan dalam bidang ilmu yang dikuasai dengan bahasa yang mudah dipahami. Sekali lagi, belajar menulis nggak berarti harus menjadi penulis puisi, cerpen, atau novel.




Sesi Tanya Jawab

Ketika sesi tanya jawab dimulai, weeeew… banyak sekali yang mengacungkan tangan. Entah karena memang antusias ingin bertanya atau naksir doorprize di hadapan saya. Hehehe…. Untuk acara ini, Penerbit Elex Media Komputindo yang menerbitkan tujuh novel saya memberikan 10 buku anyar untuk doorprize. Salah satunya adalah serial terbaru saya dan kelima sahabat saya: Genk Kompor 3.
 
Doorprize dari Penerbit Elex Media Komputindo.
Buku Genk Kompor 3 jadi pilihan pertama. Horeee!



Eh tapi kayaknya memang karena antusias nanya, deh. Buktinya, setelah doorprize habis, teteeeeup banyak yang nanya sampai saya sesak napas. Hehehe.... Total ada 15 penanya dalam lima sesi dengan dua pertanyaan ditujukan pada putri saya.


Oya, saya memang sengaja membawa putri saya untuk menunjukkan bahwa siapa saja bisa jadi penulis. Nggak harus kuliah di Sastra dulu, nggak harus jadi orang dewasa dulu. Anak-anak juga bisa menjadi penulis. 


Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan umumnya sekitar mendapat inspirasi, nulis tapi nggak selesai, dan waktu yang paling baik untuk menulis.


Inspirasi bisa didapatkan dari mana saja. Dari sesuatu yang mengusik pikiran kita, dari peristiwa di sekitar kita, dari khayalan dan harapan kita, dari curhat teman, dan sebagainya.


Udah nulis sekian halaman trus nggak selesai? Kalau mentok banget, tinggalkan aja dulu bentar buat refreshing. Tapi jangan lama-lama, ntar keburu males. Kalau sering mentok gitu, ada baiknya di awal membuat kerangka tulisan (outline). Outline ini bukan patokan kaku. Fungsinya adalah sebagai pegangan supaya nggak bingung mau nulis apa. Dan yang nggak kalah penting, kuatkan tekad. Saya, sih, terus terang ngerasa sayang banget kalau udah nulis berhalaman-halaman trus nggak selesai.
 
Suasana saat tanya jawab.


Lalu, waktu yang paling baik untuk menulis? Nah, itu relatif sekali. Tiap orang punya prime time masing-masing. Ada yang suka dini hari, tengah malam, seusai shalat Subuh, sebelum tidur, dan sebagainya. Intinya sih, kalau tekad kita kuat, waktu bisa dicari deh. Kalau bisa ngobrol atau main gitar selama berjam-jam, masa buat nulis selama 10-15 menit aja nggak bisa? 


Eh, beberapa anak langsung bilang kalau mereka lebih suka dini hari setelah tahajud dan menunggu waktu Subuh tiba. Alhamdulillah.




Ogest

Ketika memperkenalkan aktivitas putri saya sewaktu jadi wartawan cilik, saya menampilkan foto salah satu narasumber yang pernah ia wawancarai. Namanya Ogest, mantan penyanyi cilik yang lumpuh karena penyakit Guillan Barre Syndrome (GBS). (Tentang Ogest, silakan baca di sini)

Dalam kondisinya yang serba terbatas, Ogest tetap berkarya. Ia tetap menyanyi dan menciptakan lagu. Caranya menulis lirik lagu pun tak seperti biasa. Hanya sebelah tangannya yang masih bisa digerakkan, itu pun sangat terbatas dan telapak tangannya terus mengepal. Ogest menulis lirik-lirik  lagunya dengan cara “meninju” ponselnya. 


Ogest saja bisa, kenapa kita yang masih dianugerahi kesempurnaan fisik masih mencari-cari alasan?
 
Si Kakak ketika mewawancarai Ogest tahun 2013.



Last but not least, senang banget berkesempatan datang, bersilaturahmi, dan ngobrol-ngobrol dengan teman-teman di  Sukabumi, Al Bayan khususnya. Sayang nggak sempat jalan-jalan di kompleks SMA keren ini karena harus ngejar travel untuk ke Bandung. Terima kasih banyak, yaaa. :)

***

Tentang Sukabumi, Baca Juga
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...