06 October 2015

Besar atau Kecil, Keuangan Tetap Harus Dikelola


Besar atau Kecil Keuangan Tetap Harus Dikelola -- Ada hal menarik menjelang Hari Raya Idul Fitri kemarin. Seperti biasa, di akhir bulan Ramadhan, ada surat dari DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) di kompleks saya mengenai zakat. Dalam surat itu ada poin zakat fitrah, zakat penghasilan, zakat mal, serta infak dan sedekah.


Poin mengenai zakat mal membuat saya langsung mencari informasi yang lebih lengkap mengenai nisabnya (batas minimal harta yang kena zakat).

Bagaimana dengan zakat penghasilan? Ah, kalau bicara  mengenai zakat penghasilan, saya sering termasuk kategori orang yang tidak wajib membayar zakat jenis ini. 

Sebagai penulis dan editor lepas, penghasilan per bulan saya tak tetap. Dalam 12 bulan, paling-paling hanya 3-4 kali penghasilan saya yang terkena wajib zakat penghasilan. Sisanya tidak wajib karena jumlahnya yang masih di bawah nisab.


Nah, bagaimana dengan zakat mal? Di luar dugaan, dengan penghasilan saya yang sering pas-pasan (bahkan terkadang dipas-pasin), ternyata saya tergolong orang yang wajib mengeluarkan zakat mal. Alhamdulillah.




Bagaimana Bisa?


Mungkin timbul pertanyaan seperti itu. Bagaimana bisa orang dengan penghasilan relatif kecil seperti saya wajib mengeluarkan zakat mal?


Saya katakan relatif kecil karena besar kecilnya penghasilan bernilai subjektif. Bagi si A, penghasilan Rp2.000.000 per bulan mungkin sangat kecil, cuma cukup untuk 2-3 kali hang out di kafe. Namun, jumlah yang sama bagi si B bisa jadi sudah sangat besar, dapat mencukupi kebutuhan keluarganya selama satu bulan. Yang saya jadikan patokan adalah laporan SPT Tahunan saya yang masih selalu nihil dan status saya yang belum wajib membayar zakat penghasilan.



Kembali ke pertanyaan tadi, bagaimana bisa?

Ternyata sangat bisa. Kuncinya adalah pada cara mengelola keuangan, pada cara merencanakan dan mengatur uang yang masuk agar tidak habis dalam sekejap untuk memenuhi keinginan konsumtif dan gaya hidup.




Perencanaan untuk Masa Depan


Saya mengikuti saran para pakar perencana keuangan, salah satunya adalah Safir Senduk, untuk mendahulukan menabung dan investasi minimal 10% persen ketika mendapat penghasilan. Sekian persen itu disisihkan di awal, bukan sisa dari uang yang telah digunakan untuk keperluan sehari-hari.


Alokasi dana tabungan di awal ini bukan berarti zalim terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari. Kecermatan perencanaan justru sangat dibutuhkan di sini. Berapa untuk kebutuhan sehari-hari (makan, transportasi, dan sebagainya), berapa untuk kebutuhan sekolah anak-anak (SPP, uang saku), berapa untuk tagihan rutin bulanan (listrik, telepon, air, kebersihan), berapa untuk tabungan. Dengan mengetahui besaran untuk setiap pos ini, kita dapat menentukan berapa yang dialokasikan untuk tabungan dan investasi setiap bulannya.


Saya sendiri mengalokasikan sekitar 30% dari rata-rata penghasilan bulanan  untuk pos-pos berikut ini.

  • Tabungan pendidikan untuk dua anak.
  • Tabungan pensiun.
  • Tabungan haji.
  • Asuransi.

Kadang-kadang memang terasa berat, terlebih karena penghasilan saya yang tak menentu. Ada kalanya mendapat lebih dari Rp 10 juta per bulan, ada kalanya hanya mendapat  Rp 100.000,- per bulan.


Namun, justru dengan rentang penghasilan yang sangat fluktuatif seperti itulah menabung menjadi suatu keharusan. Jangan sampai berfoya-foya ketika ada penghasilan lebih dalam satu bulan. Kelebihan itu masuk ke rekening tabungan yang saya sebut sebagai "tabungan jaga-jaga". Jaga-jaga jika bulan depan jumlah uang masuk berada di bawah garis kemiskinan.

 

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah minimalkan berutang. Untungnya, tak ada utang yang harus saya cicil tiap bulannya. Tetangga kiri-kanan bermobil bagus tapi saya tak tergoda untuk memiliki yang serupa, apalagi dengan cara mencicil. Kalau kata Safir Senduk, "Buat apa membayar lebih untuk barang yang nilainya terus menyusut?" Nasihat yang sama saya terapkan pada kepemilikan barang-barang elektronik dan gadget

  

Demi Masa Depan yang Lebih Baik


Dulu saya pikir investasi ini harus besar. Ternyata pikiran saya salah. Saat ini banyak lembaga keuangan menawarkan tabungan berjangka dan investasi dengan setoran bulanan yang terjangkau. Sebut saja tabungan pendidikan yang bisa dibuka dengan setoran awal dan setoran bulanan sebesar Rp 100.000,-. 



Bila tak dikelola dengan baik, penghasilan besar akan seperti keran bocor. Uang masuk, langsung habis untuk pemenuhan keinginan konsumtif. Sebaliknya, penghasilan kecil yang dikelola dengan baik akan menghasilkan aset untuk masa depan. Akumulasi aset inilah yang memungkinkan si penghasilan kecil menjadi seseorang yang wajib mengeluarkan zakat mal.


Tentu saja, untuk ini kita harus memilih lembaga keuangan yang tepercaya dan memiliki reputasi baik. Sun Life Financial Indonesia merupakan salah satu lembaga keuangan yang memiliki track record positif seperti ini. Memiliki misi membantu keluarga Indonesia mencapai kesejahteraan dengan kemapanan finansial, Sun Life menawarkan jasa konsultasi perencanaan keuangan serta beragam produk finansial yang memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Cermatlah dalam memilih. Salah pilih lembaga keuangan, bisa-bisa malah merugikan kita sendiri. Kita bisa belajar dari kasus-kasus investasi bodong yang diangkat oleh media massa. Gara-gara tergiur keuntungan besar, dana yang dikumpulkan dengan susah payah untuk masa depan malah hilang tak berbekas.

Nah, sudah siap mengalokasikan penghasilan untuk tabungan dan investasi? Tak usah menunggu berpenghasilan belasan juta rupiah sebulan untuk mengelola keuangan. Mulailah dari sekarang. Besar atau kecil, keuangan harus  dikelola.

***  

Tulisan ini diikutsertakan dalam Sun Anugerah Caraka
Kompetisi Menulis Blog 2015

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...