23 June 2015

Penulis, Promosi, dan Foto-Foto



Ada yang beranggapan tugas penulis ya menulis. Udah. Titik. Jangan ditambah-tambahin lagi dengan mesti promosi apalagi jualan. Jualan? Ih, nista banget!


Uhuk! Emangnya beneran ada yang nganggap “penulis jualan buku itu nista”? Heuheu… saya pernah baca itu di komentar sebuah status yang melintas di timeline medsos saya.


Saya mah seneng-seneng aja jualan buku. Kalo nggak seneng, buat apa juga saya sampai bikin Teras Teera Toko Buku Online?




Bawa Buku ke Mana-Mana

Sebagai penulis, saya memang jauuuuhlah dibandingkan penulis-penulis beken pencetak bestseller seperti Pidi Baiq yang peluncuran bukunya membludak sampe yang mau minta tanda tangannya aja mesti ngantre panjang. Apalagi dibandingkan Asma Nadia, Dee, atau Andrea Hirata. Duh, saya ini apalah… apalah….


Meski begitu, saya tetap berusaha mempromosikan buku saya semampu saya. Salah satunya adalah dengan membawa buku saya setiap kali bepergian. Untuk apa? Hehehe… ya untuk foto-foto atuhlaaah. Oke, katakanlah saya narsis. Tapi sepertinya ini masih narsis di jalan yang benar.



Kadang-kadang saya menemukan lokasi yang keren dan cocooook banget buat memotret buku saya itu. Misalnya ini nih:


Ketika ada kerjaan di luar kota,  nemu lokasi yang pas buat motret nomic horor The Shy ini. :)



Seru bin Repot

Nah, foto-foto dengan buku di keramaian ternyata nggak mudah. Selain mesti nyiapin kecuekan di atas dosis normal, juga mesti tabah menghadapi faktor-faktor di luar kendali.


Misalnya foto ini, nih. Ini ceritanya saya dan si Kakak abis jalan-jalan si seputaran Alun-Alun Bandung. Tepatnya, abis ketemuan dengan Rassa, mitra duet saya dalam menulis novel Dimensi. Waktu itu, Rassa yang tinggal di Palembang sedang ada acara keluarga di Bandung. Setelah Rassa dan keluarganya meneruskan perjalanan, saya dan si Kakak memutuskan untuk pulang.


Tapi…eh tetapi… banyak spot menarik di seputar Alun-Alun Bandung yang sayang untuk dilewatkan. Salah satunya adalah gedung Kantor Pos dan gedung-gedung tua lainnya. Jadi, saya memutuskan untuk foto-fotoan sebentar dengan novel Dimensi. Bukan kebetulan, novel Dimensi ini berseting di Bandung, serta ada cerita tentang bangunan tua dan kehidupan di awal abad ke-20.

 
Usaha foto-fotoan di seputar Alun-Alun Bandung.

Udah pasang senyum dan pede maksimal mengacungkan buku, tiba-tiba….ada orang yang lewat tepat ketika si Kakak memencet tombol kamera. Oke, ulangi lagi.

Masih berusaha foto-fotoan di seputar Alun-Alun Bandung :D

Dengan semangat pantang menyerah, saya mulai senyum dan bergaya lagi. Tapi…senyum saya langsung berubah jadi meringis bete ketika seorang bapak tiba-tiba nongol dari belakang saya, bahkan menyenggol keras bahu saya. Ealah… Si Bapak tak merasa. Ia tetap heboh berbicara dengan istrinya sambil sibuk menunjuk-nunjuk.



Oke, ulangi lagi. Kali ini berkali-kali gagal karena si Kakak bentar-bentar ngakak tiap ingat si Bapak yang dengan watados menyenggol dan mengacaukan pemotretan tadi. Belum lagi banyak orang yang mondar-mandir di sekitar kami.


Setelah sekian kali berusaha, inilah hasil akhirnya :D



Foto ini pun hampir gagal karena si Teteh berjilbab abu-abu itu mendadak muncul dan memenuhi sisi kanan kamera. Ulang lagi? Inginnya sih begitu. Tapi langit yang semakin kelabu memaksa kami untuk segera pulang.



Jadi, pemotretan tadi gagal? Ah, saya mah nggak mengganggap begitu. Udah banyak orang yang lihat kaver novel Dimensi ini, kan? Nah, buruan beli di toko buku, ya. Saya salah satu penulisnya, loh. :D



***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...