16 July 2015

Berlebaran Secara Bijak Agar Tak Miskin Mendadak



Ketika memasuki minggu terakhir puasa, teman-teman saya mulai banyak yang menulis status seputar mudik dan THR. Saya? Hm… saya senyum-senyum aja, deh. Bagi saya, kedua hal tersebut tidak berlaku. 

"Lhooo, kenapa nggak mudik? Mudik, dong. Berlebaran di kampung halaman dengan orangtua dan saudara-saudara."
Hehehe… maaf seribu maaf. Lah, saya mau mudik ke mana? Di Bandung kan saya tinggal bersama orangtua. Yang ada, ketika Lebaran kakak-kakak dan keponakan yang mudik ke rumah orangtua saya.


Mau THR? Bikin Sendiri!

Selain mudik, eforia “dapat THR” juga tak berlaku bagi saya. Saya bukan karyawan di perusahaan mana pun. “Kantor” saya banyak tetapi saya bukan karyawan. 


Jelasnya, saya adalah seorang freelancer alias pekerja lepas. Dengan demikian, saya tidak termasuk kelompok orang yang mendapat THR dari perusahaan. Kalau mau THR, saya harus mengupayakannya sendiri. 

Saya yakin, tak cuma saya yang harus “menyediakan THR” untuk diri sendiri. Para pekerja lepas dan mereka yang bekerja di sektor informal pasti akrab dengan hal ini.


Ini Tantangannya

Nah, di sinilah tantangannya. Sebagai single parent dan freelancer, saya harus pintar-pintar mengatur dana yang ada agar tak amblas gara-gara ingin berlebaran secara meriah.


Bisa saja ketika menjelang Lebaran ada honor meluncur ke rekening saya tapi itu bukan alasan untuk membelanjakannya sesuka hati. Penghasilan freelancer sangat tidak tetap. Bisa jadi bulan ini dapat 10 juta, misalnya, tapi dua-tiga bulan berikutnya cuma dapat beberapa ratus ribu rupiah atau malah nol. Kalau tidak cermat mengelola keuangan, bisa berabe.


Lebaran Tanpa Miskin Mendadak

Lalu bagaimana supaya suasana Lebaran tetap menyenangkan tanpa membuat saya miskin mendadak setelahnya?

Setidaknya, ini yang akan saya lakukan.
  • Memantapkan dalam hati bahwa Hari Raya Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Sebulan digembleng untuk mengendalikan hawa nafsu. Sebulan dilatih untuk lebih peduli pada sesama, lebih berempati pada kaum dhuafa. Kalau saya berlebih-lebihan dalam merayakan Idul Fitri, berarti puasa saya belum sampai menyentuh maknanya. 
  • Menentukan pengeluaran khusus Lebaran. Sebenarnya tak terlalu banyak yang dipersiapkan untuk Lebaran. Hanya sedikit makanan, kue-kue, dan pakaian untuk anak-anak. Kebetulan saya bukan jenis orangtua yang setiap bulan membelikan pakaian baru untuk anak-anak. Jadi, tak ada salahnya membelikan yang baru untuk berlebaran (biasanya sih sudah mencuri start sebelum Ramadhan). Meski tak ingin berlebihan, harga sembako yang selalu melonjak di bulan-bulan ini membuat saya harus merogoh kocek lebih dalam.
  • Memisahkan dana untuk membayar zakat. Wah, jangan sampai deh berpuasa penuh sebulan tapi zakat (terutama zakat fitrah) tak dibayar.

Jika mendapat dana lebih menjelang Lebaran, akan langsung saya alokasikan sebagai berikut.
  • Untuk kebutuhan rutin (bayar telepon, listrik, dsb). Hari Raya memang istimewa, tetapi ada pengeluaran rutin yang tetap harus dibayarkan.
  • Untuk jalan-jalan. Karena anak-anak libur sekolah, perlu juga jalan-jalan begini. Nggak usah jauh-jauh. Di Bandung juga kan banyak tempat yang menarik untuk didatangi. Kalau sudah jalan-jalan, pasti ujungnya makan-makan.
  • Untuk tambahan modal toko buku online saya. 
  • Untuk tabungan.
  • Untuk cadangan buat bulan depan (antisipasi kalau bulan depan pemasukan sedikit).

Tabungan

Bicara tentang tabungan, saya memaksa diri berdisiplin. Caranya adalah dengan menabung di awal bulan melalui autodebit. Tabungan yang saya pilih adalah tabungan berjangka, yaitu tabungan pendidikan dan tabungan pensiun. Dengan autodebit ini, saya bisa meminimalkan risiko lupa menabung.


Bagi saya, tabungan berjangka ini penting untuk masa depan. Tabungan berjangka juga mencegah saya gatal tangan untuk menarik dana yang ada setiap saat. Dengan begitu, dana yang tersimpan akan relatif lebih aman dan bisa dipergunakan sesuai tujuan di masa depan.

Saat ini tak perlu repot mencari informasi tentang tabungan berjangka atau produk finansial lainnya. Kita bisa mencarinya melalui internet terlebih dahulu. Supaya lebih gampang, bisa buka situs www.cermati.com.


www.cermati.com akan membantu menemukan produk finansial terbaik. Produk-produk yang ditawarkannya memungkinkan kita dengan mudah melakukan perbandingan antara berbagai bank, untuk kemudian membuat keputusan yang paling tepat sesuai dengan situasi finansial dan kebutuhan kita.

Ada banyak produk di www.cermati.com. Dari tabungan biasa, tabungan berjangka, deposito syariah, hingga kredit pemilikan rumah. Tiap produk menghadirkan alternatif dari bank-bank ternama seperti BNI, BCA, dan Mandiri.

Produk-produk finansial di cermati.com

Alhamdulillah, saya sudah memiliki tabungan berjangka dari BNI. Namun, ketika melihat-lihat produk www.cermati.com, sepertinya saya tertarik membuka tabungan bisnis untuk toko buku online saya agar tidak tercampur dengan uang untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari. Karena usaha saya masih kecil-kecilan (saya biasa menyebutnya “usaha modal menyisihkan uang belanja”), saya mesti memilih yang setoran awalnya terjangkau.

 ***

Lebaran memang ditunggu-tunggu tetapi bukan berarti bisa bebas tanpa kendali. Pengendalian diri yang sudah dilatih selama sebulan berpuasa, akan diuji pada 11 bulan lainnya, dimulai dari saat Lebaran. Dan bijak finansial merupakan salah satu bentuk pengendalian diri itu.

***

Catatan: 707 kata.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...