26 September 2015

Resensi The Boarding

Catatan

Resensi ini saya kopas dari catatan Facebook Rena Puspa. Sudah izin, dong, sama kontributor Ummi Online ini. Sengaja saya kopas di sini untuk memudahkan saya menemukan kembali resensi atas novel-novel saya. Silakan berkunjung ke  FB Rena Puspa untuk membaca resensi aslinya. Mau main ke blognya? Boleeeh. Klik aja ini. Btw, makasih banyak atas resensinya, ya, Rena. :)



Resensi Novel The Boarding 

oleh: Rena Puspa


Judul        : The Boarding
Penulis      : Triani Retno A.
Penerbit    : PT Elex Media Komputindo
Terbit        : 2015
Tebal         :230 hlm.
ISBN         : 978-602-02-6890-3




Sinopsis


Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Tasya yang "mendadak" harus sekolah di pesantren karena keinginan kedua orang tuanya. Saat Tasya memutuskan untuk patuh pada perintah orang tuanya, maka resikonya adalah dia harus meninggalkan semua kehidupan lama nya yang penuh dengan hura-hura, termasuk semua sahabat lamanya.

Hidup di dalam pesantren untuk gadis seperti Tasya tentu bukan hal mudah, apalagi sebelumnya dia terbiasa hidup bebas tanpa aturan, sedangkan aturan main di dalam lingkungan pesantren begitu ketat. Disamping itu dia juga harus beradaptasi dengan teman-teman barunya yang tentu saja berbeda jauh karakternya dengan semua sahabat lamanya. 


Meski pesantren yang dipilih oleh kedua orang tuanya tergolong mewah, namun tetap saja Tasya merasa hidup di dalam penjara. "The Luxurious Jail", begitulah Tasya menyebutnya. Berbagai pemberontakan dia lakukan sebagai bentuk protes atas ketidaknyamanannya dengan semua yang ada di dalam lingkungan pesantren. Hampir setiap hari ada saja konflik yang dia buat dengan teman-temannya.


Hingga akhirnya masa liburan tiba, dan semua siswa mendapat kesempatan pulang ke rumahnya masing-masing. Tentu saja Tasya girang bukan kepalang, liburan bagi Tasya ibarat masa pembebasan dirinya dari penjara. Dia lalu mengontak semua sahabat lamanya untuk bertemu. Berbagai rencana hura-hura berputar-putar di dalam kepalanya.

Namun anehnya bayangan indah tentang apa itu kebebasan yang selama ini sering dia mimpikan, seolah terasa hambar saat semua benar-benar terwujud. Kembali hura-hura dengan semua sahabat lamanya, seolah membuatnya masuk dalam "penjara" yang sebenarnya. Apa itu ? Ya... penjara hawa nafsu. Tasya sama sekali tidak menduga bahwa terpenjara oleh hawa nafsu ternyata lebih menyesakkan dada. Mendadak dia bingung, mengapa hal yang dia anggap sebagai kebebasan terasa seperti penjara dan hal yang dia anggap penjara justru membuat dirinya merasa bebas. 




Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya ? apakah kebingungan Tasya itu menjadi pertanda hidayah sudah datang kepadanya ?  Semua bisa disimak langsung di novelnya yaa...




Review



Saat novel remaja digempur oleh tema percintaan, novel ini justru tampil berbeda, tema yang diusung penulis berkisah tentang persahabatan dalam lingkungan pesantren. Namun penulis tidak terjebak dengan klise, semua tokoh dibuat natural, apa adanya tidak hitam dan putih. 


Kisah perjalanan hidup seseorang mendapatkan hidayah setelah masuk pesantren mungkin sudah banyak bertebaran, namun dalam novel ini penulis berhasil membuatnya terasa berbeda. Tidak ada dramatis banjir airmata, semua dibalut dalam kata-kata yang mengalir ringan, kocak, menghibur tapi justru terasa lebih "mengena".

Dalam novel ini juga terselip hikmah bahwa makna persahabatan yang tulus justru bermula dari konflik. Betapa sederet konflik yang banyak dialami Tasya dengan teman-teman barunya di pesantren, ternyata mampu membuat dirinya paham tentang siapa dirinya dan siapa teman-temannya, sehingga dari sanalah akhirnya dia sadar, bahwa saat Islam dijadikan sebagai pedoman, semua perbedaan itu justru yang sanggup menyatukannya.


Sebuah novel yang layak dibaca, terutama bagi yang mendambakan nilai kebaikan tidak melulu harus tampil dalam balutan kalimat menggurui yang membosankan. 


***

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...