22 June 2015

Menulis Duet Jarak Jauh? Kenapa Tidak?



 Kalo nulis duet gitu, berarti harus sering ketemuan ya, Kak?”


Saya sering menerima pertanyaan seperti ini setelah novel Dimensi terbit. Yup, novel Dimensi ini saya tulis duet dengan teman saya, Rassa Shienta A. Apa kami pernah bertemu?


Hingga novel Dimensi terbit bulan Juli 2014, kami belum pernah bertemu langsung di dunia nyata. 


Saya tinggal di Bandung, Rassa tinggal di Palembang. Kami hanya bertemu di dunia maya.


Kok bisa nulis novel duet?


Ya bisa aja. Menulis duet jarak jauh? Kenapa tidak? Sekarang kita hidup di zaman teknologi komunikasi. Jarak tidak lagi menjadi penghalang. Ada email dan berbagai media sosial. Ada berbagai fasilitas chatting berbasis internet. Mengobrol lewat telepon pun bisa.


Dengan semua kemudahan teknologi komunikasi itu, menulis duet jarak jauh pun bukan kendala lagi. Ide cerita, pembentukan karakterisasi, membuat outline (penting nih kalau untuk nulis duet biar nggak ngelantur ke mana-mana), dan sebagainya kami lakukan melalui email, Facebook, SMS, dan telepon. (baca juga: Serunya Nulis Duet Novel Dimensi)


Saya sendiri sih beberapa tahun ini memang bekerja jarak jauh. Terima pekerjaan dari penerbit di berbagai kota melalui email, saya kerjakan di rumah Bandung, saya kirim kembali melalui email, lalu honor ditransfer melalui bank. 




Akhirnya Ketemu

Saya dan Rassa baru bertemu langsung pada awal bulan Mei 2015, sekitar 10 bulan setelah novel Dimensi terbit. Rassa sedang ada acara keluarga di Bandung. Jadi, bertemulah kami untuk pertama kalinya. 

Karena Rassa dan saudara-saudaranya mau jalan-jalan ke Pasar Baru, kami putuskan untuk bertemu di Alun-Alun Bandung yang hanya selemparan batu dari Pasar Baru. Alun-Alun Bandung ini juga berdekatan banget dengan Masjid Agung. Jadi, bisa sekalian shalat di sana. 

Kurang hebat apalagi coba, janjian ketemu perdana di Alun-Alun Bandung yang bak lautan manusia. :D
 
Dan bertemulah kami di bawah rintik hujan. Hehehe…. Bukan supaya terkesan seperti di film-film tapi beneran hujan tepat ketika selesai shalat Ashar. 



Akhirnya ketemu juga setelah celingukan kian kemari :D


Saat hujan masih rintik-rintik, kami meneruskan ngobrol sambil berjalan kaki ke Dalem Kaum. Beberapa meter Jalan Dalem Kaum memang diperuntukkan khusus bagi pejalan kaki.



Setahun setelah novel Dimensi terbit, baru deh kedua penulisnya ketemu perdana di dunia nyata.



Jln. Dalem Kaum masih basah sehabis diguyur hujan. Trus... maksa duduk di bangku basah?
Oh, enggak dong. sebelum kami ada seorang laki-laki duduk di situ. Setelah dia pergi, bangku yang tadi dia duduki
kan jadi kering. Hehehe... Itu sebabnya di foto-foto ini cuma saya atau Rassa yang duduk, nggak dua-duanya.
Teh kotak di meja itu bukan sponsor, tapi "peninggalan" laki-laki tadi. Saya bantuin mindahin ke tempat sampah aja, deh.
 

Sayang pertemuan kami hanya sebentar karena Rassa dan keluarganya masih ada acara lagi. Semoga lain waktu bisa bertemu lagi. Insya Allah.

*** 

Baca Juga

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...