06 November 2015

[Buku Saya Diresensi] Titik Balik Santri Jail

Peresensi: Muhammad Rasyid Ridho,
Pegiat di Bondowoso Writing Community


Dimuat di harian Singgalang, 4 Oktober 2015.


Tasya adalah anak orang kaya yang tinggal di Jakarta. Kebiasaan sehari-hari adalah berkumpul dengan teman-teman SMPnya bahkan dugem sampai larut malam. Orangtua Tasya, berbeda dengan orangtua kaya lainnya, mereka perhatian sekali dengan masa depan anaknya. Mereka memilihkan sekolah yang baik untuk Tasya, tidak hanya untuk dunia tetapi juga akhiratnya. Sekolah pilihan orangtua Tasya setelah lulus SMP, adalah Boarding School yang terletak di pinggiran Bogor.



Tasya menolak untuk disekolahkan di Boarding School. Bukan hanya karena terletak jauh dari Jakarta dan di pinggiran Bogor, di Boarding School dia tidak bisa membawa ponsel, sehari semalam teman-temannya itu saja, dan tentu saja dia tidak bisa pacaran dan dugem. Tetapi mau gimana lagi, dia sudah didaftarkan untuk sekolah di Boarding School oleh orangtuanya (halaman 10).


Setelah menjadi santri di Nurul Iman Boarding School (NIBS), dia bertemu dengan berbagai macam anak dari berbagai latar belakang dan daerah. Dengan fasilitas yang serba lengkap Nurul Iman Boarding School adalah sekolah dengan biaya yang tidak sedikit. Tasya menjulukinya dengan The Luxurius Jail (sebuah penjara yang mewah) (halaman 12). Karenanya banyak anak orang kaya yang sekolah di sana, kecuali anak-anak yang mendapatkan beasiswa penuh adalah anak yang berprestasi namun hidupnya berkekurangan.

Di antara anak kaya yang sekamar dengan dengan Tasya adalah Astri dan Sarah. Astri adalah anak kaya dari Jakarta yang tidak bisa diam dan selalu ceria dan Sarah adalah bule berdarah campuran Indonesia-Jerman yang entah mengapa nyasar sekolah ke pesantren modern. Sedangkan, anak miskin yang mendapat beasiswa penuh adalah Dini, anak Wonogiri Jawa Tengah yang pendiam (halaman 23).

Tasya tidak kerasan di NIBS, namun dia tidak bisa pulang karena pasti akan dimarahi oleh orangtuanya. Akhirnya, sebagai pelampiasan dia menjadi santri yang suka merusuh. Dia sering mengganggu Dini yang dia anggap sombong karena pintar dan Tasya menganggap Dini tidak layak sekolah di NIBS karena Dini miskin. Begitu setiap harinya, pelanggaran demi pelanggaran Tasya lakukan, dan puncaknya yang paling luar biasa adalah Tasya shalat sambil mendengar musik dengan menyetel mp3 player (halaman 77).

Ketika pulang liburan ada kejadian yang menjadi titik balik Tasya untuk berubah menjadi lebih baik. Tasya janjian dengan teman-teman SMPnya dan mereka pergi ke tempat dugem. Teman-teman Tasya bersama pacar-pacarnya, sedangkan Tasya sendirian. Tasya sudah biasa dugem, tetapi kelakuan teman-teman Tasya yang dengan leluasanya berpelukan dan berciuman mesra saat dugem, membuat Tasya sadar bahwa apa yang dia lakukan hari itu salah. Dia pun meninggalkan tempat dugem dan ketika kembali ke NIBS semakin hari terus berubah menjadi baik.

Begitulah, novel karya Triani Retno ini ringan namun memberi makna bagi pembaca. Retno, melalui tokohnya menyadarkan pembaca bahwa ada saatnya manusia akan mengalami kesadaran melalui kejadian-kejadian yang kadang tidak disangka. Selain itu, Retno juga memberi pelajaran bahwasanya, kejahatan sebaiknya tidak dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya, melalui tokoh Dini, Retno mengajak pembaca agar membalas kejahatan dengan kebaikan dan mendoakan pelaku kejahatan agar mendapat hidayah dari Allah (halaman 90). Maka tak pelak, jika novel ini direkomendasikan untuk Anda baca, semoga tidak hanya terhibur namun juga bisa mengambil makna yang terselip di dalamnya. Selamat membaca!


Data Buku
Judul               : The Boarding
Penulis             : Triani Retno A.
Penerbit            : Laiqa-Elex Media Komputindo
Tahun Terbit      : Cetakan I, Juli 2015
Jumlah Halaman : 230 halaman
ISBN                  :  978-602-02-6890-3
 

Resensi ini juga bisa dibaca di blog milik Ridho. Klik aja di sini.




Komentar di Goodreads


Berikut ini komentar Ridho di Goodreads.

"Meski saya nggak baca versi lamanya, memang asyik nih karya Mba Eno yang satu ini. Apalagi saya juga pernah mondok, jadi ngeh dan terasa banget dengan cerita yang ada dalam novel ini. Ada cerita-cerita yang seakan saya nostalgia sewaktu di pondok. Salah satunya antri saat makan :)

Buku ini menceritakan kisah santriwati yang mondok di sebuah Boarding School atau pesantren modern gitulah. Konfliknya ya sekitaran santri ya dengan sesama santri, dengan keluarga atau bahkan dengan diri sendiri. Banyak hikmahnya nih novel keren! Apalagi kalau Mba Eno nggak pernah nyantri tapi bisa membuat suasana pesantren hidup, keren deh!

Kalau santri pernah mondok? Baca buku ini dan selamat bernostalgia! :D
Kalau kamu nggak pernah nyantri, dan pengen tahu sekelumit kisah santri, baca novel ini deh ya! :D "


***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...